"Seharusnya, kesibukanku nggak bikin aku lupa kewajibanku di rumah ini, Barra."
Ucapan Diana tadi pagi terus membekas di benak Barra.
Terus berulang hingga membuatnya tidak bisa mengerjakan hal lain selain duduk di kursinya dan termenung menatap keluar jendela kantornya.
Entahlah.
Rasanya, sulit sekali dia jelaskan apa yang ada di benaknya sekarang.
Di satu sisi, dia ingin Diana ada di rumah dan menyambut kedatangannya setiap hari. Tapi di sisi lain, dia tahu bagaimana wanita itu bekerja keras untuk mengembangkan butiknya seperti sekarang.
Perjuangannya tidak main - main.
Dan memintanya menutup butik itu begitu saja terkesan begitu egois dan jahat.
Tapi, Barra tidak ingin kesibukannya membuat Diana mengabaikan dirinya.
Ah, apa yang harus Barra lakukan?
"Boss?"
Barra tersentak.
Seketika, lamunannya buyar ketika dia melihat Lukas tiba - tiba berdiri di dekat pintu ruangannya.
"What?"
"Ada yang mau ketemu."
Barra belum menjawab ketika seorang wanita masuk ke ruangan itu.
Kedua mata Barra sedikit terbelalak.
"Elena?"
Wanita itu tampak ragu menginjakkan kaki di ruang kerja Barra namun tujuannya berkunjung siang ini memaksanya untuk melangkah sedikit lebih ke dalam.
"Apa aku mengganggu?" tanya Elena.
"Tentu aja nggak. Silahkan masuk!"
Elena melangkah sementara Lukas pergi meninggalkan mereka berdua di dalam ruang kerja Barra yang luas dan sepi.
"Duduklah, El!" kata Barra sembari mengarahkan Elena untuk duduk di sebuah sofa panjang berwarna abu - abu dengan lapisan kulit yang mengkilat di sudut ruang kerjanya.
"Thanks."
Elena mengambil duduk di salah satu sofa yang panjang itu dan berusaha duduk dengan nyaman di sana. Meskipun, berada di ruangan yang terasa asing itu membuatnya sedikit kikuk.
"Kejutan, huh?" kata Barra sembari duduk di hadapan Elena.
"Aku tahu. Tapi, aku nggak mau ngomongin ini di telepon."
"Soal apa?"
Elena tidak langsung menjawabnya.
Dia membuka tas yang dia bawa dan mengeluarkan selembar kertas tipis dari dalamnya.
Dia letakkan kertas itu di atas meja kaca berwarna senada dengan sofa itu dan berkata, "Kamu ingat soal lecet di mobilku?"
Barra terdiam.
Dia mengambil kertas itu dan membaca tulisan yang ada di sana.
Itu adalah invoice pembayaran dari sebuah bengkel mobil.
"Kamu sudah perbaiki mobilnya?" tanya Barra yang mendapati nominal yang tertera di kertas itu dan dia sedikit mengernyitkan dahinya.
"Sedang dikerjakan. Aku kesini untuk kasih kamu invoicenya."
Barra terdiam sebentar untuk memastikan kalau dia tidak salah membaca invoice itu.
"Nominalnya terlalu kecil untuk body painting mobil. El, kamu pergi ke bengkel mobil kan?"
Elena tertawa lirih.
"Menurutmu?" tanyanya santai. "Aku nggak mau kamu berpikir kalau aku mengambil kesempatan dari niat tanggungjawabmu itu, Barra. Jadi, aku pergi ke bengkel dan aku minta mereka untuk mengecat ulang bagian yang bermasalah. Selebihnya, mobilku baik - baik saja. Jadi, segitu nominal yang muncul."
"Bagian yang bermasalah?" tanya Barra dengan nada bicara yang sedikit meninggi. "Kenapa kamu nggak minta mereka untuk mengecat ulang seluruh bagian mobil, El?"
"Nggak perlu, Barra. Ini bukan soal bagian mana yang perlu dan nggak perlu untuk diperbaiki. Menurutku, dengan kamu menunjukkan tanggung jawabmu saja itu udah cukup."
Barra tertegun.
Dia menatap wanita yang sedang duduk di depannya itu dengan tatapan yang tajam.
Elena tampak seperti wanita pada umumnya yang cantik dengan riasan yang sederhana, pakaian yang rapih dan wangi vanila yang manis.
Cara bicaranya lembut dengan senyuman yang sesekali menghiasi bibirnya yang ranum.
Semakin lama diperhatikan, Elena terlihat cantik.
"Tanggung jawab?" tanya Barra lirih.
"Tentu saja. Apa yang bisa dilihat seorang lelaki kalau bukan dari tanggung jawabnya? Dan menurutku, kamu sudah tunjukkan itu. Jadi, apalagi yang harus kuminta darimu?"
Barra tertegun sebentar lalu tersenyum.
Dia letakkan kembali kertas itu di atas meja sembari berkata, "Biar nanti asistenku yang urus."
"Tentu. Kalau begitu, aku pergi ya." Elena bersiap bangkit dari duduknya.
"Pergi? Naik apa?"
"Taksi. Ojol. Banyak yang bisa kunaiki untukku pulang ke kafe, Barra."
"Kafe? Sounds good. Aku antar kamu ya," kata Barra sembari bergegas mengambil kunci mobil yang ada di atas meja kerjanya.
"Antar? A-aku bisa pulang sendiri, Barra."
"Tentu saja. Tapi aku mau antar kamu dengan bayaran secangkir kopi toraja. Bagaimana?"
Elenta terdiam.
***
Diana menunggu dengan ponselnya yang menempel di telinga kanannya.
Panggilannya berdering namun tidak ada jawaban.
Sudah dua kali dia mencoba menghubungi Barra melalui sambungan telepon, namun tidak ada satupun panggilannya yang terjawab.
Lelaki itu, meninggalkan ponselnya di mobilnya sementara dia berada di kafe bersama Elena yang beberapa kali tampak tertawa karena obrolannya yang menyenangkan dengan Barra.
Diana menghela napasnya perlahan sembari mematikan panggilan teleponnya yang tidak juga dijawab oleh Barra.
Mungkin dia sibuk. Pikir Diana.
Tidak lama kemudian, Melly datang.
"Hai, Sayangku!" sapanya dengan suaranya yang riang seperti biasanya.
Diana tidak menjawabnya. Dia hanya memerhatikan Melly yang datang dengan beberapa tas belanja di tangannya. Dia kelihatannya kerepotan sekali karena tas itu jumlahnya tidak kurang dari enam buah.