Suara ketukan tongkat kayu berujung perunggu itu selalu berhasil membuat seisi rumah besar keluarga Wiratama terdiam. Namun, malam ini, ketukan itu tidak lagi terdengar di lantai marmer, melainkan tinggal kenangan yang membekas di sudut-sudut ruangan perpustakaan tua. Kakek mereka, Raden Mas Soedjarwo Wiratama, telah berpulang tiga hari yang lalu pada usia delapan puluh tujuh tahun. Warisan harta, tanah seluas ratusan hektare, serta pabrik-pabrik tekstil tersebar di berbagai kota telah dibagikan melalui notaris. Akan tetapi, ada satu warisan terakhir yang jauh lebih mengikat dan mematikan bagi masa depan cucu-cucunya: sebuah wasiat tertulis bermeterai enam ribu yang baru saja dibacakan oleh pengacara keluarga, Pak Budiman.
Shasmira mematung di kursinya, jemarinya meremas ujung kardigan wol abu-abunya dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap nanar selembar kertas putih di atas meja mahoni besar di hadapannya.
"Ini tidak masuk akal, Pak Budiman," suara Shasmira bergetar, memecah keheningan malam yang terasa semakin menyesakkan di dalam ruang baca peninggalan sang kakek. "Bagaimana mungkin Kakek memasukkan klausul perjodohan konyol seperti ini ke dalam surat kuasa terakhirnya? Ini tahun berapa? Ini bukan abad kesembilan belas!"
Pak Budiman, seorang pria paruh baya berjas rapi dengan kacamata berbingkai kawat, menghela napas panjang. Ia melipat kertas tersebut dengan hati-hati sebelum menatap Shasmira dengan pandangan penuh penyesalan bercampur ketegasan profesional.
"Nona Shasmira, almarhum Eyang Prabu adalah orang yang memegang teguh prinsip leluhur. Beliau percaya bahwa satu-satunya cara untuk menyatukan kembali kendali penuh atas Grup Wiratama dan melindungi aset keluarga dari kehancuran moral adalah melalui ikatan pernikahan yang sah antara dua pewaris utama trah Wiratama dan Kusuma," jelas Pak Budiman dengan nada tenang namun mutlak.
"Tapi bukan berarti harus dengan Arfan!" sergah Shasmira, suaranya meninggi, mencerminkan gejolak amarah yang sudah di ubun-ubun. "Arfan adalah pria paling arogan, dingin, dan egois yang pernah saya kenal seumur hidup saya. Dia menganggap wanita hanya sebagai aksesori kantor atau bawahan yang bisa diperintah semaunya!"
Dari sisi seberang meja, sesosok pria bersetelan jas hitam rapi tanpa dasi bersandar santai di kursi kulitnya. Arfan Baskoro Kusuma menatap Shasmira dengan sebelah alis terangkat. Wajahnya yang tegas dan tampan tampak dingin tanpa ekspresi, seolah-olah perdebatan ini tidak menyangkut masa depan hidupnya sama sekali.
"Kau pikir aku antusias dengan ide konyol ini, Shasmira?" suara Arfan terdengar berat, dingin, dan menusuk langsung ke jantung pertahanan Shasmira. "Jangan terlalu percaya diri. Menikah denganmu adalah hal terakhir di dunia ini yang ingin kulakukan. Tapi seperti yang Pak Budiman katakan, wasiat Kakek memiliki kekuatan hukum yang mutlak. Jika kita menolak, seluruh saham warisan kita akan disita oleh yayasan sosial, dan kita berdua akan diusir dari rumah ini tanpa sepeser pun."
Shasmira menoleh tajam ke arah Arfan, tatapan matanya menyalang penuh kebencian. "Kau selalu bisa diandalkan untuk bersikap dingin dan materialistis, Arfan. Yang kau pikirkan hanya uang, saham, dan kekuasaan!"
"Dan yang kau pikirkan hanyalah idealisme kekanak-kanakanmu yang tidak menghasilkan apa-apa selain drama," balas Arfan tajam, menegakkan duduknya dan menatap lurus mata Shasmira tanpa berkedip. "Dengar, Shasmira. Aku tidak peduli dengan perasaanmu, dan aku yakin kau pun tidak peduli padaku. Kita jalani saja sandiwara hukum ini selama satu tahun sesuai syarat di dalam wasiat, setelah itu kita bisa bercerai secara baik-baik dengan membawa bagian harta kita masing-masing. Selesai."
"Sandiwara?" Shasmira mendesis, napasnya memburu naik turun. "Kau pikir pernikahan adalah sandiwara panggung teater tempatmu bisa memainkan peran dan keluar kapan saja kau mau? Ini hidupku, Arfan!"
"Dan ini juga hidupku," potong Arfan dingin. "Pilihannya sederhana: ikuti wasiat Eyang, atau kita berdua jatuh miskin besok pagi. Silakan tentukan pilihanmu."
