Dr. Karina Soediro menggeser kacamata bacanya yang berbingkai kawat tipis. Sebagai kepala psikolog klinis di SD Internasional Pelita Harapan Bangsa selama lima belas tahun, ia telah menghadapi hampir semua variasi trauma masa kanak-kanak yang bisa ditawarkan oleh kaum elit Jakarta.
Ia telah menangani anak-anak dari keluarga konglomerat yang menderita eating disorder karena tuntutan kesempurnaan fisik, anak-anak pejabat yang melampiaskan stres melalui bullying, hingga kasus klasik: anak-anak yang hancur berkeping-keping akibat perang ego orang tua dalam proses perceraian.
Pagi ini, sebuah map manila dengan label "Reno Wirawan - Evaluasi Observasional" tergeletak di atas meja kayunya yang terbuat dari kayu jati solid.
Laporan awal dari wali kelas Reno, Miss Tika, sangat mengkhawatirkan. Reno dilaporkan menunjukkan perubahan perilaku yang drastis. Dari seorang anak yang relatif pendiam, kini menjadi sangat tertutup, antisosial, dan memiliki obsesi yang tidak sehat terhadap "uang dan transaksi" di lingkungan teman sebayanya. Miss Tika curiga bahwa perceraian Prasetya dan Arini Wirawan—sebuah drama publik yang cukup santer dibicarakan di kalangan orang tua murid—telah memberikan dampak psikologis yang destruktif pada anak itu.
Pintu ruang konseling yang kedap suara itu diketuk pelan.
"Masuk," ucap Dr. Karina lembut.
Pintu terbuka, dan Reno Wirawan melangkah masuk. Dr. Karina langsung menyalakan radar analitiknya. Observasi pertama: Postur tubuh. Bahu Reno melengkung ke bawah. Kepalanya tertunduk, matanya terpaku pada ujung sepatunya, seolah menghindari kontak mata secara sengaja. Langkahnya diseret pelan, mengindikasikan keengganan dan rasa tidak aman (insecurity) yang masif. Kedua tangannya disembunyikan di dalam saku celana seragamnya, sebuah gestur klasik yang menunjukkan upaya membangun perisai perlindungan diri.
Buku teks, batin Dr. Karina, mencatat dalam pikirannya. Ini adalah presentasi klinis yang sangat klasik untuk anak yang mengalami sindrom pengabaian pasca-perceraian.
"Halo, Reno. Selamat pagi," sapa Dr. Karina dengan nada suara motherly yang telah dilatihnya selama bertahun-tahun untuk menurunkan defensi anak-anak. "Silakan duduk. Kamu mau duduk di kursi, atau di karpet dekat mainan balok itu?"
Reno tidak langsung menjawab. Ia berdiri diam selama empat detik penuh—sebuah jeda yang menurut Dr. Karina menunjukkan proses processing kognitif yang terhambat akibat kecemasan. Akhirnya, anak laki-laki itu berjalan tertatih dan duduk di pinggir sofa kulit, memakan ruang sesedikit mungkin. Ia tampak seolah ingin menghilang dari ruangan itu.
"Di sini saja, Dok," suara Reno nyaris tak terdengar, bergetar di ujungnya.
Dr. Karina tersenyum simpatik. Ia beranjak dari kursi kebesarannya dan ikut duduk di sofa, menjaga jarak aman agar tidak terlihat mengintimidasi. Ia meletakkan selembar kertas HVS kosong dan sekotak krayon 48 warna di atas meja kaca di depan mereka.
"Miss Tika bilang, kamu akhir-akhir ini sering melamun di kelas," Dr. Karina memulai dengan teknik pendekatan tidak langsung. "Boleh kita menggambar bersama? Ibu ingin kamu menggambar keluargamu. Siapa saja yang sedang melakukan sesuatu. Apa saja boleh."
Tes KFD (Kinetic Family Drawing) adalah senjata andalan Dr. Karina. Gambar seorang anak sering kali mengungkapkan lebih banyak kebenaran bawah sadar daripada ribuan kata yang diucapkan.
Reno menatap kertas putih itu cukup lama. Dr. Karina memperhatikan bagaimana jakun anak itu naik turun menelan ludah. Perlahan, Reno mengambil krayon berwarna hitam—pilihan warna yang langsung diklasifikasikan Dr. Karina sebagai indikator depresi atau pandangan dunia yang pesimis.
Selama lima belas menit berikutnya, hanya terdengar bunyi gesekan krayon di atas kertas. Reno menggambar dengan ketelitian yang aneh.
Ketika Reno selesai dan meletakkan krayonnya, Dr. Karina mencondongkan tubuhnya untuk menganalisis hasilnya. Napas psikolog senior itu sedikit tertahan.