Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Rumah Besar yang Sepi

Langit sore di ibu kota bergeser perlahan, melukiskan gradasi warna jingga tua dan kelabu di balik jendela mobil sedan hitam yang membelah jalanan protokol. Shasmira merapikan letak selendang sutra abu-abunya, lalu menoleh sekilas ke arah Arfan yang duduk di sebelah kemudi. Pria itu tampak tenang, jemarinya mengetuk-ngetuk setir kemudi mengikuti irama musik instrumental yang mengalun lirih dari pengeras suara.

"Kita hampir sampai, Shas," ucap Arfan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan tol lengang yang mulai diterangi lampu-lampu jalan.

"Aku masih merasa seperti sedang bermimpi, Fan," balas Shasmira, suaranya terdengar begitu tipis di dalam kabin mobil yang kedap suara. "Semuanya terasa begitu cepat. Pernikahan kita, kepindahanku ke rumahmu... ini semua seperti babak baru yang belum sempat kupelajari naskahnya."

Arfan menepuk punggung tangan Shasmira lembut, memberikan kehangatan yang sesungguhnya sangat dibutuhkan wanita itu di tengah rasa asing yang menggelayut di dadanya.

"Kau tidak perlu mempelajari naskah apa pun," kata Arfan dengan senyuman tipis yang menenangkan. "Cukup jalani saja. Rumah itu milik kita sekarang. Kamu adalah nyonya di sana."

Mobil melambat saat memasuki kawasan perumahan elit yang dikelilingi pagar tinggi berornamen besi tempa hitam. Gerbang otomatis bergeser membuka tanpa suara begitu sensor mendeteksi kedatangan kendaraan mereka. Shasmira menahan napasnya tatkala mobil menelusuri jalan masuk beraspal mulus yang diapit oleh jajaran pohon palem tinggi berukuran raksasa.

Di ujung jalan setapak itu, sebuah bangunan megah bergaya arsitektur kolonial modern berdiri megah. Pilar-pilar putih menjulang tinggi menyangga teras depan yang luas, sementara lampu-lampu taman memancarkan pendar kuning temaram, menerangi fasad rumah yang tampak begitu dominan di bawah naungan malam yang kian pekat.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Arfan saat mesin mobil akhirnya dimatikan di depan pintu utama. Suara mesin yang mati menyisakan keheningan pekat yang seketika mencengkeram suasana.

"Sangat... besar," bisik Shasmira, matanya menyapu setiap sudut bangunan yang tampak megah namun menyimpan aura dingin yang sulit dijelaskan. "Dan begitu sunyi."

"Rumah ini memang luas, tapi kesunyian itu akan segera hilang karena kehadiranmu," ujar Arfan meyakinkan.

Pintu utama terbuka. Seorang wanita paruh baya berbusana rapi berdiri di ambang pintu dengan senyuman ramah menyambut kedatangan mereka. Wajahnya menyiratkan pengalaman bertahun-tahun dalam merawat kediaman sebesar itu.

"Selamat datang di rumah, Tuan Arfan, Nyonya Shasmira," sapa wanita itu membungkuk hormat. "Saya Bi Inah. Senang akhirnya bisa melayani Nyonya."

"Terima kasih, Bi Inah," jawab Shasmira mencoba tersenyum ramah meskipun jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Shasmira melangkah melewati ambang pintu, dan pada detik itulah ia merasakan gelombang keheningan yang berbeda. Suara derap sepatu mereka berdua memantul di atas lantai marmer putih yang mengkilap, menciptakan gema yang terasa asing di telinga. Ruang tamu utama sangat luas, dihiasi lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi, serta lukisan-lukisan abstrak berukuran besar yang menghiasi dinding berwarna krem. Namun, tidak ada suara tawa, tidak ada denyut kehidupan yang hangat. Ruangan itu tampak begitu rapi, steril, dan hampa.

"Kamar tidur utama ada di lantai dua, di sebelah barat," kata Arfan sambil menyerahkan tas tangan Shasmira kepada Bi Inah yang sigap membawanya. "Mari, aku tunjukkan jalan."

