Alunan musik yang lembut mengiringi perjalanan pulang Barra dan Diana dari vila mereka di Anyer.
Dua hari mereka berada di sana dan hari ini Barra memutuskan kembali ke Jakarta demi pekerjaan yang sudah menantinya besok.
"Aku ada meeting pagi, Sayang." Begitu katanya ketika dia mengajak Diana untuk kembali ke rumahnya pagi tadi.
Diana tidak keberatan.
Dia juga punya kesibukan yang sudah menantinya di butik besok.
Kringgg... Kringg... Kringg...
Lagi, suara ponsel yang berdering terdengar.
Barra meraih ponsel itu dan membaca nama yang tertera di sana.
Lukas.
"Ada apa?" tanyanya usai panggilan telepon itu terhubung.
Diana hanya memerhatikan sebentar lalu membuang perhatiannya keluar jendela.
Wanita itu tidak ingin mengganggu panggilan telepon yang mungkin berhubungan dengan pekerjaannya karena Diana tahu Lukas adalah asisten pribadi suaminya.
Sembari terus mengemudikan mobilnya, Barra tampak serius berbicara di telepon. Sungguh dua kesibukan yang tidak baik dilakukan ketika sedang berkendara.
Barra akan kehilangan fokusnya.
Dan itu terbukti.
Tepat ketika tiba di sebuah persimpangan jalan yang ramai, Barra membelokkan kemudinya ke kiri tepat ketika lampu lalu lintas sudah menyala merah.
Harusnya dia berhenti.
Barra, seharusnya tidak berbelok saat ini.
Namun, dia kurang fokus.
Telepon itu mengalihkan sebagian perhatiannya hingga dia tidak menyadari kalau lampu lalu lintas berwarna merah, tanda dia seharusnya berhenti.
Dan, sesuatu terjadi.
Ketika mobil itu muncul di tikungan, seorang gadis tampak melangkah menyeberangi jalan.
Headset terpasang di telinganya sehingga dia tidak menyadari kedatangan mobil sedan putih itu dari sisi kanannya.
Wanita itu berjalan tepat di depan mobil yang melaju mendekat.
Diana terkejut.
Lalu berteriak, "AWAS!"
Barra tersentak kaget.
Dia spontan menginjak pedal rem dalam - dalam hingga suara ban terdengar berdecit dan mobil tersentak lalu berhenti total.
Buuukkkkk....
Terlambat.
Mobil itu berhenti setelah dia menabrak tubuh gadis itu.
Barra membeku di balik kemudinya.
Dia tampak kaget dengan insiden yang terjadi sekian detik itu.
Sampai kemudian dia menyadari sesuatu yang tidak baik sedang terjadi. Orang - orang tampak berlarian menuju tempat kejadian perkara di mana seorang gadis tergeletak di atas aspal.
"What the hell?" ucap Barra masih dengan suasana hati yang kalut.
Diana hanya membisu. Dia sama kagetnya dengan Barra sehingga dia tampak tidak bereaksi untuk beberapa waktu.
"Are you okay?" tanya Barra.
Diana hanya mengangguk.
Lalu, seseorang mengetuk kaca mobil dan meminta Barra untuk turun melalui isyarat tangannya.
Barra tidak akan lari.
Dia segera melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobilnya.
Suasana terlihat mencekam dengan orang - orang yang mulai berdatangan.
Seorang gadis muda dengan pakaian yang kasual tampak tidak sadarkan diri di atas jalanan. Tabrakan itu membuatnya terjatuh dan membentur jalan dengan kerasnya.
"Nyetirnya gimana, sih? Lampu merah main terobos aja!" kata seorang wanita paruh baya yang ketika insiden itu terjadi dia berjalan tepat di belakang gadis itu.
"Elo harus tanggung jawab! Jangan lari!" kata yang lainnya.
Barra masih terlihat kebingungan ketika Diana turun dari mobilnya untuk memeriksa kondisi gadis itu.
"Sure, Aku akan tanggung jawab. Tolong, bawa dia ke dalam mobil. Aku akan bawa dia ke rumah sakit," pinta Barra.
Permintaannya itu segera dikabulkan.
Orang - orang yang tadinya berkerumun mulai membantu Barra untuk membawa gadis itu masuk ke dalam mobilnya.
Perlahan, tubuh gadis itu dibaringkan di kursi belakang sementara Diana dan Barra kembali ke kursinya dan bergegas pergi menuju rumah sakit terdekat yang jaraknya tidak kurang dari sepuluh kilometer.
Barra mengemudikan mobil itu dengan cepat sementara Diana terlihat beberapa kali menoleh ke belakang untuk melihat kondisi gadis itu.
"Cepatlah, Barra!" pinta Diana yang mulai cemas dan panik.
Barra menginjak pedal gasnya hingga suara mesin itu menderu kencang.
Namun, di depan ada persimpangan dengan lampu yang menyala merah dan Barra tidak mungkin menerobosnya lagi.
Dia segera berhenti.
Tepat ketika gadis itu mulai membuka matanya perlahan.
Lalu, dia terbangun.
"Dia sadar!" kata Diana .
"W-what?" Barra sama terkejutnya hingga dia segera menoleh dan mendapati gadis itu sedang duduk di kursi belakangnya.
Gadis itu terlihat beberapa kali mengedipkan matanya dan berusaha untuk mengusir rasa sakit di kepalanya.
"Ini dimana?" tanyanya. "Kalian siapa?"
***
Barra kembali dari minimarket dengan sebuah minuman dingin di tangan yang dia bungkus dengan beberapa lembar tisu lalu menyodorkannya kepada Diana yang sedang duduk bersebelahan dengan gadis bernama Elena.
Iya. Korban tabrakan itu bernama Elena.
"Letakkan ini di kepalamu supaya pusingnya reda," kata Diana yang membantu Elena mengompres luka memar di kepalanya.
Elena menurutinya.
Rasa dingin yang menyentuh kulitnya benar - benar menenangkannya.
"Feel better?" tanya Diana.
Elena mengangguk lirih.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit aja. Just make sure kalau nggak ada luka dalam," kata Barra yang sudah sekian kali membujuk Elena untuk mau dibawa ke rumah sakit.