Barra sedang duduk di kursi makannya sendirian.
Secangkir kopi hitam menemaninya sementara Diana terlihat sibuk sekali di kamarnya.
Dia menyambar tasnya yang tergeletak dia tas meja riasnya, sedikit merapihkan rambut panjangnya, lalu berhambur keluar dengan ponsel yang terus - menerus berdering di tangannya.
Langkahnya cepat sekali menuruni anak tangga yang sedikit melengkung sehingga suara sepatunya terdengar mulai jelas di telinga Barra.
Tidak lama, Diana muncul dari arah belakang.
"Kamu sudah selesai sarapan?" tanya Diana yang mendapati piring bekas sarapan itu tergeletak begitu saja di dekat Barra.
"Barusan."
"Syukurlah. Aku harus ke butik sekarang. Veronika dan keluarganya akan datang sebentar lagi sedangkan baju yang akan mereka coba belum aku siapkan." Diana berkata sembari mengaduk cangkirnya yang berisi teh hangat yang dicampur lemon dan sedikit madu.
"Sepagi ini?" tanya Barra ragu.
"Banyak yang harus mereka urus, Sayang. Pernikahannya sebentar lagi dan semuanya belum siap. Ah, aku benar - benar stres."
"Ini yang nggak aku suka kalau kamu terlalu sibuk, Sayang."
Diana meneguk teh yang hangat itu hingga habis setengahnya dan berkata, "Aku tahu. Bersabarlah sedikit dan aku akan punya lebih banyak waktu untukmu di rumah. Sementara ini, biasakan dirimu."
Diana sedikit berbisik ketika mengatakan hal terakhir seakan itu adalah kalimat mengerikan yang harus keluar dari bibirnya.
Barra tertegun.
Dan kesibukan itu ternyata tidak hanya terjadi hari ini.
Hari - hari berikutnya, Diana semakin dibuat sibuk dengan persiapan pernikahan Veronica yang tinggal menghitung hari. Waktunya lebih banyak tersita di butik sehingga dia sering terlambat kembali pulang ke rumahnya.
Seperti hari ini.
Diana kembali ke rumahnya ketika malam semakin larut.
Langkahnya yang perlahan membawanya menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya di lantai dua dimana Barra sudah berada di sana sejak senja tadi.
Pintu terbuka.
Diana mematung sejenak memerhatikan sosok lelaki yang sedang duduk santai di atas meja tidurnya dengan sebuah buku yang sedang dia baca.
"Kamu baru pulang, Sayang?" tanya Barra.
"Seperti yang kamu lihat, Sayang," jawab Diana sembari melangkah menuju meja riasnya dan menjatuhkan dirinya di atas kursi itu.
Dia menatap wajahnya yang tampak sedikit kusam dengan rambut yang sedikit berantakan.
Hari yang melelahkan baru saja dia lewati.
Barra menyingkirkan selimut yang menutupi setengah tubuhnya lalu berjalan menghampiri Diana. Dia berdiri di belakangnya sembari mengusap dengan lembut bahu wanita itu.
Terkadang, sentuhan lembut seperti itu bisa sedikit meredakan rasa lelah yang menggelayuti pundak seorang wanita.
"Mandilah, Ana. Bersihkan tubuhmu dengan air yang hangat. Percayalah, air yang hangat bisa meredakan lelah yang sekarang menggelayuti tubuhmu."
Diana menatap Barra dari balik cermin dan di sana dia mendapati lelaki itu mengkhawatirkan dirinya. Sorot matanya yang sendu sudah cukup mengatakan bagaimana besarnya perhatian Barra untuknya.
Dan Barra benar.
Air yang hangat menyentuh kulitnya dengan lembut seakan membawa serta semua rasa lelah itu. Rasanya, melegakan sekali melepas apa yang membebaninya sedari tadi.
Diana menuang sabun di puff lembut berwarna pastel itu lalu membuat busa yang melimpah sebelum kemudian dia usapkan busa itu ke seluruh tubuhnya. Bahu, perut, punggung, tidak ada satu bagianpun dari tubuhnya yang terlewati begitu saja. Diana menaikan kaki kanannya agar dia bisa melumurinya dengan busa itu sebelum kemudian dia tersadar dia lupa untuk membawa handuknya.
"Sayang!" Diana mematikan keran air agar Barra bisa mendengar suaranya dengan jelas. "Bisa tolong kau ambilkan handuk untukku?"
Barra mendengar permintaan itu dan bergegas mengambilkan handuk baru yang biasa dia simpan di bagian atas lemari pakaiannya.
Lelaki itu mendorong pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat itu, lalu tertegun untuk sejenak.
Wanitanya sedang bersenandung lirih sembari menggosok tubuhnya dengan puff yang lembut itu.
Membelakanginya.
Rambut panjangnya yang basah terurai di belakang punggungnya yang melekuk sempurna. Setelah sekian tahun, Diana masih bisa menjaga tubuhnya agar tetap ideal.
Tingginya yang semampai dengan pinggang yang kecil dan perut yang ramping, Diana nyaris tidak berubah.
Barra mematung.
Entah bagaimana caranya, Diana selalu bisa membangkitkan hasrat dalam diri Barra sehingga tanpa sentuhan, tanpa kata - kata yang manis, hasrat untuk bercinta bisa muncul secara tiba - tiba.
Seperti malam ini.
Dia melangkah mendekat sementara Diana masih tidak menyadari kalau lelaki itu sudah berada di dekatnya.
Barra meletakkan handuk itu di dekat wastafel lalu melangkah menuju bilik tempat di mana Diana sedang menikmati waktu mandinya sendirian.
Diana membalikkan tubuhnya.
Dan terkejut.
"Astaga!" pekiknya.
Barra sudah berada begitu dekat dengannya, lengkap dengan pakaian tidurnya yang kini basah oleh semburan air yang hangat.
"Smells so good," kata Barra lirih.