Pernikahan Rahasia

Ratih Noviani
Chapter #7

Bagian 7 "Keputusan Besar"

Diana menyandarkan tubuhnya di atas kursinya yang nyaman.

Selembar kain baru saja selesai dia potong dan dia jahit sebagian. Sisa potongan kain itu berserakan di lantainya yang dingin dan sepi.

Karyawannya sudah pulang sejak sore dan tadi dan hingga malam menjelang Diana masih terkurung di butik itu sendirian.

Diana menghela napasnya yang panjang.

Malam telah menjelang dan dia baru menyadari itu.

Kesibukannya benar - benar menyita semua waktu dan perhatiannya hingga tanpa sadar jarum jam telah menunjukkan angka sembilan malam.

Diana terkejut.

Dia meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak di laci kerjanya namun ponsel itu kosong.

Tidak ada chat maupun panggilan yang tidak terjawab dari Barra.

Biasanya, lelakinya itu akan meneleponnya atau sekedar mengiriminya pesan singkat yang mesra. Tapi hari ini, dia tidak dapati itu.

Tentu saja begitu.

Lelaki itu tidak mengiriminya pesan atau telepon karena dia sendiri sedang berada di kafe itu bersama Elena.

Obrolannya yang panjang dan mengasyikkan membuat Barra lupa dengan Diana untuk sejenak.

Dan ketika dia tiba di rumahnya, Barra baru menyadari kalau Diana belum juga kembali dari butiknya.

Wanita itu bergegas membereskan tasnya lalu keluar dari butik dimana supir pribadinya bahkan sampai tertidur menungguinya pulang.

"Ayo, pak! Kita pulang sekarang!"

Sopir itu sedikit kaget ketika Diana tiba - tiba sudah duduk di kursi belakang dengan ekspresi wajahnya yang cemas.

Dia ingin segera pulang demi menghindari pertengkaran lain dengan Barra.

Tapi, semuanya terlambat.

Ketika dia tiba di kamarnya, Barra baru saja selesai mengganti pakaiannya.

"Sayang, kamu udah pulang?" tanya Diana.

"Tentu saja sudah. Ini waktu yang terlalu malam untuk ada di kantor kan?" sahut Barra acuh.

"Aku tahu. Aku udah berusaha untuk secepatnya pulang tapi..."

"Sibuk, right?" tukas Barra. "Aku tahu itu. Makanya, aku nggak mau ganggu kesibukanmu dengan telepon atau chat. Aku tahu kamu akan mengabaikan itu semua."

"Barra, no! Nggak seperti itu," kilah Diana. "Aku mungkin sibuk tapi telepon dan chatmu tentu aku akan jawab."

"I'm not that sure," sahut lelaki itu tanpa memerdulikan wajah penuh penyesalan dari Diana.

"Sayang, kumohon. Jangan buat aku berada di posisi yang sulit."

"Aku? Buatmu sulit?" tanya Barra dengan nada bicara yang sedikit meninggi.

Sudahlah.

Pertengkaran lain akan terjadi malam ini.

"Bukan itu maksudku, Sayang."

"Lalu apa? Aku nggak pernah memaksamu untuk ada di butik itu. Aku nggak pernah memintamu untuk bekerja siang dan malam sementara aku bisa memberimu semua yang kupunya. Aku adalah laki - laki yang akan bertanggungjawab untuk hidupmu. Dan sekarang kamu bilang aku yang membuatmu berada di posisi yang sulit? Diana, semua ini karena sifat keras kepalamu!" Barra bicara dengan nada yang tinggi seolah Diana akan sanggup menerimanya.

Padahal, bentakan sekecil apapun akan meruntuhkan hatinya.

"Maafkan aku, Barra." Diana berkata dengan suara yang bergetar karena perasaan sedih yang mulai hadir di dalam hatinya. "Aku nggak bermaksud untuk membuat kamu gagal sebagai laki - laki. Kamu udah tunjukin tanggung jawabmu itu bahkan sebelum kita menikah. Tapi, ini bukan soal kamu mampu atau nggak, Barra."

Diana mulai terisak.

"Lupakan, Ana," kata Barra cepat. "Selama butik itu masih jadi pusat perhatianmu, aku akan selalu terkalahkan."

Usai mengatakan itu, Barra berlalu dari kamar itu dan membiarkan Diana seorang diri di sana.

Barra mengambil kunci mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah itu seorang diri demi bisa menenangkan pikirannya yang akan selalu berantakan ketika emosi menguasainya.

Sementara Diana?

Dia hanya diam di kamarnya seorang diri dengan ditemani air matanya yang mulai menetes.

Barra akan selalu begitu. Pergi meninggalkannya ketika mereka sedang bertengkar.

Alasannya sederhana: Dia tidak ingin memperkeruh keadaan dengan terus berdebat. Jadi, dia memilih untuk pergi dan menenangkan pikirannya di suatu tempat.

Di mana?

Malam ini, dia membawa sedan BMW putih itu menuju sebuah kafe yang mulai sepi.

Iya.

Elena.


***


Gadis itu baru saja keluar dari kafenya ketika dia melihat seorang lelaki sedang berdiri dan bersandar di kap mesin mobilnya yang masih hangat.

Barra.

Ketika dia melihat lelaki itu lagi malam ini, Elena tahu dia sedang dalam keadaan yang tidak baik - baik saja. Jadi, dia ijinkan Barra untuk masuk ke kafenya yang sudah sepi dan membuatkan secangkir kopi hitam untuknya.

Elena meletakkan cangkir kopi itu di hadapan Barra dan berkata, "Spill it out."

Barra terdiam.

Dia bahkan tidak mengerti mengapa dia ada di kafe itu bersama Elena malam ini. Padahal, malam mulai larut dan kafe itu harusnya sudah tutup.

"Sorry, El." Hanya itu yang dikatakan Barra.

Lihat selengkapnya