Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Bayang-Bayang Keluarga Besar

Suara dering telepon rumah berdering nyaring, memecah kesunyian sore di ruang keluarga yang sempit. Maya, yang sedang berdiri di dekat jendela sambil melipat pakaian bersih, menarik napas panjang sebelum mengangkat gagang telepon. Di seberang sana, suara ibunya langsung menyerbu tanpa jeda, seolah tidak memberi ruang bagi udara untuk masuk ke tenggorokan Maya.

"Maya, apa kalian sudah bersiap untuk acara akhir pekan ini? Jangan bilang kalian membuat alasan lagi seperti bulan lalu. Bibi Rina dan Paman Harun secara khusus menanyakan kabar kalian," suara di seberang terdengar begitu menuntut dan penuh tekanan sosial.

Maya meremas ujung kain kemeja di tangannya erat-erat. "Kami sedang merencanakannya, Bu. Aris baru saja pulang dari luar kota, jadi kami perlu menyesuaikan jadwal."

"Menyesuaikan jadwal apa lagi? Pernikahan itu bukan cuma soal kalian berdua di dalam rumah kecil itu. Ini soal keluarga besar! Bibi kalian ingin melihat langsung bagaimana kerukunan rumah tangga kalian. Jangan sampai kalian membuat malu keluarga di hadapan semua orang dengan wajah muram seperti saat arisan keluarga terakhir."

Aris, yang baru saja melangkah masuk dari pintu depan sambil membawa kantong belanjaan minimarket, mendengar penggalan kalimat tersebut. Ia meletakkan kantong belanjaannya di atas meja dapur dengan sedikit sentakan keras, cukup untuk membuat Maya menoleh sekilas ke arahnya. Wajah Aris mengeras, menunjukkan ketidaksukaan yang amat sangat terhadap intervensi keluarga besar yang selalu mencampuri urusan privasi mereka.

"Bilang pada Ibu, kami akan datang," suara Aris terdengar berat namun tegas dari arah dapur, sengaja diucapkan agar terdengar oleh orang di ujung telepon. "Tapi tegaskan juga pada mereka, jangan meminta hal-hal yang di luar batas kewajaran kami."

Maya menatap suaminya dengan sorot mata penuh peringatan sebelum kembali berbicara ke telepon. "Ibu, dengar ya, kami akan hadir. Sudah dulu, sambungannya buruk." Maya langsung meletakkan gagang telepon ke tempatnya dengan gerakan cepat.

Suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin. Udara di antara mereka berdua seakan membeku, menciptakan jarak yang jauh lebih tajam daripada sekat-sekat dinding rumah susun tersebut.

"Kau tidak seharusnya menjanjikan kehadiran kita begitu saja tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan ku, Maya," kata Aris sambil membuka botol air mineral dan meneguknya dengan cepat.

"Kalau aku menolak, Ibu akan datang langsung ke sini bersama bibi dan paman membawa seribu satu pertanyaan interogasi yang jauh lebih melelahkan, Aris!" balas Maya, suaranya mulai meninggi menahan emosi yang bergejolak di dadanya sejak tadi. "Kau pikir aku suka berada di posisi ini? Menjadi boneka pameran untuk kebahagiaan palsu di hadapan keluarga besar kita?"

"Aku juga tidak suka!" Aris membanting botol air mineral ke atas meja dapur hingga airnya sedikit terciprat keluar. "Tapi kau tahu sendiri konsekuensinya jika kita menolak. Mereka akan mulai menebar gosip busuk, menghakimi setiap keputusan hidup kita, dan membuat hidup kita semakin tidak tenang."

"Jadi solusinya apa? Kita harus berpura-pura menjadi pasangan yang paling harmonis sedunia? Tersenyum manis di depan kamera, berpegangan tangan seolah tidak pernah ada pertengkaran hebat di antara kita setiap malam?" Maya menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, menahan air mata kekecewaan yang mendesak keluar.

"Itu hanya untuk beberapa jam, Maya. Hanya beberapa jam saja," jawab Aris melunak, namun nada suaranya terdengar pasrah dan lelah. "Bisakah kita menahan diri demi menghindari drama yang lebih panjang?"

"Bagi kita, itu bukan sekadar drama beberapa jam, Aris. Itu adalah puncak kepalsuan yang merusak sisa-sisa kewarasan yang kita miliki di bawah atap ini."

❖ ❖ ❖

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ruang tamu rumah utama keluarga besar tampak meriah dengan hiasan bunga plastik dan hidangan tradisional yang tersaji di atas meja panjang. Para kerabat dari berbagai kota mulai berdatangan, membawa serta gelak tawa, pelukan hangat yang terasa basa-basi, serta tatapan mata yang selalu mengukur kesuksesan dan kebahagiaan pasangan muda.

Maya dan Aris tiba tepat waktu, mengenakan pakaian serasi berwarna biru laut sesuai permintaan sang ibu. Sebelum melangkah melewati pintu depan, Aris berhenti sejenak dan menatap istrinya lekat-lekat.

"Ingat kesepakatan kita di dalam mobil tadi," bisik Aris pelan, merapikan sedikit kerah baju Maya. "Tersenyum, rangkul lenganku, dan jangan biarkan siapapun melihat keretakan di antara kita."

Maya menarik napas panjang, memasang topeng senyum terbaiknya, lalu melingkarkan tangannya di lengan Aris dengan erat. "Aku tahu apa yang harus kulakukan. Jangan khawatir, aktris terbaik pun akan kalah oleh sandiwara kita hari ini."

Lihat selengkapnya