Plak!
Sebuah kartu undangan bernuansa hitam keemasan mendarat tepat di atas tumpukan dokumen tebal. Sari Dewi Anandita hanya melirik sekilas tanpa menghentikan gerakan pulpennya yang terus bergerak di atas kertas.
“Apa ini?” tanya Sari dengan nada datar. Bicaranya terdengar elegan, namun tersirat rasa malas yang sangat kentara.
“Undangan emas. Pertemuan eksklusif seluruh pengusaha papan atas, dilaksanakan lusa di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta,” jawab Larasati, asisten pribadinya. Penampilan Larasati tampak tak rapi, rambutnya sedikit acak-acakan dan napasnya terengah-engah—sangat kontras dengan Sari yang tetap terlihat sempurna, seolah baru saja keluar dari salon kecantikan.
Sari akhirnya meletakkan pulpennya. Ia mengembuskan napas panjang lalu meraih undangan mewah itu. “Apakah aku benar-benar harus hadir?”
“Tentu saja!” sahut Larasati cepat, sambil menjatuhkan tubuhnya ke kursi di hadapan majikannya.
“Kalau kamu tidak datang, dua saudara tirimu yang licik itu yang akan mengambil kesempatan. Mereka sudah tidak sabar ingin menggantikan posisimu di hadapan publik.”
Sari tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia menatap wajah asistennya yang tampak kelelahan. “Kenapa kau terlihat sangat kehabisan napas? Seperti baru saja berlari maraton mengelilingi seluruh gedung ini.”
“Menurut pendapatmu sendiri, Nona Sari yang terhormat?” Larasati memutar bola mata kesal.
“Aku baru saja mempertaruhkan waktu dan tenaga demi menghapus berita skandal kencanmu semalam dari seluruh portal berita daring. Sudah puas?”
Sari malah tertawa renyah. Ia membuka laci meja, mengambil sebuah permen lolipop, lalu membuka bungkusnya dengan gerakan anggun.
“Itu hanya makan malam biasa, Ras. Tidak ada ciuman, tidak ada menginap. Kami hanya berbicara santai. Kenapa harus jadi pembicaraan ramai, sih?”
“Memang tidak ada ciuman, tapi pria yang kau ajak bertemu itu sudah memiliki tunangan—dan baru saja mengumumkan pertunangannya dua hari yang lalu!” Larasati memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut.
“Kalau begini terus, aku bisa menua sebelum waktunya hanya karena mengurus skandal pewaris Wijaya Group ini setiap bulannya.”
“Itu salah tunangannya yang terlalu peka. Kami murni membahas urusan pekerjaan,” bantah Sari dengan nada santai sambil menikmati rasa manis permen di mulutnya.
“Urusan apa yang dibahas hingga tengah malam, padahal aku sudah mengantarmu pulang sejak lama? Belum lagi pakaian yang kau kenakan malam itu… sangat tipis. Tidak ada orang waras yang akan percaya kalian hanya membahas bisnis,” omel Larasati tak henti.
“Baiklah, baiklah, berhentilah mengomel. Aku lapar,” potong Sari seraya berdiri. Ia meraih tas mewah merek Hermes yang harganya setara dengan penghasilan orang biasa selama bertahun-tahun. “Ayo keluar.”
“Mau ke mana lagi?!”
“Keliling sebentar untuk mencari makanan.”
Larasati tertegun kaget. Ia menunjuk tumpukan dokumen yang masih menggunung di atas meja. “Tapi berkas-berkas ini butuh persetujuanmu sekarang, Bu Bos!”
“Karena butuh, maka mereka harus bersabar menunggu gilirannya,” jawab Sari dengan nada santai. Ia melangkah pergi dengan anggun, tubuhnya bergerak ringan saat melewati pintu ruangan.
Larasati hanya bisa mengacak-acak rambutnya karena frustasi. “Ya Tuhan, berikanlah aku kesabaran lebih untuk menghadapi bos yang satu ini!” Meski terus menggerutu, kakinya tetap bergerak cepat mengikuti langkah majikannya.
Saat mereka melintasi lobi megah gedung Wijaya Group, seluruh karyawan yang berpapasan langsung membungkuk memberi hormat.
Meskipun status Sari sebagai “anak di luar nikah” sering menjadi bahan pembicaraan di belakang layar, tidak ada yang berani menyangkal kenyataan bahwa dialah yang telah membawa perusahaan itu meraih puncak kesuksesan.
Sari baru saja akan duduk dan bersandar di jok mobil ketika ponselnya berdering. Nama “Rendra Wijaya” tampak berkedip di layar.
Wajah Sari yang tadinya ceria seketika berubah menjadi datar dan dingin.
Larasati yang duduk di kursi depan, di samping sopir pribadi, pun langsung terdiam.
“Ada apa?” sapa Sari singkat begitu mengangkat telepon.
“Kau sudah menerima undangan emas untuk acara lusa?” Suara berat ayahnya terdengar dingin dan tegas dari seberang sana.
“Sudah.”