"Sari! Kurang ajar kamu! Aku bilang, gaun ini milikku!"
Salma langsung melangkah maju hendak meraih gaun itu, namun Larasati dengan sigap sudah berdiri menghalangi jalannya.
"Tolong jaga sikap dan martabat Anda, Nona Salma," tegur Larasati dengan nada tegas dan tak terbantahkan.
Sari berbalik perlahan, menatap kedua saudara tirinya dari balik bahu. "Satu informasi gratis buat kalian berdua. Gaun ini bukan bagian dari koleksi butik Mawar. Ini rancanganku sendiri, dibuat khusus untuk diriku, dan hanya akan kupakai lusa nanti di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta."
Ia melangkah mendekat ke arah Salma, lalu menundukkan kepala sedikit hingga suaranya hanya terdengar di telinga gadis itu—lembut, namun sarat ancaman.
"Simpan baik-baik kartu kredit pemberian Papa itu, Dik. Sebentar lagi kau akan sangat membutuhkannya untuk menutupi harga dirimu yang akan kuhancurkan habis-habisan di depan semua pengusaha malam itu."
Tanpa menunggu jawaban, Sari berbalik hendak kembali ke ruang VIP, meninggalkan Salma dan Selma yang tertegun kaku dengan wajah memerah menahan amarah.
Namun tiba-tiba, Selma menarik kasar lengan Sari. Kancing blus sutra itu nyaris lepas jika saja Larasati tidak bergerak secepat kilat menahan pergelangan tangan Selma dengan cengkeraman kuat.
Larasati menatapnya dengan tatapan sedingin es. Selma mendengus kesal—ia tahu betul asisten itu pemegang sabuk hitam yang tak akan ragu memelintir tangannya jika berani melangkah lebih dekat.
Sari berbalik perlahan. Alih-alih marah, ia justru tersenyum santai, merapikan kerah bajunya yang sedikit bergeser, lalu melemparkan senyum menyebalkan ke arah kakaknya.
"Kakak tidak ingin tampil memukau juga malam itu?" tanyanya dengan nada seolah benar-benar peduli.
"Kalau saja aku berikan gaun ini pada Salma, maka sepanjang malam semua mata hanya akan tertuju padanya. Kalian datang bersama, tapi satu akan terlihat seperti berlian, sementara yang lain... ya, hanya jadi latar belakang yang tak terlihat."
Selma menegang kaku, wajahnya memerah karena tersinggung sekaligus terhasut oleh ucapan itu.
Sari tertawa pelan, lalu mengerlingkan mata dengan nada mengejek. "Supaya adil saja, lebih baik kalian cari gaun yang sama persis. Biar terlihat serasi, seperti dua saudara yang tak terpisahkan."
Setelah melempar senyum penuh kemenangan, Sari melangkah masuk kembali ke ruang privat dengan gaya yang sangat percaya diri.
Mawar, yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu dengan tenang, kini melangkah maju. Dengan senyum sopan namun tegas, ia menghadapi kedua putri Wijaya itu.
"Mohon maaf sebesar-besarnya, Nona Selma, Nona Salma. Seperti yang sudah dijelaskan, gaun khusus itu memang tidak diperjualbelikan. Namun, jika berkenan, kami memiliki koleksi terbaru langsung dari peragaan busana Paris yang baru tiba pagi ini."
Selma mendengus keras, lalu menyambar tasnya dengan kasar. Ia menatap Mawar dengan pandangan penuh penghinaan.
"Tidak usah! Aku tidak butuh barang sisa atau pilihan cadangan! Pelayanan di tempat ini sungguh buruk, dan aku pastikan akan memberikan ulasan terburuk untuk butikmu!"
"Ayo, Salma! Kita cari tempat lain yang lebih pantas dan menghargai kartu kredit pemberian Papa!" seru Selma sambil menarik adiknya keluar dengan langkah yang dihentakkan keras ke lantai.
Mawar tetap mempertahankan senyum ramahnya, bahkan mengantar mereka sampai ke pintu seolah tak mendengar kata-kata kasar yang baru saja dilontarkan. "Terima kasih sudah berkunjung, Nona. Hati-hati di jalan."
Begitu pintu tertutup rapat, Mawar baru mengembuskan napas panjang lalu kembali masuk ke ruang VIP. Di sana, Sari sudah duduk santai sambil mengayunkan kakinya, tampak sangat puas berhasil mengacaukan emosi kedua saudara tirinya.
"Kau benar-benar ingin memulai perang terbuka dengan mereka, Sar?" tanya Mawar sambil duduk di hadapannya.