Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Pandangan Sebelah Mata

Udara sore di kawasan perbukitan Malabar merambat turun bersama kabut tipis yang mulai menyelimuti kaca jendela ruang tamu vila utama. Di dalam ruangan berlantai kayu jati tua itu, aroma teh hitam pekat bercampur dengan wangi lilin aromaterapi lavender yang baru saja dinyalakan di atas meja sudut. Suasana seharusnya terasa hangat dan menenangkan, namun atmosfer yang tercipta di antara dua orang di dalam ruangan tersebut justru terasa begitu kaku, dingin, dan penuh dengan muatan prasangka yang belum terselesaikan.

Arfan berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah lereng kebun teh. Ia mengenakan kemeja abu-abu berkerah rapi dengan lengan yang dilipat sebatas siku, memperlihatkan otot lengannya yang terbentuk karena terbiasa bekerja di lapangan. Tangannya memegang selembar laporan inventaris gudang logistik, sementara matanya menatap tajam ke arah barisan angka-angka di atas kertas tersebut dengan cermat. Bagi Arfan, setiap detail kecil di perkebunan itu adalah cerminan dari keteraturan sistem yang harus dijaga tanpa kompromi.

"Pak Haryanto bilang pengiriman pupuk organik dari mitra supplier tertunda lagi dua hari karena masalah administrasi di kantor cabang," ujar Arfan tanpa menoleh, suaranya terdengar datar namun penuh dengan nada ketidakpuasan yang kentara.

Beberapa meter dari tempat Arfan berdiri, Shasmira sedang duduk bersila di atas sofa empuk berbalu kain beludru hijau tua. Ia mengenakan kardigan rajut oversized berwarna krem yang lembut dan celana bahan santai, tampak sangat kontras dengan penampilan Arfan yang selalu tegap dan formal. Di pangkuannya terbuka sebuah majalah desain interior dan beberapa lembar sketsa warna-warna pastel untuk rencana renovasi ruang galeri agrowisata. Shasmira mendengus pelan mendengar ucapan Arfan, lalu menutup majalahnya dengan gerakan agak kasar.

"Tertunda dua hari karena administrasi? Astaga, Arfan, hidup ini tidak akan runtuh hanya karena masalah dokumen birokrasi yang terlambat beberapa jam," balas Shasmira dengan nada santai, sedikit bernada menyindir. "Kamu terlalu memikirkan hal-hal kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan senyuman dan sedikit negosiasi santai."

Arfan menoleh perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang langsung menusuk perasaan Shasmira. "Itulah perbedaan mendasar antara kita, Shasmira. Kamu menganggap segala sesuatu bisa diselesaikan dengan senyuman, sementara saya melihat kenyataan bahwa keterlambatan administrasi sekecil apa pun bisa melumpuhkan rantai distribusi seluruh pekerja di lapangan."

Shasmira mendengus, merasa jengkel karena ucapannya kembali diremehkan. Ia bangkit dari sofa, melangkah mendekati meja kopi rendah yang terletak di tengah ruangan. Di atas meja itu terdapat segelas teh hangat miliknya, sebuah ponsel pintar keluaran terbaru, dan sebuah stoples kaca berisi kue kering mentega buatan juru masak vila.

"Kamu tahu, masalah terbesarmu bukanlah sistem kerja yang ketat," kata Shasmira, menatap langsung ke dalam mata Arfan dengan dagu terangkat menantang. "Masalahmu adalah kamu tidak pernah mau membuka mata dan melihat bahwa hidup ini butuh ruang untuk bernapas. Kamu melihat semua orang di sekitarmu sebagai beban atau komponen mesin yang kurang oli."

"Dan kamu melihat dunia ini seperti pameran seni berjalan yang tidak punya tanggung jawab nyata," balas Arfan tajam, melangkah mendekati meja kopi dari sisi yang berlawanan. "Kamu datang ke sini dengan koper bermerek, mengeluhkan sinyal ponsel yang hilang, dan memperlakukan tempat kerja ini seolah-olah ini adalah tempat peristirahatan pribadi untuk mencari inspirasi estetikamu."

"Saya ke sini atas penugasan resmi dewan komisaris!" sergah Shasmira dengan suara sedikit meninggi, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Jangan memperkecil kapasitas saya hanya karena saya peduli pada keindahan tempat ini!"

"Kapasitas yang dibuktikan dengan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memilih warna tirai jendela galeri?" Arfan mendengus dingin. "Itu bukan kapasitas kerja, Shasmira. Itu adalah bentuk pelarian dari kenyataan bahwa kamu tidak tahan dengan tekanan pekerjaan yang sesungguhnya."

Ketegangan di ruang tamu itu mencapai titik didih ketika sebuah gerakan ceroboh terjadi di antara mereka. Karena terlalu emosional mempertahankan argumennya, Shasmira mengibaskan tangannya dengan penuh kekesalan di udara, tidak sengaja menyenggol tepi stoples kaca berisi kue kering yang ada di atas meja.

