Ruangan Bu Dokter Karina wangi peppermint. Reno suka wangi itu, tapi dia tidak suka udaranya yang terlalu dingin. Dia duduk di kursi yang paling besar, kakinya menggantung tidak menyentuh lantai. Sepatunya diayun-ayunkan pelan, menghitung ubin di lantai. Satu, dua, tiga...
Di sebelah kirinya ada Mama. Mama wangi bunga mawar dan bedak mahal. Mama duduk tegak sekali, tangannya memegang tas merek Hermes erat-erat seperti sedang memegang perisai. Di sebelah kanannya ada Papa. Papa wangi kopi dan baju yang baru di- laundry. Papa terus-terusan melihat jam tangannya yang berkilau.
Reno tahu apa arti gerakan-gerakan itu. Kalau Mama memegang tasnya erat-erat, berarti Mama sedang gugup dan siap berdebat. Kalau Papa melihat jam tangannya lebih dari tiga kali dalam semenit, berarti Papa sedang menghitung waktu yang terbuang dari pekerjaannya.
Dulu, Reno tidak mengerti kenapa Papa dan Mama selalu bertengkar. Tapi semenjak mereka pisah rumah, Reno mulai paham. Mereka itu seperti karakter di game duel. Papa pakai jurus 'Uang dan Aturan', Mama pakai jurus 'Air Mata dan Penonton'.
"Bapak Prasetya, Ibu Arini," suara Bu Dokter Karina terdengar berat. "Saya memanggil Anda berdua bukan karena nilai Reno jelek. Saya memanggil kalian karena Reno sedang mengalami kehancuran sistem emosional."
Reno menunduk. Dia tahu adegan ini akan datang. Dia sudah bersiap-siap dari tadi malam. Dia sengaja tidak tidur sampai jam dua belas malam supaya matanya terlihat merah dan berkantung.
"Sistem emosional?" suara Mama melengking, persis seperti kalau Mama sedang membaca komentar haters di Instagram. Mama langsung merangkul pundak Reno, tapi tarikannya terasa kaku dan dipaksakan. "Maksud Dokter apa? Reno baik-baik saja! Saya selalu bawa dia jalan-jalan setiap weekend. Kemarin kami baru dari Kidzania, saya juga post fotonya, dia ketawa kok! Semua followers saya tahu saya ibu yang baik!"
"Ibu Arini," potong Bu Dokter. Suaranya lebih keras sekarang, tidak terpengaruh oleh gaya Mama. "Foto di internet itu bukan kenyataan klinis. Reno merasa sangat kesepian. Dia merasa dibuang."
Reno merasakan jari-jari Mama di bahunya menegang. Mama benci sekali jika ada orang yang bilang dia tidak sempurna.
Papa berdeham keras. Wajahnya sedatar layar komputer yang sedang standby. "Dokter, mari kita bicara angka dan fakta. Kalau Reno butuh fasilitas, sebutkan saja. Saya baru belikan dia komputer gaming spesifikasi tertinggi. Saya mentransfer uang bulanan yang angkanya jauh di atas standar rata-rata anak seumurnya. Jadi, bagian mana yang kurang efisien?"
"Anak Bapak bukan mesin pabrik!" Bu Dokter Karina sekarang mengebrak meja pelan, membuat Miss Tika, wali kelas Reno yang duduk di pojok, terlonjak kaget. "Reno memakai bahasa 'jual-beli' di sekolah! Dia minta bayaran untuk berteman. Dia pikir kasih sayang dan perhatian itu transaksi yang harus dihitung pakai angka. Kalian tahu kenapa? Karena itulah bahasa yang kalian ajarkan kepadanya!"
Reno menatap ujung sepatunya. Dalam hati, dia mengangguk. Papa memang selalu bilang, 'Kalau nilai kamu 100, Papa transfer uang jajan tambahan.' Mama selalu bilang, 'Kalau kamu senyum di foto ini, Mama belikan es krim.' Semuanya ada harganya. Jadi, kenapa Reno tidak boleh memberi harga untuk teman-temannya di sekolah? Bukankah itu cara dunia bekerja?
Bu Dokter membuka map biru di atas meja. Reno langsung mengenali kertas di dalamnya. Itu gambar yang dia buat minggu lalu.
"Lihat gambar ini," kata Bu Dokter, menyodorkan kertas itu ke arah Papa dan Mama. "Ini gambar keluarga yang dibuat Reno. Dia menggambar dirinya kecil sekali di pojok. Tanpa mulut. Lalu dia menggambar kalian saling membelakangi. Bapak menghadap laptop, Ibu menghadap handphone. Secara psikologis, ini bukti pengabaian akut."
Ruangan jadi sepi sekali. Reno menghitung di dalam hati. Satu... dua... tiga... empat...
Waktu itu, Bu Dokter menyuruhnya menggambar keluarga. Reno awalnya mau menggambar biasa saja. Tapi sehari sebelumnya, Reno menonton video di YouTube tentang tanda-tanda anak stres karena perceraian. Di video itu dibilang, anak yang stres menggambar dirinya tanpa mulut dan jauh dari orang tuanya.
Jadi, Reno menggambar persis seperti panduan di video itu. Dia tahu orang dewasa, apalagi guru dan dokter, sangat percaya pada gambar-gambar seperti itu.
Reno melirik ke kanan dan kiri, menunggu reaksi mereka.