PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #51

Bab 51

Pukul 23:45 WIB. Hujan mengguyur Jakarta dengan konstan, mengubah kota metropolitan itu menjadi kanvas kelabu yang buram dari balik kaca jendela lantai tinggi.

Di lantai 32 Apartemen Residence 8 Senopati, Arini Prameswari duduk bersila di atas karpet bulu sintetis buatan Swedia. Di hadapannya berdiri sebuah ring light berdiameter 45 sentimeter yang memancarkan cahaya putih kebiruan. Terangnya menyilaukan, menghapus setiap bayangan di wajahnya, seolah berusaha menghapus setiap cela dari eksistensinya.

Di lantai 15 Kos Eksklusif The Capital Setiabudi, Prasetya Wirawan duduk terpaku di kursi ergonomic hitamnya. Di hadapannya, tiga buah monitor lengkung menyala terang. Grafik fluktuasi pasar, deretan spreadsheet dengan ribuan sel yang rumit, dan email dari para shareholder memantulkan pendar cahaya hijau dan merah ke kacamata anti-radiasinya. Cahaya itu steril, fungsional, tak memiliki kehangatan sama sekali.

Arini memegang iPhone 15 Pro Max terbarunya. Jemarinya dengan lincah menggeser timeline aplikasi video editing. Ia sedang menyusun klip-klip pendek untuk konten TikTok terbarunya yang bertajuk: "Malam Pertama di Apartemen Baru: Menemukan Diri Kembali Setelah Toksisitas." Ia memasukkan efek slow-motion saat ia menuangkan kopi, menambahkan filter pencerah kulit, dan menyematkan lagu indie akustik yang trending. Matanya mencari-cari angle transisi yang paling dramatis, metrik yang paling menjanjikan engagement.

Prasetya menggenggam mouse nirkabelnya. Telunjuknya memutar scroll wheel tanpa henti, memindai laporan performa anak perusahaan di kuartal ketiga. Kolom-kolom revenue, EBITDA, dan operating profit margin berjejer rapi. Angka-angka itu merepresentasikan jutaan dolar, bukti tak terbantahkan dari dominasinya sebagai seorang direktur. Ia menyorot beberapa baris yang mengalami defisit dengan kursornya, bersiap mengetik email teguran keras kepada para manajer di bawahnya. Matanya mencari efisiensi maksimal, pemotongan pengeluaran yang tidak perlu.

"Hai, bestie," Arini berbisik ke arah mikrofon yang disambungkan ke ponselnya, merekam voice over (sulih suara) untuk videonya. "Ada kalanya kita harus melepaskan apa yang membunuh kita secara perlahan. Ruang baru ini... terasa kosong pada awalnya. Tapi, kesunyian ini adalah suara kemerdekaanku." Ia memutar ulang rekamannya. Suaranya terdengar lembut, sedikit bergetar karena emosi yang diatur sedemikian rupa, memproyeksikan citra kemartiran yang elegan. Ia yakin, video ini akan mendulang simpati dari ratusan ribu pengikutnya.

Lihat selengkapnya