Stoples itu berguling, jatuh ke lantai kayu dengan suara dentuman keras yang memecah keheningan ruangan. Tutup kaca terlepas, dan puluhan keping kue mentega berhamburan ke atas karpet wol tebal, meninggalkan remahan kuning dan serpihan kecil di mana-mana.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam ruang tamu seketika membeku. Suara deru angin dari luar jendela seolah lenyap, menyisakan keheningan canggung yang luar biasa di antara Arfan dan Shasmira. Shasmira terpaku di tempatnya, menatap serpihan kue dan remahan mentega yang berserakan di atas karpet bersih dengan mata terbelalak kaget.

Arfan menunduk perlahan, menatap kekacauan di lantai tersebut, lalu mengarahkan pandangannya kembali kepada Shasmira. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Arfan selama beberapa detik pertama, namun tatapan matanya berbicara jauh lebih tajam daripada ribuan kata teguran. Tatapan itu menyiratkan konfirmasi atas segala asumsi negatif yang sejak awal ia simpan tentang putri sang direktur utama tersebut: ceroboh, kekanak-kanakan, tidak hati-hati, dan selalu meninggalkan kekacauan untuk diurus oleh orang lain.

"Maaf... saya tidak sengaja," ucap Shasmira pelan, suaranya kehilangan separuh nada tingginya, mendadak merasa bersalah meski harga dirinya menolak untuk terlihat selemah itu di hadapan Arfan.

"Tentu saja kamu tidak sengaja," balas Arfan dengan nada suara yang begitu dingin, tenang, namun penuh dengan racun sindiran yang menusuk hati. "Orang-orang sepertimu tidak pernah bermaksud membuat kekacauan. Kalian hanya terbiasa hidup tanpa harus memikirkan siapa yang nantinya harus membersihkan dan merapikan semuanya."

Shasmira merasakan dadanya sesak seketika. Amarah yang tadi mereda kini kembali membakar ubun-ubunnya, jauh lebih panas dari sebelumnya. Ia menatap Arfan dengan mata menyipit tajam.

"Hei! Itu murni kecelakaan kecil!" seru Shasmira membela diri, suaranya kembali meninggi karena tidak terima dengan cara Arfan menghakiminya. "Kenapa setiap kali saya melakukan kesalahan kecil, kamu selalu memperlakukannya seolah-olah saya adalah bencana besar bagi tempat ini?"

"Karena di dunia nyata, Shasmira, kecelakaan kecil adalah hasil dari ketidakteraturan sikap," jawab Arfan tanpa bergeming sedikit pun dari posisinya. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Shasmira dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan yang sangat kentara. "Kamu ceroboh karena pikiranmu tidak pernah sepenuhnya berada di sini. Kamu sibuk dengan duniamu sendiri, dengan estetika, dengan kenyamanan, tanpa peduli pada orang lain yang harus bekerja keras merapikan kekacauan yang kamu tinggalkan."

"Kamu benar-benar pria yang tidak punya hati dan sangat menyebalkan!" Shasmira melangkah maju, menunjuk tepat di dada Arfan dengan jari telunjuknya yang bergetar karena menahan amarah yang meluap-luap. "Kamu hanya melihat apa yang ingin kamu lihat untuk membenarkan prasangka burukmu sejak hari pertama saya tiba di sini! Kamu menikmati posisi seolah-olah kamu adalah satu-satunya orang paling benar dan paling penting di perkebunan ini!"

"Dan kamu membuktikan setiap prasangka saya itu benar dalam waktu kurang dari lima menit berada di ruangan ini," balas Arfan dengan nada datar yang justru semakin menyulut emosi Shasmira. "Kamu tidak bisa diandalkan, Shasmira. Kamu hanya beban tambahan berbalut mantel desainer mahal."

Shasmira tertegun sejenak. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Arfan tanpa ada rasa ragu sedikit pun. Di dalam hatinya, pertahanan diri Shasmira runtuh seketika; bukan karena ia merasa kalah berargumen, melainkan karena ia menyadari bahwa pria di hadapannya ini benar-benar telah menutup rapat pintu hatinya untuk melihat sisi lain dari dirinya. Bagi Arfan, Shasmira selamanya akan menjadi simbol kemanjaan dan ketidakmampuan.

"Baiklah kalau itu penilaianmu terhadap saya," bisik Shasmira dengan suara bergetar, tatapannya menyiratkan luka kekecewaan yang mendalam di balik kemarahannya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menahan air mata agar tidak tumpah di hadapan pria kaku tersebut. "Simpan saja seluruh ceramah moral dan asumsi sempitmu itu untuk dirimu sendiri."

Tanpa membuang waktu sedetik pun lagi, Shasmira membalikkan badan, berjalan dengan langkah cepat meninggalkan ruang tamu utama, dan membanting pintu kayu kamar tidurnya di sayap timur vila dengan suara keras yang menggema di seluruh koridor.

❖ ❖ ❖

Arfan tetap berdiri terpaku di tempatnya selama beberapa menit setelah kepergian Shasmira. Pandangannya kembali tertuju pada stoples kue yang pecah dan remahan mentega yang berserakan di atas karpet. Ia menghela napas panjang, meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan untuk meredakan ketegangan saraf di kepalanya.

Lihat selengkapnya