Ruang guru SD Internasional Pelita Harapan Bangsa pada pukul tiga sore biasanya adalah tempat yang riuh. Para pengajar sibuk mengemasi barang, bertukar cerita tentang tingkah laku murid-murid eksentrik, atau sekadar mengeluhkan revisi kurikulum terbaru. Namun sore ini, Tika—wali kelas 2A—duduk sendirian di mejanya, terisolasi dalam kepompong keheningan yang ia ciptakan sendiri.
Di atas mejanya yang tertata rapi, tergeletak sebuah map plastik tebal berwarna biru tua. Map itu memiliki stempel rahasia medis dari Departemen Psikologi Sekolah. Di sudut kanan atasnya, tercetak sebuah nama yang akhir-akhir ini menjadi sumber sakit kepalanya yang konstan: Reno Wirawan.
Tika menatap map biru itu seolah benda itu mengandung material radioaktif. Ia telah menjadi pendidik selama delapan tahun. Instingnya dalam membaca dinamika anak-anak jarang sekali meleset. Ia bisa membedakan mana anak yang nakal karena mencari perhatian, mana anak yang agresif karena meniru orang tua, dan mana anak yang benar-benar mengalami luka batin.
Namun Reno... Reno adalah teka-teki silang yang semua kuncinya ditulis dalam bahasa sandi yang tak ia mengerti.
Beberapa hari yang lalu, Tika menemukan sebuah transaksi kotor di belakang toilet sekolah. Reno, dengan wajah sedatar tembok beton, sedang menerima bayaran dalam bentuk kartu Pokémon edisi terbatas dari seorang murid kelas tiga. Imbalannya? Reno memberikan "bocoran" tentang kelemahan psikologis anak kelas empat yang sering merisak murid tersebut. Reno bahkan menasihati anak kelas tiga itu tentang cara memanipulasi rasa bersalah si perisak. 'Gunakan kalimat yang menyerang egonya, bukan fisiknya,' begitu kata Reno saat itu.
Tika merinding mengingat kejadian itu. Ia melihat seorang sosiopat cilik yang membangun kekaisaran mikro berbasis informasi dan kelemahan emosional orang lain. Bukan seorang anak yang sedang berduka. Itulah sebabnya ia mengirim Reno ke Dr. Karina Soediro, berharap psikolog senior itu bisa menembus dinding pertahanan Reno dan mengungkap akar dari perilaku manipulatifnya yang mengerikan.
Namun, laporan di dalam map biru ini menceritakan kisah yang sama sekali berbeda.
Tika menarik napas panjang, membuka map itu, dan membaca laporan evaluasi Dr. Karina untuk ketiga kalinya.
"Pasien menunjukkan gejala klinis yang sangat jelas dari trauma pengabaian emosional (emotional neglect) yang parah, yang dipicu oleh konflik perceraian kedua orang tuanya (Prasetya & Arini Wirawan)."
Alis Tika berkerut. Pengabaian emosional? Tentu, ia tahu keluarga Wirawan sedang hancur lebur. Drama perceraian mereka menjadi gosip hangat di kalangan komite sekolah. Tapi pengabaian? Reno tidak pernah terlihat seperti anak yang kekurangan kasih sayang secara fisik. Bekalnya selalu disiapkan (meskipun oleh asisten rumah tangga), seragamnya selalu rapi, dan fasilitasnya selalu kelas satu.
"Dalam observasi Gambar Keluarga Kinetik (KFD), Pasien menggambar figur dirinya dalam ukuran yang sangat kecil, tidak bermulut, dan terisolasi dari figur kedua orang tua. Figur ayah digambar membelakangi (rasionalitas dingin), figur ibu digambar tanpa mata (narsisme/fokus pada media sosial). Ini mengindikasikan alienasi psikologis akut."
Tika mengetukkan ujung pena merahnya ke meja. Tidak bermulut? Terisolasi? Ingatan Tika kembali pada insiden kartu Pokémon. Anak yang ia lihat hari itu memiliki mulut yang sangat tajam, merangkai kalimat manipulatif dengan presisi seorang pengacara korporat. Anak itu tidak terisolasi; anak itu justru sedang membangun jaringan dominasi.
"Pasien mengungkapkan bahwa ia menggunakan 'bahasa transaksional' dan menuntut barang-barang mahal (seperti PC Alienware) sebagai mekanisme koping. Pasien mengira bahwa dengan mengadopsi bahasa materialistik ayah dan ibunya, ia bisa memenangkan kembali perhatian mereka. Ini adalah bentuk parentifikasi dan distorsi kognitif yang memilukan."