Pak Budiman berdehem pelan, berusaha meredakan ketegangan yang membakar udara di dalam ruangan tersebut. "Eyang Prabu memberikan waktu tepat tiga hari bagi kalian untuk menandatangani akta pranikah dan dokumen persetujuan ini. Jika dalam tiga hari tidak ada tanda tangan, maka seluruh klausul hibah otomatis batal demi hukum."
Shasmira merasa dunianya runtuh seketika. Selama ini ia hidup di bawah bayang-bayang perlindungan kakeknya yang menyayangi hobi melukis dan idealismenya. Namun, di saat terakhir sebelum pergi, sang kakek justru menjeratnya dalam sangkar emas yang dikunci oleh musuh bebuyutannya sendiri: Arfan Baskoro Kusuma.
❖ ❖ ❖
Dua hari berlalu dalam keheningan yang menyiksa di rumah besar tersebut. Shasmira menghabiskan waktunya di studio lukis di lantai atas, mencorat-coret kanvas dengan sapuan cat minyak merah dan hitam yang melampiaskan frustrasinya. Setiap goresan kuasnya adalah bentuk pemberontakan bisu terhadap takdir yang dipaksakan kepadanya. Namun, seberapa keras pun ia memberontak, kenyataan pahit tetap menanti di lantai bawah.
Pintu studionya terketuk tiga kali sebelum dibuka perlahan. Bibi Retno, pengurus rumah tangga paruh baya yang sudah mengabdi puluhan tahun di keluarga itu, masuk membawa secangkir teh chamomile hangat.
"Nona Shasmira, Anda belum makan apa-apa sejak kemarin sore," ucap Bibi Retno lembut, meletakkan cangkir itu di dekat palet cat. "Tubuh Anda bisa jatuh sakit jika terus begini."
Shasmira menurunkan kuasnya, mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan yang belepotan cat biru tua. "Bibi, apa Kakek benar-benar membenciku? Mengapa beliau tega menjodohkanku dengan pria sekejam Arfan sebelum beliau meninggal?"
Bibi Retno tersenyum tipis, merapikan helai rambut Shasmira yang berantakan. "Eyang Prabu sangat mencintai Anda, Nona. Justru karena beliau tahu watak keras kepala Anda dan watak dingin Tuan Arfan, beliau ingin menyatukan kalian. Beliau percaya di balik permusuhan kalian selama ini, ada potensi kekuatan besar yang bisa saling melengkapi."
"Melengkapi apanya, Bi? Kami bagai minyak dan air. Disatukan pun hanya akan memicu ledakan," keluh Shasmira sambil membuang muka ke arah jendela besar yang memperlihatkan taman belakang yang basah oleh hujan sore.
"Tuan Arfan sudah menunggu di ruang kerja bawah, Nona. Hari ini adalah batas waktu kedua sebelum penandatanganan besok pagi," kata Bibi Retno dengan nada mengingatkan.
Shasmira menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa keberanian di dalam dadanya. Ia membersihkan tangannya sekadarnya, merapikan bajunya, lalu melangkah menuruni anak tangga kayu satu per satu dengan langkah berat seolah sedang berjalan menuju tiang gantungan.
Di ruang kerja itu, Arfan sudah duduk di kursi dengan setumpuk dokumen tebal di depannya. Pria itu mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, menampakkan otot lengannya yang kokoh. Ketika mendengar pintu terbuka, Arfan mendongak. Tatapan tajamnya langsung mengunci sosok Shasmira yang berdiri di ambang pintu.
"Kau lambat," komentar Arfan datar.
"Aku tidak menyuruhmu menungguku," balas Shasmira tajam, berjalan mendekat dan menarik kursi tepat di hadapan Arfan. Ia duduk dengan postur tegak, menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak gentar. "Mana dokumennya? Biar aku tanda tangani sekarang dan akhiri penderitaan melihat wajahmu ini."
Arfan mendorong map kulit hitam berisi perjanjian pranikah itu ke hadapan Shasmira. Sebuah pulpen bertinta emas diletakkan tepat di atas garis tanda tangan.
"Baca dulu klausul nomor tujuh belas tentang pembagian aset perusahaan dan batasan privasi selama masa pernikahan satu tahun ini," ujar Arfan dingin. "Aku tidak mau di kemudian hari kau menuntut hal-hal di luar kesepakatan."
Shasmira membuka map tersebut dengan gerakan kasar. Matanya memindai barisan teks hukum yang rumit. Namun, ada satu pasal yang membuat matanya membelalak kaget.
"Tunggu dulu! Apa ini? Pasal sembilan belas ayat empat: Selama masa pernikahan, kedua belah pihak diwajibkan tinggal di bawah satu atap di kediaman utama Wiratama tanpa terkecuali," Shasmira mendelik menatap Arfan. "Kita harus tinggal serumah?!"