Matahari sore menyusup malas melalui celah tirai beludru berwarna merah marun di ruang tengah kediaman Arfan. Shasmira duduk di atas sofa beludru panjang dengan punggung tegak, sementara tatapannya terpaku lurus pada sebuah jam dinding antik berukuran besar yang tergantung di dinding barat. Jam berangka Romawi itu terbuat dari kayu jati tua dengan bandul kuningan yang berayun ke kiri dan ke kanan secara teratur, mengeluarkan suara detik yang begitu berat dan nyaring di dalam ruangan yang terlampau senyap.
Tik... tok... tik... tok...
Setiap ayunan bandul itu terdengar seperti palu kecil yang menghantam gendang telinga Shasmira, menghitung setiap detik waktu yang merayap begitu lambat. Sudah hampir tiga bulan ia tinggal di rumah itu sejak pernikahan mereka yang diselenggarakan secara tertutup, namun jarak emosional di antara ia dan Arfan terasa semakin melebar, terbentang bagaikan jurang tak bertepi.
Pintu utama terbuka dengan suara decitan pelan, disusul oleh derap langkah kaki yang sudah sangat dikenal Shasmira. Arfan masuk ke dalam rumah sambil melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Wajah pria itu menyiratkan kelelahan yang teramat sangat setelah seharian bergelut dengan urusan pekerjaan di luar sana.
"Kamu sudah pulang, Fan," sapa Shasmira datar, suaranya memecah keheningan ruang tamu yang megah namun hampa.
Arfan menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh ke arah istrinya dengan senyuman tipis yang hampir tidak terlihat. "Ya, lalu lintas di luar cukup melelahkan hari ini. Apa kamu menungguku sepanjang sore?"
"Aku tidak punya hal lain untuk dilakukan selain menunggu," jawab Shasmira, nada suaranya menyiratkan kepedihan yang sudah lama tertahan di dadanya. Ia berdiri dari sofa dan melangkah mendekati suaminya. "Rumah ini begitu luas, Arfan, tetapi waktu berjalan begitu lambat saat kita hanya berdua sebagai dua orang asing yang terikat dalam satu atap."
Arfan menghela napas panjang, menatap mata Shasmira yang tampak redup tanpa binar kehidupan. "Kita bukan orang asing, Shas. Kita adalah suami istri. Jangan mulai mempermasalahkan hal itu lagi."
"Bagaimana aku tidak merasa asing ketika kita bahkan tidak saling mengenal?" cecar Shasmira, suaranya sedikit bergetar menahan emosi yang mulai membuncah. "Setiap malam aku mendengar jam dinding itu berdetak, mengingatkanku bahwa hari-hari kita di sini dihabiskan dalam keheningan yang pura-pura bahagia. Kapan terakhir kali kita berbicara sungguh-sungguh, Fan? Kapan terakhir kali kamu melihatku sebagai istrimu, bukan sebagai pajangan di rumah ini?"
Arfan memalingkan wajahnya ke arah lain, menghindari tatapan tajam istrinya. "Aku sedang lelah, Shas. Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat."
"Kamu selalu bilang lelah setiap kali aku mencoba mendekatimu," balas Shasmira dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. "Apakah selama ini aku hanya pengganti? Apakah perempuan sebelum aku juga merasakan hal yang sama sepertimu?"
Mendengar kata-kata itu, tubuh Arfan mendadak kaku. Suasana di antara mereka berubah menjadi dingin dalam sekejap. Pria itu menoleh kembali, menatap Shasmira dengan sorot mata yang menyipit tajam.
"Jangan pernah membahas hal itu lagi, Shasmira," ujar Arfan dengan suara rendah yang menusuk.
"Kenapa? Karena itu adalah rahasia terbesar di rumah ini?" tantang Shasmira, napasnya memburu cepat.
Arfan tidak menjawab. Ia memilih melangkah melewati istrinya begitu saja menuju lantai atas, meninggalkan Shasmira sendirian di tengah ruang tamu yang luas, ditemani oleh suara detak jam dinding yang terus berayun tanpa henti.
❖ ❖ ❖
Malam merangkak naik membawa kegelapan yang semakin pekat menyelimuti luar jendela. Shasmira duduk di meja makan yang panjang, menatap piring makan malam yang hampir tidak tersentuh sama sekali. Di seberangnya, Arfan duduk dengan tenang, memotong steak daging di piringnya menggunakan pisau perak tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Bi Inah berdiri di sudut ruangan dengan kepala tertunduk, melayani mereka berdua dengan gerakan yang sangat mekanis dan penuh kehati-hatian.
Keheningan di meja makan itu terasa begitu mencekam, hanya dipecahkan oleh suara dentingan pisau dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Shasmira meletakkan garpunya dengan gerakan kasar hingga menimbulkan suara decitan yang cukup nyaring, membuat Bi Inah terperanjat kecil di tempatnya.
Arfan mendongakkan kepala, menatap istrinya dengan tatapan menegur. "Ada apa dengan makananmu, Shas? Kamu tidak menyentuhnya sama sekali."
"Bagaimana aku bisa makan ketika suasana di meja ini terasa seperti jamuan makan malam di pemakaman?" balas Shasmira sinis, menatap suaminya dengan sorot mata menantang. "Kita duduk bersama, tetapi pikiran kita berada di dunia yang benar-benar berbeda. Mengapa kita harus berpura-pura di depan Bi Inah bahwa pernikahan ini berjalan harmonis?"
Bi Inah mengangkat wajahnya sejenak, tampak salah tingkah, lalu menunduk kembali sembari merapikan serbet di tangannya. "Maafkan saya, Tuan, Nyonya... jika kehadiran saya mengganggu..."
"Tidak apa-apa, Bi. Kamu bisa meninggalkan ruangan ini sekarang," potong Arfan tenang, namun matanya tidak lepas dari Shasmira.
Bi Inah mengangguk hormat, lalu bergegas melangkah keluar dari ruang makan, menutup pintu kayu berukuran besar itu rapat-rapat. Kini, hanya tinggal mereka berdua di ruangan yang luas itu.
"Kamu mempermalukan dirimu sendiri, Shas," ucap Arfan dingin setelah pintu tertutup rapat.
"Mempermalukan diri sendiri?" Shasmira tertawa hambar, air mata kekecewaannya akhirnya tumpah membasahi pipinya. "Yang memalukan adalah kenyataan bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah sandiwara bisu. Kamu mengurungku di rumah besar ini, memberiku segala kemewahan materi, tetapi merampas kebebasanku dan jiwaku. Waktu di rumah ini tidak berjalan untuk hidup, Arfan. Waktu di sini dihitung untuk menunggu kehancuran."
Arfan meletakkan pisaunya secara perlahan di atas piring, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. "Kamu mendapatkan apa yang diinginkan oleh wanita mana pun di luar sana, Shasmira. Rumah yang megah, perlindungan, keamanan finansial. Apa lagi yang kurang?"