Hari Sabtu adalah hari yang diklasifikasikan oleh Reno sebagai "Jendela SLA Logistik Ayah". Sesuai dengan Perjanjian Penyelesaian Perceraian setebal empat puluh halaman yang ditandatangani kedua orang tuanya, Prasetya Wirawan memiliki hak asuh kunjungan setiap akhir pekan pada minggu genap.
Siang itu, Reno duduk di atas sofa sectional abu-abu minimalis di unit Kos Eksklusif seharga dua puluh juta per bulan yang kini menjadi markas baru ayahnya. Tempat ini sangat steril. Tidak ada jejak estrogen, tidak ada botol-botol skincare yang berserakan, dan tidak ada dekorasi yang tidak memiliki fungsi pragmatis. Semuanya bersudut tajam, efisien, dan dingin.
Prasetya duduk di kursi ergonomic Herman Miller-nya, menghadap layar ganda yang menampilkan grafik pergerakan saham dan deretan email korporat. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard mekanikal. Secara fisik, pria itu berada di ruangan yang sama dengan Reno. Namun secara mental, Prasetya berada di dalam boardroom virtual antarkota.
Reno menatap punggung ayahnya dalam diam. Anak laki-laki berusia tujuh tahun itu tidak merasa diabaikan. Pengabaian membutuhkan ekspektasi akan perhatian, dan Reno sudah lama menghapus ekspektasi itu dari sistem logikanya.
Saat ini, Reno memiliki sebuah objektif proyek baru: sebuah perangkat Alienware Aurora R15 Custom Build dengan kartu grafis RTX 4090 dan prosesor tertinggi, lengkap dengan monitor lengkung ultrawide. Harga total estimasi: Rp 120.000.000,-.
Jika ia meminta secara langsung, Prasetya akan menerapkan "Kalkulasi ROI (Return on Investment)". Ayahnya akan berkata, "Apa nilai tambah dari PC seratus dua puluh juta untuk anak kelas dua SD? Kalau kamu bisa mempresentasikan bagaimana PC itu bisa menghasilkan profit dalam tiga bulan, Papa akan mempertimbangkannya."
Reno tahu, pendekatan logika frontal akan gagal.
Ia butuh metode lain. Dan selama satu tahun terakhir mengamati perang saudara di rumah lamanya, Reno telah mempelajari sebuah teknik manipulasi tingkat tinggi yang sering digunakan oleh ibunya. Sebuah taktik memutarbalikkan fakta, memanipulasi rasa bersalah, dan menyerang ego sasaran hingga mereka dengan sukarela menyerahkan apa yang diinginkan si manipulator, sambil berpikir bahwa itu adalah ide mereka sendiri.
Gaslighting.
Reno menarik napas panjang. Ia menggeser postur tubuhnya, menurunkan bahunya agar terlihat lebih kecil dan ringkih. Ia memfokuskan pikirannya pada sesuatu yang menyedihkan untuk memicu sedikit kelembapan di pelupuk matanya. Ia menyiapkan micro-expression yang tepat: bibir sedikit bergetar, tatapan nanar ke lantai. Ia berubah dari seorang analis data cilik menjadi korban perceraian yang trauma.
"Papa," panggil Reno. Suaranya diatur pada desibel rendah, sengaja dibuat terdengar ragu dan takut.
Prasetya tidak menoleh, matanya masih terpaku pada layar monitor. "Ya, Ren? Butuh sesuatu? Makan siang sudah Papa pesankan lewat aplikasi, sebentar lagi sampai."
"Bukan itu, Pa," sahut Reno, membiarkan keheningan menggantung selama tiga detik penuh. Jeda yang cukup untuk memaksa Prasetya akhirnya melepaskan tangannya dari keyboard dan memutar kursinya.
Prasetya mengernyit melihat postur putranya. "Ada apa? Kamu sakit?"
"Tidak," Reno menunduk, memainkan ujung kemejanya. Ia meniru persis gestur Arini ketika wanita itu sedang bersiap melancarkan serangan pasif-agresif. "Hanya saja... akhir-akhir ini aku sering berpikir tentang apa yang Mama katakan."