Pernikahan Rahasia

Ratih Noviani
Chapter #2

Bagian 2 "Perfect"

Pagi menjelang dengan udara yang terasa dingin menembus tulang.

Namun, udara yang dingin tidak dirasakan Diana yang sejak pagi sibuk di dapurnya. Dia harus menyiapkan sarapan untuk Barra sebelum lelaki itu pergi ke kantornya.

Lelaki itu muncul dari balik anak tangga dengan pakaiannya yang rapih. Kemeja putih dengan celana panjang hitam dan dasi dengan warna maroon yang tampak kurang rapih melingkar di lehernya.

"Biar kutebak," kata Barra. "Menu pagi ini adalah sup krim jamur dengan roti panggang kan?"

Diana meletakkan mangkuk itu di atas meja dan tersenyum.

"Seperti yang kamu suka," kata Diana.

Mangkuk itu tidak terisi penuh tapi cukup untuk dinikmati sebagai menu sarapan. Sup krim yang kental dengan krim masak di atasnya, sedikit taburan oregano di atasnya, dan di sampingnya Diana memanggang sendiri roti bruscheta yang diolesi butter dan bawang putih.

"Aku selalu suka apa yang kamu hidangkan, Ana."

"Tentu saja kamu akan menyukai apa yang kuhidangkan selama uang belanja itu cukup untuk apa yang tersaji di depanmu."

"Apa ada orang yang tidak cukup memberi uang belanja, Ana? Siapa orang sial itu?"

Diana tertawa lirih.

Tentu orang itu bukan Diana, istrinya.

Barra akan memastikan semuanya cukup untuk Diana. Uang belanja, fasilitas rumah, bahkan uang untuk kebutuhannya sendiri.

"Entahlah. Yang jelas, bukan aku orang sial itu," kata Diana.

Obrolan terhenti.

Ponsel di sebelah Barra berdering.

Lelaki itu enggan menjawab panggilan itu jadi dia hanya membalikkan ponsel itu dan membiarkannya terus berdering hingga kemudian suara telepon itu berhenti.

"Kenapa nggak dijawab?" tanya Diana.

"You know me, Ana. Nggak ada yang boleh ganggu waktuku ketika aku sedang bersama wanitaku."

Diana terdiam.

Tentu dia tahu kebiasaan itu dan pagi ini dia masih mempertanyakan sesuatu yang biasa terjadi? Sungguh pertanyaan yang konyol.

"What?" tanya Barra yang mendapati Diana berhenti menyuapkan sup hangat itu.

"After many years, Barra," ucap Diana.

"Apa kamu berpikir setelah sekian tahun akan ada yang berubah di antara kita? Nggak, Ana. Semuanya sama saja. Hanya saja, kita mulai sedikit menua. Selebihnya, nggak ada yang berubah dariku." Usai mengatakan itu, Barra melanjutkan sarapannya hingga mangkuk itu bersih tanpa ada sisa - sisa makanan di sana.

Ucapan Barrra ada benarnya.

Jika memang tahun bisa melunturkan cinta seorang suami kepada istrinya, tentu dia bukanlah Barra.

"Sore ini aku jemput kamu, right?" tanya Barra sembari bersiap untuk pergi ke kantornya.

"Entahlah. Biar kurapihkan dasimu. Bertahun - tahun menikah, kamu masih tidak bisa memasang dasi dengan benar," kata Diana.

"Why? Itu bukan sesuatu yang memalukan, Ana. Justru, bertahun - tahun menikah tapi tidak bisa membahagiakan istrinya, itu yang lebih memalukan dari sekedar tidak bisa memasang dasi dengan rapih."

Diana hanya tersenyum.

Sekarang, Barra sudah siap untuk pergi ke kantornya lagi setelah sepuluh hari dia harus meninggalkannya untuk urusan yang lebih mendesak di Kanada.

Baju yang rapih, jas kerja yang nanti akan dia kenakan di kantornya, dan beberapa dokumen yang sudah selesai dia tandatangani semalam.

Semuanya, terlihat sempurna.

Tubuhnya yang tinggi dan besar dengan rambut ikal yang rapih, siapa yang akan mengira kalau dia adalah lelaki yang sebentar lagi usianya genap empatpuluh tahun?

Pola hidup yang sehat dan olahraga yang sering dia lakukan membuat usia itu terlihat tidak berarti untuk seorang Barra Dirgantara.

"Aku akan jemput kamu ke butik dan sebaiknya hari ini kamu pergi dengan supir, Ana." Begitu pesan Bara sebelum lelaki itu masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan Diana di halaman rumahnya yang luas.

Diana hanya terdiam.

Hari ini, dia harus pergi ke butik demi membuat gaun lain yang akan mengisi koleksi butiknya.

Sebuah butik pakaian pengantin sudah dia rintis sejak dia masih duduk di bangku kuliah. Dan sekarang, butik itu semakin punya nama sejak seorang pejabat menggunakan jasanya untuk pernikahan putrinya.

Dan siang ini, Diana tidak mengira kalau butiknya akan kedatangan seseorang yang tidak kalah pentingnya.

"Selebgram?" tanya Diana ketika seorang pegawainya memberitahunya tentang tamunya hari ini.

"Iya. Ibu sudah ditunggu di luar," katanya dengan mimik wajah yang begitu antusias.

Diana meletakkan pensilnya dan membiarkan sketsa baju yang belum selesai itu demi menemui seorang tamu yang katanya adalah Selebgram itu.

Seorang wanita bertubuh tinggi dengan pakaiannya yang terlihat sempurna membentuk tubuhnya, berdiri sembari menatapi sebuah gaun pengantin yang ada di depannya. Dia terlihat begitu mengagumi gaun itu hingga tidak menyadari kedatangan Diana di sampingnya.

"Veronica?" Diana mengenali wanita yang cukup terkenal di Instagram itu.

Gadis itu menoleh lalu tersenyum.

"Hai. Kamu pemilik butik ini?" tanya Veronica sembari menyalami Diana dengan ramahnya.

"Aku Diana. Ada yang bisa kubantu?"

"Yes. Tentu aja," kata Veronica penuh semangat karena dia tahu dia datang ke butik yang tepat.

"Ayo, silahkan duduk!"

Diana membawa Veronica ke sebuah meja dengan dua kursi yang dia letakkan di sudut butik untuk menerima semua tamu - tamunya.

Dan Veronica sama sekali tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya pada gaun putih dengan bagian atas terbuka dan bagian bawah yang ketat di bagian paha lalu melebar di bagian kaki.

"Itu gaun rancanganmu?" tanya Veronica sembari menunjuk gaun yang dia maksud.

"Betul. Itu salah satu koleksiku yang baru."

"Sempurna," sahut Veronica cepat. "You know, aku mau menikah dua bulan lagi dan aku butuh gaun pengantin, gaun untuk bridesmaidku, dan untuk orangtuaku. Kamu bisa handle itu?"

Diana terkejut hingga dia bengong sebentar.

Lihat selengkapnya