Diana mencengkram pundak itu dengan kuatnya. Begitu kuat hingga bekas kukunya tertinggal di sana.
Barra bisa merasakan cakaran itu namun dia tidak memerdulikannya. Dia hanya ingin terus mencumbu wanitanya meski malam terus merangkak larut.
Bibirnya terus menyusuri leher yang jenjang itu, terus ke bawah.
Dan ke bawah.
Diana bisa merasakan hembusan hangat napas Barra di tubuhnya, dimana dia terus menyusurinya tanpa ingin dia lewati begitu saja.
"Hentikan!" pekik Diana tertahan ketika wajah lelaki itu semakin turun ke bagian bawah tubuhnya.
Cumbuan itu membuatnya bergejolak hebat.
Pun ketika rambut - rambut halus di sekitar dagu Barra bersentuhan dengan kulit tubuhnya.
Diana hampir tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
"Why?" tanya Barra lirih.
"Kumohon. Aku... A-aku nggak bisa." Diana merancu, berucap tanpa dia tahu kalau bibirnya berbicara dengan kedua mata yang terpejam.
Barra tersenyum.
Dia merangkak perlahan lalu kembali menyusuri leher itu sembari berbisik di telinga kiri Diana. Katanya, "Permohonan ditolak."
Diana membuka matanya dan mendapati lelaki itu berjarak hanya beberapa senti dari wajahnya. Dia bahkan bisa merasakan hembusan napas Barra di wajahnya yang sudah berkeringat itu.
"What?"
Barra tidak melepaskannya.
Pun permohonan itu, tidak dia kabulkan.
Lelaki itu mencium bibir wanita itu dengan cepat dan ritme yang berantakan. Lumatan itu membuat Diana nyaris tidak bisa mengimbanginya.
Barra benar - benar menguasai dirinya di sepanjang malam.
Hingga kemudian, dia tertidur tanpa sempat mengenakan pakaian yang berserakan di lantai.
Dan ketika pagi menjelang, Diana menyadarinya.
Hanya selimut putih yang membalut tubuhnya dengan seorang lelaki berbedan besar yang terlelap di sampingnya.
Barra.
Lelaki itu terlelap tidur sembari merangkul tubuhnya dari belakang.
Sepertinya, permaianan semalam benar - benar menguras tenaganya hingga pagi yang menjelang ini tidak juga membangunkan Barra dari tidurnya yang lelap.
Diana menghela napas perlahan.
Lalu, samar - samar dia mendengar suara tawa seorang anak - anak dari luar jendela yang tidak tertutup rapat.
Wanita itu bangkit dengan selimut putih yang membalut tubuhnya lalu berjalan menuju jendela yang menghadap langsung ke laut lepat.
Di sana, di tepi pantai dengan pasirnya yang berwarna putih ada dua anak kecil yang sedang berlarian sembari bermain sepakbola.
Tawa mereka yang nyaring dapat Diana dengar dengan jelas.
Mereka berlarian, saling mengejar, saling menendang, lalu satu gulungan ombak menjatuhkan salah satu dari mereka.
"HAHAHAHAHAHA...!!!" tawa itu menggelegar seakan ingin menelan suara ombak yang lembut menderu.
Diana tersenyum.
Sungguh tawa anak kecil yang sudah lama dia rindukan.
Kapan tawa itu juga akan mengisi rumahnya yang megah?
Satu pertanyaan yang tak kunjung dia temui jawabnya meski sudah bertahun - tahun dia menikah.
"Nggak ada yang salah. Semuanya baik - baik saja." Begitu kata dokter ketika Diana datang untuk memeriksakan rahimnya yang tidak juga dibuahi.
Kalau semuanya baik - baik saja, kenapa sampai hari ini kabar baik itu tidak juga datang? tanya Diana dalam hati.
Wanita itu mendesah lirih.
Setiap kali dia memikirkan itu, raut wajahnya akan berubah sedih.
Entahlah.
Dia punya segalanya. Suaminya yang setia, kekayaan yang tidak terhitung, dan bisnisnya yang sedang berkembang dengan pesat. Semua ada dalam genggamannya. Namun ketika dia melihat tawa dua anak lelaki itu, seketika semuanya terasa tiada artinya.
Kosong.
Begitulah yang dia rasakan saat ini.
"Diana?" Suara Barra yang terbangun dari tidurnya mengejutkan Diana.