Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Dua Kutub yang Berbeda

Udara pagi di kawasan perkebunan teh Malabar terasa menembus pori-pori, membawa serta embun yang menggantung di ujung-ujung daun hijau muda. Di teras sebuah vila kayu bergaya kolonial yang menghadap langsung ke lembah, dua cangkir teh hitam panas mengepulkan uap tipis ke udara dingin. Arfan duduk di kursi rotan dengan punggung tegak lurus, menatap lembar demi lembar laporan keuangan dan catatan agronomi yang baru saja dicetaknya dari laptop. Kemeja flanel berkerah rapi dan celana bahan yang ia kenakan mencerminkan karakternya yang tidak kenal kompromi terhadap kerapian dan keteraturan.

"Arfan, kamu sudah cek jadwal untuk hari ini? Mandor bilang para pekerja di Blok C butuh keputusan cepat soal rotasi pemetikan," suara berat Pak Haryanto, supervisor senior perkebunan, memecah keheningan pagi.

Arfan mendongak, matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tipis menatap seniornya itu dengan saksama. "Sudah, Pak. Saya sudah buat draf efisiensi kerja tiga hari lalu. Menurut perhitungan saya, kalau kita tetap ikuti pola lama, biaya operasional bisa bengkak sampai empat belas persen di akhir kuartal ini. Jadi, saya putuskan untuk memangkas waktu istirahat siang sepuluh menit dan mengalihkannya ke penambahan kuota keranjang."

Pak Haryanto menghela napas panjang, menggelengkan kepala perlahan. "Arfan, teori di atas kertas itu bagus, tapi di lapangan manusia bukan mesin. Mereka butuh napas, terutama di medan curam seperti Blok C."

"Teori yang benar adalah teori yang bisa diterapkan dengan disiplin ketat, Pak. Tanpa disiplin, angka-angka ini cuma jadi pajangan," jawab Arfan tegas, tanpa nada keraguan sedikit pun dalam suaranya. Bagi Arfan, hidup adalah rumus matematika yang harus diselesaikan dengan presisi mutlak. Kesalahan sekecil apa pun adalah bentuk ketidakseriusan.

Tepat saat perdebatan kecil itu hampir berlanjut, suara deru mesin mobil SUV mewah memecah ketenangan pagi, disusul decitan ban yang berhenti di halaman berbatu kerikil vila. Pintu mobil terbuka, dan muncullah sosok yang langsung menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Shasmira turun dengan mengenakan kacamata hitam besar, mantel wol berpotongan desainer terkenal, dan sepatu bot kulit yang tampak sama sekali belum pernah menginjak tanah berlumpur. Ia melangkah anggun namun terlihat jelas kebingungan menghadapi lanskap alam terbuka yang liar.

"Ya ampun, tempat apa ini? Sinyal handphone saya benar-benar mati total dari dua kilometer sebelum gerbang tadi," seru Shasmira dengan nada manja seraya melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan wajah yang dirias sempurna meski baru saja menempuh perjalanan jauh. Ia mengibaskan rambut panjangnya yang tertata rapi. "Mana kamar mandinya? Dan tolong, siapa pun yang bertugas di sini, bawakan koper saya yang warna gading itu dengan hati-hati. Isinya produk perawatan kulit semua."

Arfan berdiri dari kursi rotannya, melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi wajah yang langsung mengeras. Ia menatap Shasmira dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai yang penuh sinisme terselubung. Di mata Arfan, wanita di hadapannya ini adalah lambang dari segala hal yang paling ia benci: ketidakmampuan beradaptasi, ketergantungan berlebihan pada kemewahan, dan sikap manja yang seolah dunia berputar mengelilingi kenyamanan pribadinya.

"Selamat datang di Perkebunan Malabar, Nona Shasmira," ucap Arfan dengan nada datar, dingin, dan penuh penekanan formalitas. "Di sini tidak ada pelayan pribadi yang siap sedia membawakan barang-barang berharga Anda. Anda datang ke tempat kerja, bukan ke resor liburan akhir pekan."

Shasmira langsung menoleh, mengerjap, lalu menatap Arfan dengan pandangan tak percaya. Alisnya yang terbentuk sempurna terangkat tinggi. Ia melihat seorang pria muda berpenampilan kaku, berwajah dingin, yang menyambut kedatangannya bukan dengan secangkir teh hangat atau sapaan ramah, melainkan dengan ceramah moral tentang kedisiplinan kerja.

"Maaf? Anda bicara sama saya dengan gaya seperti itu?" tanya Shasmira dengan nada tinggi, melangkah mendekati Arfan dengan dagu terangkat. "Saya ke sini karena diminta oleh dewan komisaris untuk meninjau ulang portofolio estetika dan pemasaran agrowisata, bukan untuk dihakimi oleh manajer lapang yang berpakaian seperti hendak menghadapi sidang pengadilan di hari Minggu."

"Dan Anda datang terlambat dua jam dari jadwal yang saya tentukan," balas Arfan tanpa bergeming sedikit pun dari posisinya, suaranya tetap tenang namun menusuk. "Keterlambatan di tempat saya adalah awal dari kekacauan sistemik. Kalau Anda tidak bisa menghargai waktu, bagaimana mungkin Anda bisa menghargai nilai dari tempat ini?"

