Pernikahan Rahasia

Ratih Noviani
Chapter #1

Bagian 1 "DIANA"

Diana.

Diana Ramona.

Rambut yang panjang dan tergerai lurus di punggungnya menjadi ciri khasnya. Dia akan sangat mudah dikenali hanya dari rambut hitamnya yang panjang dan berkilau.

Senyumnya manis tersungging di bibirnya yang mungil dan berwarna pink merona.

Tatapan matanya sendu, seakan dari sana dia ingin bicara kalau dirinya adalah wanita dengan perangai yang lembut dan manis.

Dia tersenyum sekali lagi.

Sebuah gaun pengantin berwarna putih dengan banyak batu kristal yang menghiasi di bagian pinggangnya membuatnya tanpa ragu menyunggingkan senyuman itu.

Puas sekali rasanya melihat jerih payahnya selama berbulan - bulan terbayarkan dengan hasil yang begitu memukau.

Gaun pengantin berwarna putih bersih dengan taburan batu kristal dan sedikit payet di dadanya yang terbuka adalah baju pengantin kesekian yang berhasil dia buat dengan kedua tangannya sendiri.

"Sempurna," kata seorang wanita yang berdiri di belakang Diana. Melly, namanya.

"Menurutmu begitu?" tanya Diana tanpa mengalihkan perhatiannya dari gaun pengantin itu.

"Nggak usah didebati lagi, Diana. Ini maha karyamu yang ke sekian dan aku akui kalau kamu sungguh berbakat." Wanita bertubuh sedikit gemuk itu berkata sembari berjalan menuju sebuah meja yang berada di sudut ruangan di mana segelas kopi miliknya belum habis dia nikmati.

"Dua bulan, Mel. Kamu bisa bayangin gimana stresnya aku mikirin baju ini."

"I know," kata Melly sembari menyeruput kopinya. Rasa yang pahit tertinggal di lidahnya ketika dia menambahkan, "Anggap saja itu sebagai pelarianmu karena Barra keluar negeri. Iya kan?"

Diana tersenyum lalu duduk di hadapan Melly, sahabat baiknya.

"Harusnya dia pulang hari ini, Mel."

"And?"

Diana terdiam sembari melirik ponselnya yang sejak tadi dia biarkan tergeletak begitu saja di atas meja. Imbuhnya, "Dari pagi ponselku nggak bunyi. Biasanya, dia akan ngabarin aku kalau dia pulang. Tapi hari ini..."

Diana menggantungkan kalimatnya.

Rasanya, ini bukan kebiasaan Barra yang tidak memberinya kabar jika dia akan kembali dari aktifitasnya. Bahkan, lelaki itu akan menyempatkan diri untuk menghubunginya melalui panggilan telepon ketika dia akan memulai meetingnya.

Tapi hari ini, Diana tidak menemui lelaki yang sudah sepuluh tahun menikahinya itu menghubungi ponselnya.

"Mungkin, urusan di sana belum selesai," kata Melly kemudian.

Entahlah.

Banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi namun Diana tidak bisa menerka apa yang sedang dilakukan suaminya di Kanada sana.

"Sudahlah," kata Melly usai meneguk habis kopinya. Katanya, "Jangan terlalu dipikirin."

Diana menatap Melly seakan ingin meyakinkan kalau semuanya baik - baik saja. Barra hanya tidak meneleponnya bukan berarti sesuatu yang serius terjadi di sana.

Meski begitu, hati istri mana yang akan tenang jika hingga sore menjelang dia masih belum mendapat kabar dari suaminya.

Diana semakin gelisah.

"Apa aku telepon saja ya?" tanyanya kemudian.

"Go ahead. Kalau itu bikin kamu tenang."

Diana meraih ponselnya.

Namun, belum sampai dia menekan sebuah nomor di sana, ponselnya berdering.

"Barra," katanya sumringah.

Diana bangkit dari kursinya dan sedikit menjauh untuk menerima panggilan telepon yang sejak pagi dia nanti.

"Hai, Sayang!" Suara seorang lelaki terdengar dari seberang telepon, membuat Diana semakin melebarkan senyuman manisnya.

"Barra. Where have you been? Dari pagi kamu nggak telepon aku." Diana langsung menyerbu lelaki itu dengan tanya yang sejak tadi mengganjal di hatinya.

"Perbedaan waktu, Sayang. Remember?" ucap Barra.

"Iya. Tentu saja. Kamu bilang hari ini kamu pulang."

"Tentu, Sayang. Aku pulang hari ini."

"Oh ya? Lalu?" Diana semakin tidak bisa membendung gejolak rindu di hatinya yang sudah ditinggalkan selama sepuluh hari.

"Keluarlah. Aku sudah di sini dari setengah jam yang lalu."

Diana membeku sebentar.

Bagaimana dia bisa tidak menyadari kalau lelakinya sudah berada di dekatnya.

Diana mematikan ponselnya lalu berlari melewati Melly yang tertegun melihat wajah Diana yang dengan cepat berubah sumringah.

Langkahnya cepat sekali melewati deretan baju pengantin yang terpajang di etalase butiknya. Dia mendorong pintu kaca itu dan mendapati seorang lelaki sedang menatap ke arahnya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.

Barra Dirgantara.

Tentu saja.

Dia lelaki yang sejak tadi dia tunggu kabarnya.

Lihat selengkapnya