Pernikahan Rahasia

Ratih Noviani
Chapter #6

Bagian 6 "Kewajiban Yang Terabaikan"

Pagi menjelang dengan sisa rintikan hujan yang masih mengguyur kota.

Barra ada di sana, di meja makannya sendirian sembari menikmati secangkir kopi panas yang hitam dan pekat.

Lalu, dia mendengar suara derap langkah seseorang yang sedang menuruni anak tangga dengan tergesa - gesa lalu muncul di ruang makan itu tidak lama setelahnya.

Dia Diana.

"Selamat pagi, Sayang," sapanya sembari memberi ciuman hangat di pipi kanan Barra.

"Pagi." Begitu saja jawaban yang keluar dari mulut Barra.

"Semalam tidurku nyenyak sekali sampai aku terlambat untuk bangun hari ini. Padahal, banyak yang harus aku lakukan di butik hari ini." Diana berkata sembari mengolesi roti panggang yang ada di hadapannya dengan selai strawberry yang jadi kesukaannya.

"Begitu?"

"Tentu saja, Sayang. Aku harus selesaikan semua pesanan itu dalam waktu yang singkat. Ah, setiap kali memikirkan itu aku jadi stres."

"Nggak akan begitu kalau kamu tinggalkan butik itu," sahut Barra sembari meletakkan kopi yang masih sisa setengahnya itu di atas piring kecilnya.

Diana menoleh karena terkejut mendengar ucapan itu keluar dari mulut Barra.

Lagi.

Setelah berkali - kali dia ucapkan dulu.

"Kita sudah sering bahas ini, Sayang," kata Diana sembari meratakan selai strawberry itu dengan santainya seakan dia tahu perkataan itu tidaklah perlu dia seriusi.

"Right. Dan aku selalu mendapat penolakan itu kan? Sudah kubilang, aku bisa menghidupimu dengan sangat layak. Kamu nggak perlu pergi ke butik, bekerja di sana siang dan malam seolah aku tidak memberimu apa - apa. It's shamefull, Diana."

Diana terdiam.

Lelah rasanya meributi sesuatu yang sama berkali - kali.

"Sayang..."

"I know!" sergah Barra cepat. "Kamu dan butik itu lebih dulu daripada aku kan? I know that part. Kamu selalu bilang hal yang sama berkali - kali."

"Lalu kenapa kita ributi ini lagi?" tanya Diana.

"Aku hanya merasa kamu nggak mendengarkanku, Diana. Kamu dan semua egomu itu..."

"Egoku?" Diana bertanya dengan nada bicara yang sedikit meninggi. "Bagaimana bisa kamu bilang ini adalah egoku? Barra, aku hanya menjalankan apa yang jadi kesukaanku dan kamu bilang kamu nggak akan keberatan soal itu."

Barra bangkit dari kursinya sembari berkata, "Aku nggak akan keberatan asal itu nggak mengganggu kewajibanmu atasku."

Diana tersentak kaget.

Bibirnya sedikit ternganga seakan dia ikut tidak percaya lelakinya mengatakan itu kepadanya sementara Barra sudah berlalu pergi meninggalkan rumahnya.

Dia mengemudikan sendiri mobil BMW putih itu ke kantornya dengan bayangan sisa keributan itu yang menggelayuti pikirannya.

Keributan dalam sebuah pernikahan itu sangat wajar, bukan?

Begitulah Diana dan Barra ketika mereka meributkan kesibukan Diana yang terkadang menyita waktunya untuk Barra. Lelaki itu tidak senang ketika dia harus terkalahkan oleh baju - baju pengantin itu.

Dia adalah lelakinya, kepala keluarga di rumah itu dan seharusnya Diana lebih mengutamakan dirinya, bukan butik itu.

Barra mendesah lirih.

Hari baru saja mulai tapi moodnya sudah berantakan.

Dan keributan pagi tadi membuat konsentrasi Diana sedikit terganggu. Dia bahkan tidak bisa menyelesaikan gambarnya hingga beberapa kali dia harus merobek kertas itu dan melemparnya tepat ketika sabahatnya Melly muncul dari balik pintu.

"What the hell happen?" tanya Melly yang kebingungan dengan kertas - kertas yang berserakan di lantai.

"Nggak ada apa - apa. Aku cuma lagi buntu," ucap Diana lesu.

"Why? Barra bikin kamu kewalahan semalam, huh?" tanya Melly sembari duduk di sofa panjang dekat jendela itu dengan santainya.

"Kita nggak berhubungan semalam, Mel."

"Udah kuduga, sih. Kamu pasti kelelahan karena kemarin kamu seharian di sini kan?" sahut wanita bertubuh sedikit gemuk itu. "Sudah kubilang, Diana. Butik ini menyita waktumu. Lagipula, apa yang kamu cari, huh? Uang dari Barra nggak mungkin kurang kan?"

"Nggak ada yang kurang dari dia, Mel. Cuma aku ngerasa kalau aku terlalu sayang untuk melepas butik ini. Kamu sendiri tahu bagaimana aku memperjuangkan butik ini sejak dulu."

"Aku tahu itu. Tapi dengan semua kebiasaan Barra yang aku tahu, rasanya kesibukanmu ini nanti akan menimbulkan masalah."

"Masalah?" tanya Diana sembari mendekat dan duduk di samping sahabatnya itu. "Masalah apa maksudmu?"

"Diana, dengarkan aku. Aku ini sahabatmu sejak dulu dan aku tahu seperti apa kamu kalau sudah sibuk sendiri. Kamu akan melupakan banyak hal termasuk diri kamu sendiri. Kamu ini istri dari seorang suami Barra Dirgantara. Aku tahu laki - laki itu dengan semua libido yang dia punya. Dia akan sulit untuk menyesuaikan diri dengan kesibukanmu, Diana."

Diana terdiam dan mencoba untuk mencerna ucapan Melly.

"Sederhananya begini, semalam kamu pulang jam berapa?" tanya Melly.

"Aku nggak tau. Mungkin jam sepuluh."

"Dan kalian nggak bercinta semalam?" tanya Melly mengintrogasi.

Diana menggeleng lirih sembari berkata, "Aku lelah, Mel."

"Right. Apa Barra minta kamu buat layani dia semalam?"

Diana terdiam sebentar.

Sekarang semuanya masuk akal.

Keributannya pagi tadi dengan Barra bukan karena butiknya, tapi karena dia mengabaikan lelaki itu semalam.

Aku nggak keberatan asal itu nggak mengganggu kewajibanmu atasku.

Ucapan Barra seketika terlintas di benaknya tepat ketika lelaki itu beranjak meninggalkan dirinya pagi tadi.

"Diana?"

Lihat selengkapnya