Pernikahan Rahasia

Ratih Noviani
Chapter #5

Bagian 5 "Rekor"

Malam merangkak naik ketika Elena kembali ke apartemennya yang berada di lantai duabelas.

Langkahnya perlahan menyusuri lorong yang mulai sepi karena malam memang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Namun, langkah itu terhenti ketika dia melihat seseorang sedang berdiri di depan pintu apartemennya yang tertutup rapat.

Dia...

"Miko?"

Elena mengenali lelaki bertubuh tinggi dengan rambut berwarna kemerahan itu.

Lelaki itu menoleh ketika namanya dipanggil dan ketika dia tahu yang memanggil adalah gadis yang dia cari, seketika senyuman mengembang di bibirnya.

"El..." katanya sembari melangkah mendekati gadis itu.

"Mau apa kesini?" Wajah Elena tampak tidak sesumringah wajah Miko dengan pertemuan ini.

Sebaliknya, gadis itu justru tampak ngeri dengan kehadiran Miko. Lagi, setelah dua bulan berlalu pasca keributan yang terjadi di club malam itu.

"Look! I'm so sorry, El. I do. Aku nggak ada maksud untuk melukai kamu malam itu. Aku hanya reflek."

"Reflek karena ketahuan selingkuh, Mik?" tanya Elena sinis.

Miko terdiam sebentar.

Tapi, lelaki itu tampak tidak kehabisan cara untuk bisa mendapatkan simpati gadis itu lagi.

"No. El, denger aku! Kamu salah paham, El. Dia bukan selingkuhanku. Aku bahkan baru kenal dia malam itu."

Elena tersenyum sinis.

"Sudahlah, Mik. Jangan banyak drama. Aku tahu semuanya. Siapa perempuan - perempuan yang pernah tidur denganmu dan let me guess. Dia bukan satu - satunya, right?" tanya Elena.

"Come on, El!" rajuk Miko. "Kamu yang terakhir. Aku udah bilang itu ribuan kali kan?"

"Yes. You did. Tapi ribuan kali juga kamu nyakitin aku dengan kebiasaanmu yang nggak pernah puas dengan satu perempuan. Aku capek, Mik. Aku mau istirahat."

Elena berusaha mengabaikan Miko dan bergegas untuk masuk ke apartemennya.

Tapi, lelaki itu menghalangi langkahnya.

Dengan cepat dia menghardiknya dan berkata, "Please. El, satu kesempatan lagi. I promise. Kejadian itu nggak akan terulang lagi."

Elena terdiam.

Dengan seksama dia memerhatikan sorot mata Miko yang tampak bersungguh - sungguh itu. Dari balik bola matanya yang kecokelatan seolah dia ingin mengatakan ribuan penyesalan yang menggantung di hatinya.

"Aku nggak bisa. Udah cukup semuanya dan sekarang pergilah."

Elena melewatinya, membuka kunci pintu apartemennya, lalu masuk ke dalamnya dan langsung menguncinya begitu saja tanpa memerdulikan Miko yang masih berada di luar.

Lelaki dengan rambutnya yang ikal dan kulitnya yang putih itu bahkan tetap berada di tempatnya meski Elena sudah menutup rapat - rapat pintu itu.

Gadis itu sudah sering mendapati lelaki itu berselingkuh darinya. Setiap kali dia ketahuan, maka dia akan memohon untuk menerimanya kembali seolah - olah kejadian itu tidak pernah ada.

Berkali - kali Elena memaafkan dan berkali - kali juga dia tersakiti oleh luka yang sama.

Malam ini, dia ingin memulai hidupnya yang lebih damai dengan tidak menerima lelaki itu kembali.

Tapi, apakah bisa menjauhi seseorang yang pernah masuk ke dalam relung hati yang paling dalam selama bertahun - tahun?

Mungkin bisa, tapi itu akan sulit sekali.

Dan Elena sudah mencobanya selama dua bulan terakhir. Dia tetap mencoba melanjutkan hidupnya seperti biasa tanpa sosok lelaki bernama Miko.

Dan ketika dia nyaris berhasil, laki - laki itu justru muncul kembali dengan permohonan maafnya yang paling tulus.

Tapi, gadis itu tidak ingin terjebak lagi dalam hubungannya yang tidak sehat bersama Miko. Jadi dia sibukkan dirinya dengan mengurusi kafe yang sudah dia miliki sejak tiga tahun terakhir.

Elena tiba di sana ketika matahari sudah berada di tahta tertinggi singgasananya.

Terik sekali hari ini.

Namun, udara yang sejuk langsung menyambutnya ketika dia membuka pintu kaca kafe miliknya.

Seseorang ada di depan meja kasir, menunggu proses pembayarannya dengan sebuah ponsel menempel di telinganya. Dan kalau dilihat dari cara dia bicara, seperti panggilan telepon itu penting sekali.

Lelaki itu bahkan sempat mengabaikan uang kembalian yang disodorkan sang kasir dan memilih pergi setelah kopi yang dia pesan selesai dibuat.

"Pak, kembaliannya!" seru si kasir dengan suara sedikit meninggi ketika laki - laki itu melangkah keluar dengan amat sangat tergesa - gesa.

Elena melihat lelaki itu berjalan dengan cepat menuju mobilnya yang terparkir di luar kafe dan segera tancap gas tidak lama setelahnya.

"Kenapa dia?" tanya Elena bingung.

"Nggak tau, Bu. Dari pertama datang dia udah minta buru - buru terus," jawab kasir itu.

"Berapa uang kembaliannya?"

Kasir itu melihat uang yang ada di tangannya dan menjawab, "Dia cuma pesan kopi latte. Kembaliannya enampuluhdua ribu. Plus..." Kasir itu menunjukkan sebuah tas kecil yang tergeletak di atas meja kasih sembari berkata, "Tas dia ketinggalan."

Elena menghampiri untuk memeriksa tas kecil itu.

Bahannya kulit asli dengan warna hitam yang mengkilap.

Isinya?

Entahlah, Elena tidak berani membukanya.

Dia hanya memerhatikan sebentar lalu berkata, "Tunggu orangnya balik lagi ya. Kalau sampai besok nggak ada yang balik ke sini, aku yang akan antar tas itu."

"Baik, bu."


***


Ternyata, pemilik dari tas itu adalah Lukas, asisten pribadi Barra yang sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.

Lihat selengkapnya