Mereka menaiki tangga melingkar berlapis karpet beludru merah tua. Setiap langkah di tangga itu membawa Shasmira semakin jauh dari hiruk-pikuk dunia luar, masuk ke dalam labirin kemewahan yang terasa kaku. Sepanjang koridor lantai dua, deretan pintu kayu jati berukuran besar tertutup rapat, menyembunyikan ruangan-ruangan yang belum pernah ia jamah.

"Apakah rumah ini selalu seluas dan sesepi ini sepanjang waktu, Fan?" tanya Shasmira saat mereka menyusuri koridor panjang bercahaya temaram.

Arfan berhenti sejenak di depan sebuah pintu ganda berukuran besar, lalu menatap istrinya lekat-lekat. "Dulu rumah ini terasa jauh lebih kosong, Shas. Sebelum kamu datang, aku jarang menghabiskan waktu di sini kecuali untuk tidur. Tapi sekarang, semuanya akan berbeda."

Arfan membuka pintu kamar utama. Ruangan di dalamnya sangat luas, mendominasi separuh sayap bangunan. Sebuah ranjang berukuran king size dengan seprai putih bersih berada di tengah ruangan, menghadap langsung ke dinding kaca besar yang memperlihatkan lanskap malam kota dari ketinggian.

"Istirahatlah jika kamu lelah," ucap Arfan lembut seraya mengelus puncak kepala Shasmira. "Aku harus memeriksa beberapa dokumen pekerjaan di ruang kerja bawah."

"Jangan terlalu malam, Fan," pinta Shasmira, jemarinya refleks menahan ujung lengan kemeja suaminya.

"Aku akan segera kembali," janji Arfan sebelum melangkah keluar dari kamar.

Pintu tertutup rapat, meninggalkan Shasmira sendirian di dalam kamar yang begitu megah. Ia berjalan menuju jendela kaca besar, memandangi kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan. Bayangan wajahnya sendiri terpantul di permukaan kaca, tampak kecil dan rapuh di tengah ruangan yang begitu luas.

❖ ❖ ❖

Malam merangkak naik, membawa serta keheningan yang semakin pekat menyelimuti penjuru rumah. Shasmira memutuskan untuk turun ke lantai bawah guna segelas air hangat. Suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dibandingkan saat ia baru tiba tadi. Lampu-lampu koridor dipadamkan sebagian, menyisakan pendar redup yang justru memperkuat kesan angker dari arsitektur klasik rumah tersebut.

Saat menuruni anak tangga terakhir, langkah Shasmira terhenti seketika. Dari arah lorong timur lantai dasar, ia mendengar suara decitan pintu yang dibuka perlahan, disusul oleh suara langkah kaki yang berat dan lambat.

"Fan?" panggil Shasmira ragu-ragu, suaranya bergetar memecah kesunyian malam.

Tidak ada jawaban. Langkah kaki itu terhenti. Shasmira menelan ludahnya dengan susah payah, merasakan bulu kuduknya meremang. Ia melangkah perlahan menuju arah sumber suara, menyusuri koridor yang menuju ke bagian belakang rumah tempat ruang kerja Arfan berada.

"Siapa di sana?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas meskipun hatinya diliputi rasa cemas.

Pintu ruang kerja Arfan sedikit terbuka, memperlihatkan secercah cahaya kuning dari dalam ruangan. Shasmira mendekat dan mendorong daun pintu tersebut dengan ujung jarinya.

"Fan, kamu belum tidur—" ucapan Shasmira terpotong di tenggorokan.

Ruangan itu kosong. Arfan sama sekali tidak ada di sana. Komputer di atas meja kerja dalam keadaan mati, dan dokumen-dokumen tersusun rapi tanpa ada tanda-tanda baru disentuh. Yang ada di ruangan itu hanyalah sebuah jendela besar yang terbuka setengah, membiarkan angin malam berhembus masuk, mengibarkan tirai putih tipis.

Shasmira terpaku di ambang pintu, jantungnya berdegup kencang menghantam tulang rusuknya. Jika Arfan tidak ada di ruang kerja, lalu suara siapa yang ia dengar barusan? Dan siapa yang membuka pintu itu?

Tiba-tiba, sebuah tangan hangat menyentuh pundaknya dari belakang. Shasmira terpekik tertahan dan hampir melompat karena terkejut.

"Shas? Ada apa? Kenapa kamu belum tidur?" suara Arfan terdengar tepat di dekat telinganya.

Lihat selengkapnya