Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Refleksi Pagi Pertama

Waktu merayap lambat saat sarapan pertama dilewati tanpa sepatah kata. Cangkir-cangkir keramik putih tersusun rapi di atas meja kayu jati yang mulai mengelupas di sudut-sudutnya. Aroma kopi tubruk mengepul tipis, berpadu dengan bau embun pagi yang menguar dari jendela kaca berembun. Di luar, kabut tebal masih memeluk dahan-dahan pohon pinus, menyembunyikan batas antara halaman belakang rumah dan hutan lindung di lereng bukit.

Aris menatap pantulan dirinya di permukaan kopi yang hitam legam. Wajahnya tampak lelah, garis-garis kecemasan tercetak jelas di sekitar mata dan sudut bibirnya. Malam tadi, tidur mereka tidak lebih dari sekadar pelarian singkat dari kenyataan yang menekan. Tidak ada sapaan selamat pagi, tidak ada percintaan basa-basi yang biasa mengawali hari-hari mereka di kota. Yang ada hanya keheningan—keheningan yang terasa lebih bising daripada deru lalu lintas jalan tol ibukota.

Di kursi seberang, Maya duduk dengan pandangan kosong tertuju pada sepotong roti panggang yang belum tersentuh. Jemarinya memutar-mutar sendok teh kecil secara berulang-ulang, menciptakan bunyi berdencing pelan yang memecah sunyi ruangan. Baju tidur flanel kebesaran yang ia kenakan seolah menegaskan betapa susut tubuhnya dalam beberapa minggu terakhir. Beban pikiran, keputusan mendadak untuk meninggalkan kota, dan bayang-bayang masa lalu yang belum tuntas meredupkan binar di matanya.

"Kopi itu bakal dingin kalau cuma kamu pelototin terus, Ris," suara Maya akhirnya memecah kebekuan, serak dan datar, tanpa sedikit pun energi di dalamnya.

Aris mendongak, menarik napas panjang sebelum menjawab, "Aku lagi mikir, Maya. Apa keputusan kita buat pindah ke sini bener-bener langkah yang tepat, atau kita cuma lari dari masalah tanpa sadar kalau masalah itu ikut ngekor ke tengah hutan?"

Maya mendengus pelan, senyum sinis tersungging tipis di bibirnya. "Lari? Kamu pikir aku mau tinggal di tempat antah berantah ini atas dasar kemauan sendiri? Ini bukan pelarian, Aris. Ini kuburan hidup. Kita dikubur hidup-hidup sama keadaan."

"Tapi kita butuh ruang buat napas," balas Aris, nadanya mulai meninggi meski ia berusaha menahannya agar tidak pecah menjadi pertengkaran pagi. "Di kota, setiap sudut jalan isinya tuntutan. Utang, tagihan, tatapan orang-orang yang seolah menghakimi setiap langkah kita. Di sini? Kita punya ketenangan."

"Ketenangan macam apa kalau isi kepala kita sendiri ribut?" Maya meletakkan sendok tehnya dengan agak keras ke atas piring, menciptakan suara nyaring yang membuat cangkir Aris ikut bergetar. "Jangan bohongi diri sendiri, Ris. Sepi ini bukan mendamaikan, tapi ngebunuh kita pelan-pelan."

Percakapan terhenti begitu saja. Tidak ada yang melanjutkan kalimat. Keduanya kembali terkurung dalam benteng pikiran masing-masing, sementara waktu terus merayap lambat diiringi derik jam dinding tua yang tergantung di atas pintu dapur. Pagi pertama di rumah warisan kakek ini tidak menyambut mereka dengan kehangatan, melainkan sebuah ujian kesabaran yang tak kasat mata.

Aris bangkit dari kursinya, mendorong kursi kayu hingga bergeser kasar di atas lantai semen. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke lembah. Tangannya meraba permukaan kaca yang dingin. Di kejauhan, kabut perlahan-lahan mulai terangkat, menyingkap barisan bukit hijau yang tampak asing dan mengintimidasi. Rumah ini terletak di ujung jalan setapak, terisolasi dari desa terdekat yang berjarak hampir lima kilometer. Tidak ada sinyal ponsel, tidak ada jaringan internet, dan yang paling menakutkan, tidak ada jalan kembali yang mudah jika keadaan semakin memburuk.