"Astaga, kamu ini kaku sekali, ya!" Shasmira mendengus kesal, melipat tangannya di dada dengan gaya menantang. "Hidup itu bukan cuma soal jam dan menit, Tuan Manajer. Ada seni dalam menikmati perjalanan, ada ruang untuk fleksibilitas. Pantas saja wajahmu kelihatan tegang terus, sepertinya kamu belum pernah tertawa seumur hidupmu."

"Saya dibayar untuk mengurus produktivitas perkebunan, bukan untuk menjadi badut penghibur," sahut Arfan tajam.

Pak Haryanto berdehem keras, berusaha mendinginkan suasana yang mendadak membeku di antara dua orang dengan kutub kepribadian yang bertolak belakang itu. "Sudah, sudah. Shasmira, mari saya tunjukkan kamarmu di sayap timur vila. Arfan, tolong siapkan data produksi minggu lalu di ruang kerja utama setelah ini."

Shasmira mendengus pelan, melemparkan satu tatapan tajam penuh ketidaksukaan kepada Arfan sebelum berlalu mengikuti Pak Haryanto. Sementara itu, Arfan kembali duduk, menarik napas dalam-dalam, dan membatin bahwa kehadiran anak direktur utama ini hanya akan menjadi beban berat bagi kelangsungan operasional yang sudah ia tata sedemikian rupa.

❖ ❖ ❖

Matahari kini telah bergeser ke atas kepala, memancarkan terik yang cukup menyengat meski angin pegunungan tetap berhembus dingin. Di ruang kerja utama vila yang dipenuhi aroma kayu tua dan tumpukan peta topografi, ketegangan antara Arfan dan Shasmira kembali memuncak dalam skala yang lebih nyata. Shasmira masuk ke ruangan tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, mengenakan setelan kasual modis yang tetap tampak tidak cocok untuk medan perkebunan. Di tangannya terdapat selembar dokumen cetak penuh coretan tinta merah.

"Arfan, penjelasan apa ini? Kamu menolak seluruh proposal renovasi gazebo estetika yang saya ajukan untuk titik swafoto wisatawan?" Shasmira melempar kertas itu di atas meja kerja Arfan, tepat di atas tumpukan laporan pupuk organik.

Arfan mendongak perlahan, menatap kertas yang melayang di hadapannya sebelum mengarahkan pandangannya langsung ke mata Shasmira. "Proposal itu tidak realistis, Shasmira. Anggaran yang kamu ajukan untuk dekorasi kayu jati impor dan lampu gantung bohemian itu bisa membiayai pembelian bibit teh unggulan untuk dua hektar lahan baru. Prioritas kita di sini adalah hasil panen, bukan tempat berswafoto yang tidak menghasilkan tonase apa pun."

"Kamu benar-benar tidak punya visi seni sama sekali!" Shasmira mencengkeram tepi meja kerja Arfan, tubuhnya condong ke depan. "Wisatawan zaman sekarang datang bukan cuma untuk melihat daun teh mentah, mereka mencari pengalaman visual. Kalau tempat ini terlihat kuno dan membosankan seperti gudang logistik tentara, tidak akan ada satu pun pengunjung kelas atas yang mau datang kemari."

"Dan kalau perkebunan ini bangkrut karena uangnya habis dipakai untuk mempercantik tempat swafoto, wisatawan kelas atas itu tetap tidak akan bisa datang karena jalannya sudah ditutup oleh bank," balas Arfan dengan nada dingin, suaranya tidak bergeming sedikit pun dari logika finansial yang iapegang teguh.

Shasmira mendengus keras, menarik napas dengan dada yang naik turun menahan amarah. "Kamu itu keras kepala, kaku, dan tidak punya empati pada keindahan! Kamu melihat segala sesuatu hanya sebagai angka di atas kertas excel. Apakah selama hidupmu kamu tidak pernah menikmati sesuatu hanya karena hal itu indah, tanpa harus memikirkan keuntungan modalnya?"

"Keindahan tanpa fungsi adalah pemborosan, Shasmira," jawab Arfan, berdiri dari kursinya hingga tinggi badan mereka kini berjarak sangat dekat. Tatapan Arfan menyiratkan ketidaksukaan yang mendalam terhadap pola pikir Shasmira yang ia anggap naif dan kekanak-kanakan. "Dan sifat manja serta ketergantunganmu pada standar hidup mewah adalah bentuk pengingkaran terhadap realitas kerja keras orang-orang di luar sana yang memeras keringat setiap hari."

"Jangan pernah sebut saya manja!" Shasmira berseru, suaranya bergetar karena emosi yang meluap-luap. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang saya, Arfan! Kamu hanya menilai dari luar tanpa pernah mau mengerti bahwa estetika adalah cara lain untuk menghidupkan tempat ini!"

"Kalau begitu buktikan," tantang Arfan tiba-tiba, suaranya merendah namun penuh ancaman terselubung. "Besok pagi, ikut saya turun langsung ke Blok C. Tanpa sepatu desainer, tanpa payung pelindung matahari, dan tanpa keluhan. Kita lihat berapa lama wanita manja sepertimu bisa bertahan di tengah lumpur perkebunan."

Shasmira tertegun sejenak, namun harga dirinya yang tinggi menolak untuk mundur. Ia menatap tajam mata Arfan, menantang balik tanpa ragu. "Baik! Siapa takut? Besok pagi, saya akan tunjukkan kepada Tuan Manajer yang kaku ini bahwa saya bekerja jauh lebih baik daripada prasangka burukmu!"

Lihat selengkapnya