Suara alarm berdering tepat pukul enam pagi dari nakas kayu jati di sisi ranjang besar kamar utama. Shasmira meraba-raba permukaannya dengan mata masih terpejam rapat, berusaha memadamkan suara bising yang memecah keheningan pagi. Begitu tombol snooze ditekan, keheningan kembali merayap, membawa serta kesadaran penuh tentang di mana ia berada sekarang—di dalam kamar luas bersayap barat kediaman Wiratama, terikat secara hukum dengan pria yang paling dihindarinya seumur hidup.
Ia bangkit duduk, merapikan selimut tipis berwara kelabu, lalu melangkah gontai menuju jendela besar yang menghadap ke halaman samping. Tirai beludru dibuka lebar, membiarkan cahaya matahari pagi menerobos masuk, menyinari debu-debu halus yang berterbangan di udara. Hari ini adalah hari Senin pertama setelah pernikahan mereka memasuki pekan keenam. Pernikahan yang awalnya dipenuhi oleh pertengkaran meledak-ledak kini telah berubah bentuk menjadi sesuatu yang jauh lebih melelahkan: sebuah rutinitas dingin tanpa jiwa.
"Kau sudah bangun?" sebuah suara bariton yang berat dan datar mendadak terdengar dari arah pintu penghubung yang setengah terbuka.
Shasmira menoleh sekilas. Arfan berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja putih lengan panjang yang belum dikancingkan sempurna pada bagian kerahnya, memperlihatkan garis leher dan rahang tegasnya yang khas setiap pagi. Pria itu sudah tampak segar, seolah telah menghabiskan waktu setidaknya satu jam untuk berolahraga sebelum bersiap ke kantor.
"Ya, seperti yang kaulihat," jawab Shasmira ketus, berjalan melewati Arfan menuju kamar mandinya sendiri tanpa memandangnya lebih lama. "Kau tidak perlu mengecekku setiap pagi seperti seorang narapidana."
"Aku tidak mengecekmu," balas Arfan dingin, suaranya menggema di koridor kamar mandi. "Aku hanya memastikan aturan sarapan pukul tujuh pagi tidak kau langgar demi menghindari tatapan para staf."
Shasmira menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar mandi, mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. "Aku tidak pernah melanggar aturan konyolmu itu, Arfan. Jangan bersikap seolah aku ini anak kecil yang harus selalu diawasi."
"Baguslah kalau kau ingat," sahut Arfan datar sebelum langkah sepatunya terdengar menjauh menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
Beberapa menit kemudian, Shasmira sudah duduk di meja makan panjang berlapis marmer putih. Kursi itu berjarak hampir dua meter dari kursi tempat Arfan duduk. Di antara mereka terbentang sepiring roti panggang, semangkuk buah segar, serta secangkir kopi hitam milik Arfan dan teh chamomile milik Shasmira. Tidak ada sapaan selamat pagi, tidak ada obrolan ringan tentang cuaca atau berita harian. Suasana meja makan itu terasa begitu kaku, bagaikan ruang tunggu rumah sakit yang sunyi.
"Hari ini aku akan pulang terlambat," ujar Arfan memecah keheningan, matanya tetap tertuju pada layar ponsel pintar di samping piringnya yang menampilkan grafik saham pagi. "Ada rapat darurat dengan dewan komisaris terkait proyek tekstil di Bandung."
Shasmira mengaduk tehnya pelan tanpa menatap Arfan. "Terserah. Kau tidak perlu melaporkan jadwal harianmu padaku. Kita bukan pasangan suami istri sungguhan yang harus saling mencocokkan waktu kepulangan."
"Aku memberitahumu bukan untuk meminta izin, Shasmira," Arfan mendongak, menatap Shasmira dengan tatapan tajam dan dingin. "Aku mengatakannya agar kau tidak membuat alasan kekanak-kanakan di depan Bibi Retno seolah aku menelantarkanmu di rumah ini."
Shasmira mendengus sinis, meletakkan sendok kecilnya hingga beradu nyaring dengan cangkir porselen. "Oh, jadi semua ini demi menjaga citra keluarga besar Wiratama di depan para pelayan? Tenang saja, Tuan Arfan Baskoro yang terhormat. Aku sangat menikmati pelarianku di galeri seniku sendiri. Berada jauh darimu adalah hal paling menenangkan sepanjang hariku."
"Baguslah kalau begitu," Arfan berdiri dari kursinya dengan gerakan tenang, menyambar jas hitam yang tersampir di sandaran kursi, lalu mengenakannya. "Kesibukan kita masing-masing adalah cara terbaik untuk menjalani sandiwara ini tanpa harus saling menyiksa. Nikmati harimu di galeri."