"Aku mau keliling sebentar, ngecek kondisi luar," kata Aris tanpa menoleh ke arah istrinya.

"Jangan lama-lama," sahut Maya dingin. "Aku nggak mau sendirian di rumah ini kelamaan. Tempat ini... kerasa ada yang merhatiin."

Aris tidak menjawab. Ia hanya meraih jaket tebal di gantungan pintu, lalu melangkah keluar rumah. Udara dingin langsung menusuk pori-porinya begitu pintu kayu berderit terbuka. Langkah kakinya memecah reruntuhan daun pinus basah di halaman. Ia menatap bangunan tua itu dari luar—cat putihnya yang sudah mengelupas di sana-sini, atap genteng tanah liat yang ditumbuhi lumut hijau tebal, serta beranda sempit tempat mereka duduk semalam. Rumah ini menyimpan banyak cerita masa kecilnya, tetapi hari ini, rumah itu terasa seperti penjara lapang yang sengaja disiapkan semesta untuk mengurung dosa-dosa mereka.

❖ ❖ ❖

Langkah kaki Aris membawanya semakin jauh dari pekarangan rumah, menuruni jalan setapak setapak yang tertutup semak belukar. Di titik ini, sekitar satu kilometer dari rumah, batas hutan lindung mulai terasa begitu pekat. Pepohonan besar menjulang tinggi menutupi hampir seluruh cahaya matahari pagi, menciptakan jalur-jalur temaram di antara batang-batang pohon yang berlumut.

Di sinilah titik jepit pertama itu bermula. Jalan setapak yang tadinya jelas tiba-tiba menyempit, diapit oleh dua tebing tanah curam yang ditumbuhi akar-akar gantung raksasa. Udara di tempat ini terasa jauh lebih dingin, lembap, dan berbau tanah basah yang menyengat. Aris berhenti sejenak, mengatur napasnya yang mulai memburu akibat jalur pendakian yang cukup terjal.

Tiba-tiba, ia mendengar suara gemerisik di semak-semak sebelah kiri.

"Siapa di sana?" Aris berseru, suaranya memantul di antara dinding tebing yang sempit.

Tidak ada jawaban. Hanya angin pagi yang mendesah melewati tajuk pohon pinus, menciptakan bunyi gemerisik yang menyerupai bisikan panjang. Aris mengerutkan kening, merasakan bulu kuduknya meremang. Ia melangkah maju perlahan, matanya menatap tajam ke arah semak-semak belukar yang bergerak pelan.

Dari balik daun-daun pakis yang lebat, sesosok bayangan kecil melesat cepat, menghilang ke dalam lebatnya hutan. Aris tertegun. Itu bukan binatang liar seperti babi hutan atau anjing peliharaan warga. Bentuknya menyerupai anak kecil, mengenakan pakaian kusam berwarna gelap, bergerak dengan kelincahan yang tidak wajar di atas medan yang curam.

"Hei! Tunggu!" teriak Aris lagi, kali ini rasa penasarannya mengalahkan rasa takut.

Ia nekat menerobos semak-semak, mengikuti arah bayangan tersebut. Namun, setelah berlari beberapa puluh meter menembus belukar, ia justru mendapati dirinya berdiri di sebuah tanah lapang kecil yang asing. Di tengah tanah lapang itu, berdiri sebuah batu besar berbentuk aneh—menyerupai manusia yang sedang berlutut dengan kepala menunduk ke tanah. Permukaan batu tersebut ditumbuhi lumut merah darah yang kontras dengan warna abu-abu batu di sekitarnya.

Aris mendekati batu itu dengan jantung berdegup kencang. Ada sesuatu yang sangat janggal pada tempat ini. Di sekeliling batu, tertancap beberapa patah ranting kayu yang disusun dalam pola lingkaran yang rapi, seolah-olah menandai batas atau sebuah ritual tertentu.

"Aris!"

Suara teriakan Maya memecah keheningan hutan. Suara itu terdengar begitu dekat, namun sekaligus menggema seolah berasal dari dalam tanah.

Aris berbalik panik. "Maya! Aku di sini! Di dekat batu besar!"

Lihat selengkapnya