Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Batas Garis Tak Kasat Mata

Udara di dalam rumah susun sederhana itu terasa begitu padat, hampir menyerupai uap air yang mengambang di atas panci rebusan. Langit-langit ruangan yang rendah membuat setiap suara beresonansi lebih tajam dari biasanya. Di sudut ruang tamu, sebuah meja kayu jati tua dengan cat yang mulai mengelupas menjadi satu-satunya pembatas tak resmi antara dua dunia yang dipaksakan melebur.

Di sisi kiri meja, tumpukan berkas laporan keuangan kantor berhamburan tidak beraturan, mencerminkan kekacauan pikiran pemiliknya. Di sisi kanan, deretan buku tebal tersusun rapi tegak lurus membentuk benteng kecil yang angkuh.

"Kau menggeser tempat cangkir kopi lagi," suara Aris memecah keheningan sore itu, datar namun menyiratkan ketegangan yang tertahan lama.

Maya mendongak dari balik layar laptopnya. Cahaya biru monitor memantul di kacamata bacanya. Ia tidak langsung menjawab. Jari-jarinya masih menyelesaikan ketikan terakhir sebelum akhirnya menarik napas perlahan. "Cangkir itu berada tepat di atas garis imajiner yang kita sepakati minggu lalu, Aris. Tidak kurang, tidak lebih."

"Garis imajiner?" Aris mendengus pelan, setengah tertawa sinis. "Sejak kapan rumah kita berubah menjadi perbatasan negara yang memerlukan traktat damai?"

"Sejak hari pertama kita memutuskan untuk bertahan di bawah satu atap yang sama tanpa ada rasa saling percaya yang utuh," balas Maya tajam, matanya menatap lurus tanpa gentar.

Aris bangkit dari sofa, merapikan kemeja katunnya yang sudah kusut karena duduk terlalu lama. Langkah kakinya bergemerincing kecil di atas lantai keramik putih yang dingin. "Kau selalu memperumit segalanya. Ini hanya sebuah cangkir kopi."

"Ini bukan tentang cangkir, Aris. Ini tentang batas. Tentang wilayah privasi yang kau langgar setiap kali kau merasa berhak mengatur ruang gerakku."

"Ruang gerak?" Aris balas menatap, suaranya kini meninggi satu oktaf. "Kita suami istri, Maya. Setidaknya di atas kertas dan di hadapan hukum negara serta keluarga besar kita. Ruang apa lagi yang ingin kau pisahkan?"

"Ruang di mana aku bisa bernapas tanpa harus merasa diawasi oleh penghakiman bisu di setiap gerak-gerikku."

Percakapan itu terhenti begitu saja, digantikan oleh dengung monoton dari lemari es tua di sudut dapur kecil. Keduanya tahu persis bahwa pertengkaran kecil ini hanyalah puncak dari gunung es masalah yang jauh lebih besar dan dalam.

❖ ❖ ❖

Malam semakin larut, namun tidak ada di antara mereka yang beranjak ke kamar tidur utama. Pintu kamar itu tertutup rapat, seolah menjadi monumen bagi jarak emosional yang terbentang di antara keduanya. Aris memilih merebahkan diri di atas sofa panjang ruang tamu, sementara Maya tetap terpaku di kursi kerjanya, mendengarkan setiap hela napas dan pergerakan kecil dari luar kamar.

Suara gesekan kain sofa terdengar saat Aris membalikkan badan. "Kau belum tidur?" tanyanya dalam kegelapan, suaranya terdengar serak.

"Belum," jawab Maya singkat dari balik bayangan lampu meja.

"Sampai kapan kita akan hidup seperti ini, Maya? Seperti dua orang asing yang terjebak di dalam lift rusak."

Maya terdiam sejenak. Jari-jarinya meraba permukaan meja kayu yang dingin. "Sampai kau mengerti arti dari batas garis itu."

"Batas yang kau buat sendiri," timpal Aris. "Kau membangun tembok tinggi, lalu mengeluh karena merasa kesepian di dalamnya."

"Tembok itu kubangun karena aku tahu, jika aku membukanya sedikit saja, kau akan menghancurkan sisa-sisa kewarasanku."

"Apakah sebegitu mengerikannya hidup bersamaku?" Aris bangkit dari posisinya, duduk menatap siluet Maya dalam remang cahaya lampu jalan yang menembus jendela kaca berdebu.

"Bukan hidupnya yang mengerikan, Aris. Tapi ketidakpastiannya. Kau ada di sini secara fisik, tapi pikiran dan rahasiamu melayang entah di mana. Kau membawa pulang beban dari luar, lalu menumpahkannya begitu saja di ruang keluarga kita seolah aku adalah tempat pembuangan akhir."

"Aku bekerja keras untuk rumah tangga ini!" suara Aris bergetar, memendam amarah yang nyaris meledak.

"Dan aku juga bekerja keras untuk mempertahankan kewarasanku di tengah situasi ini!" Maya balas membentak, berdiri dari kursinya. "Kita sama-sama berjuang, tapi kita berjuang di medan perang yang berbeda, dengan musuh yang saling bertentangan."

Keheningan kembali merayap, jauh lebih pekat dari sebelumnya. Titik jepit pertama ini telah menguji ketahanan mental mereka hingga batas maksimal. Tidak ada jalan keluar yang instan, dan setiap kata yang terucap justru semakin mempersempit ruang gerak mereka di dalam rumah mungil itu.

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, menciptakan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai ruang tamu. Aris sudah bangun lebih dulu. Di atas meja dapur, sebuah teko air panas masih mengepulkan uap tipis, bersanding dengan dua cangkir bersih yang diletakkan berdampingan secara presisi—tepat di batas garis imajiner yang dipermasalahkan semalam.

Lihat selengkapnya