"Senyum sedikit lagi, Maya. Kakek memperhatikan kita dari ujung meja."
Suara Aris berbisik begitu tipis, nyaris tak tertangkap oleh telinga orang lain di ruang makan yang megah itu, namun ketegangan di rahangnya tidak bisa disembunyikan. Di hadapan mereka, meja panjang berukir kayu mahoni tua dipenuhi oleh piring-piring porselen antik dan hidangan makan malam keluarga besar yang tertata mewah. Lampu gantung kristal bergemerlapan memantulkan cahaya kuning hangat, menyinari ruangan yang dipenuhi oleh tawa basa-basi dan dentingan sendok perak yang beradu dengan mangkuk sup.
Maya tidak menoleh ke arah suaminya. Ia mempertahankan senyum simpul yang terukir sempurna di bibirnya, sebuah senyum profesional yang biasa ia tunjukkan kepada para kolega di galeri seni miliknya, namun kali ini terasa sangat kaku dan melelahkan. Jemarinya di bawah meja meremas erat kain serbet putih hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku sudah tersenyum semaksimal mungkin, Aris," balas Maya dengan suara tertahan, gigi-gigi mereka sama sekali tidak merenggang demi menjaga ilusi rumah tangga yang harmonis. "Kalau rahangku patah karena akting ini, kamu yang harus tanggung jawab bayar dokter giginya."
"Jangan mulai, Maya. Kita cuma perlu bertahan dua jam lagi sebelum acara makan malam keluarga besar ini selesai," bisik Aris balik, matanya melirik sekilas ke ujung meja tempat Kakek Hadi duduk dengan wibawa yang mengintimidasi.
Kakek Hadi, patriark keluarga Wiryodiningrat yang sudah berusia delapan puluh tahun, mengangkat gelas kristal berisi anggur merahnya. Seluruh percakapan di meja makan mendadak mereda, digantikan oleh keheningan hormat yang selalu mengiringi setiap gerakan sang kakek. Pria tua berambut putih bersih itu menatap sekeliling meja dengan sorot mata tajam yang masih menyimpan ketajaman masa mudanya sebagai seorang hakim agung terpandang.
"Aris, Maya," suara Kakek Hadi memecah kesunyian, berat dan berwibawa. "Kalian tampak semakin serasi saja setelah kepindahan kalian ke villa tua di lereng bukit itu. Udara pegunungan sepertinya memang mujarab untuk menyatukan kembali batin suami istri yang sempat renggang akibat kesibukan kota."
Aris langsung mengangkat wajahnya, menyambut tatapan sang kakek dengan senyuman lebar yang sudah dilatih sejak mereka memasuki halaman rumah utama tadi sore. "Betul sekali, Kakek. Tempat itu memberikan kami ruang untuk bernapas lebih tenang dan fokus satu sama lain tanpa gangguan bisingnya kota."
"Baguslah kalau begitu," Kakek Hadi mengangguk pelan, kepuasannya terpancar jelas di garis-garis wajahnya yang menua. "Keluarga kita selalu menjunjung tinggi keutuhan rumah tangga. Tidak boleh ada retak, apalagi perpecahan. Kebersamaan kalian adalah cerminan martabat keluarga."
"Kami sangat menghargai nasihat Kakek," sahut Maya dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar begitu manis dan patuh di telinga para kerabat yang duduk di sepanjang meja. Di balik meja, ia melirik Aris dengan tatapan penuh sindiran tajam. Betapa ironisnya mendengar kata-kata tentang martabat dan keutuhan keluarga, sementara di balik tembok villa terpencil itu, pernikahan mereka tengah membusuk perlahan oleh rahasia kelam dan rasa bersalah yang tak terperikan.
Tante Reni, yang duduk di sebelah kiri Maya, mencondongkan tubuhnya ke depan sambil tersenyum manis penuh selidik. "Tapi ngomong-ngomong soal villa tua itu, Maya, bukannya tempat itu sudah lama dikosongkan sejak peristiwa tragis bertahun-tahun lalu? Apa kalian tidak merasa... bagaimana ya... agak merinding tinggal di sana berdua saja tanpa tetangga?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, memecah suasana hangat sesaat dan menciptakan keheningan kecil di sekitar mereka. Beberapa kerabat menghentikan gerakan tangan mereka yang hendak menyuap makanan.
Maya merasakan aliran darahnya mendadak berdesir dingin. Ia menarik napas pendek sebelum menjawab, "Merinding tentu tidak, Tante Reni. Kami justru menikmati kedamaian dan privasi yang ditawarkannya. Lagi pula, masa lalu biarlah berlalu; rumah itu hanya butuh tangan-tangan yang merawatnya kembali."
"Benar, Tante," Aris menimpali dengan cepat, nada suaranya tegas namun tetap menjaga kesopanan keluarga. "Kami tidak percaya pada takhayul atau cerita-cerita masa lalu yang dibesar-besarkan orang kampung. Bagi kami, villa itu adalah awal baru."
Kakek Hadi mengetuk pelan permukaan meja dengan cincin batu akik di jarinya, menghentikan percakapan yang mulai merembet ke arah yang tidak diinginkan. "Sudahlah, Reni. Jangan menakut-nakuti pengantin baru dengan cerita usang. Aris dan Maya tahu apa yang terbaik untuk kehidupan mereka."
"Baik, Kek. Maafkan Reni," Tante Reni tersenyum canggung, kembali menyantap makanannya, namun matanya masih menyipit penuh kecurigaan ke arah pasangan suami istri muda di depannya.
❖ ❖ ❖