Tanpa menunggu jawaban Shasmira, Arfan melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Suara deru mesin mobil sedan mewahnya terdengar perlahan meninggalkan halaman rumah, menandakan dimulainya jam-jam panjang kesunyian bagi Shasmira.
Bibi Retno muncul dari balik pintu dapur dengan membawa nampan kecil, wajah tua wanita itu menyiratkan keprihatinan yang mendalam. "Nona, kalian tidak seharusnya terus-menerus saling melukai dengan kata-kata dingin seperti itu setiap pagi."
Shasmira menghela napas panjang, merilekskan bahunya yang tegang. "Kami tidak saling melukai, Bi. Kami hanya... sedang menjalani peran kami masing-masing. Pekerjaan adalah pelarian terbaik bagi kami berdua."
❖ ❖ ❖
Menjelang pukul sembilan pagi, Shasmira sudah berada di galeri seni miliknya di pusat kota—sebuah bangunan tua berlantai dua yang direnovasi dengan gaya industrial modern, dipenuhi oleh bau cat minyak, kanvas putih, dan pameran lukisan abstrak karya seniman muda lokal. Galeri ini adalah dunianya, tempat ia bisa melarikan diri dari bayang-bayang tekanan keluarga dan dinginnya pernikahan kontrak yang mengekangnya.
"Pagi, Shas!" sapa Maya, manajer galeri sekaligus sahabat karib Shasmira, berjalan mendekat sambil membawa dua cangkir kopi susu hangat. "Wajahmu tampak kusut sekali hari ini. Ada masalah lagi dengan sang suami tercinta di rumah?"
Shasmira menerima cangkir kopi itu, meniup permukaannya pelan sebelum duduk di kursi kerjanya yang menghadap langsung ke jalan raya. "Jangan panggil dia suami tercinta, Maya. Mual rasanya mendengarnya. Dia adalah bentuk nyata dari kedisiplinan militer yang dipindahkan ke dalam tubuh seorang CEO."
Maya tertawa kecil, menarik kursi di seberang meja Shasmira. "Hei, kudengar dari berita bisnis minggu lalu, Arfan baru saja mengambil alih proyek ekspansi tekstil terbesar di Asia Tenggara. Pria itu memang gila kerja. Tapi, jujur saja ya, Shas, kalian berdua ini sebenarnya mirip. Sama-sama keras kepala, sama-sama dingin di luar, tapi memendam idealisme tinggi di dalam."
"Mirip dari hongkong?" protes Shasmira sengit. "Aku mencintai seni, kebebasan, dan ekspresi emosi. Arfan hanya mencintai grafik angka, laporan keuangan, dan aturan birokrasi yang kaku. Kami berada di galaksi yang berbeda."
"Tapi kalian berada di bawah satu atap yang sama, Nyonya Kusuma," ledek Maya sambil tersenyum usil. "Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya tinggal serumah dengan pria tertampan sekaligus paling ditakuti di dunia bisnis ibu kota itu? Apakah dia tidur di kamar sebelah atau kalian benar-benar membuat garis batas imajiner seperti di film-film?"
Shasmira memutar bola matanya malas. "Kamar kami terpisah oleh sayap bangunan yang luas, Maya. Kami bahkan jarang berpapasan kecuali di meja makan pagi hari atau saat malam buta ketika kami sama-sama pulang larut malam karena sibuk dengan urusan masing-masing. Pekerjaan adalah pelarian terbaik kami untuk menghindari kecanggungan."
"Pelarian?" Maya menaikkan sebelah alisnya. "Atau justru kalian sedang menghindari sesuatu yang lain?"
"Apa maksudmu?" Shasmira menatap Maya curiga.
"Maksudku, terkadang orang menyibukkan diri dengan pekerjaan bukan karena benci, tapi karena takut menghadapi perasaan yang mulai tumbuh di luar kendali," ucap Maya santai, menyesap kopi miliknya.
Shasmira terdiam sejenak. Kata-kata Maya menohok suatu sudut tersembunyi di dalam hatinya yang selama ini enggan ia akui. Sejak malam badai beberapa minggu lalu—ketika Arfan memeluknya di tengah kegelapan dapur—ada sesuatu yang bergeser di dalam dada Shasmira. Rasa benci murni yang selama ini ia pelihara perlahan terkikis oleh momen kerapuhan yang dibagikan bersama. Namun, kesadaran itu justru membuatnya semakin takut. Takut terjebak sungguhan dalam pernikahan yang awalnya hanya didasari oleh paksaan hukum wasiat kakek.