Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Perjalanan Pulang yang Panjang

Lampu-lampu jalanan ibu kota bergeser perlahan di balik kaca jendela mobil sedan hitam bergemerlap mewah yang melaju dengan kecepatan sedang. Acara tahunan keluarga besar Kusuma di hotel bintang lima kawasan Senayan baru saja usai dua jam lalu. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, aroma parfum berpadu dengan keheningan malam yang terasa begitu berat. Shasmira menyandarkan kepalanya pada sandaran jok kulit, menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela. Gaun malam bermotif batik modern yang ia kenakan terasa kian menyesakkan dada, bukan karena ukuran bajunya yang kekecilan, melainkan karena sisa-sisa senyum palsu dan basa-basi busuk yang harus ia tebarkan sepanjang malam di hadapan para kerabat suaminya.

Di sebelah kursi pengemudi, Arfan mengemudi dengan kedua tangan memegang kemudi secara kaku. Jas formalnya telah dilepas dan disampirkan di kursi belakang, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing atas yang terbuka serta lengan baju yang digulung sampai siku. Wajah pria itu tampak lelah, garis rahangnya mengeras pertanda ia sedang menahan emosi yang teramat sangat setelah berjam-jam harus menghadapi sindiran halus, tatapan meremehkan, dan pertanyaan-pertanyaan memancing dari paman serta bibi Arfan yang mengincar kursi kepemimpinan perusahaan.

"Kau tidak perlu memikirkan ucapan Bibi Siska tadi," suara Arfan memecah kesunyian kabin, berat dan bernada datar, namun menyiratkan kepedulian yang dipendam rapat. "Wanita itu hanya iri karena suaminya gagal mendapatkan proyek perluasan pabrik di Surabaya."

Shasmira menoleh perlahan, menatap profil samping suaminya yang diterangi temaram lampu kota. "Aku tidak memikirkan Bibi Siska, Arfan. Aku hanya merasa lelah. Sangat lelah." Shasmira menghela napas panjang, menghembuskan udara lelah dari dadanya. "Mengapa keluarga besarmu selalu memandang setiap orang dengan mata penuh kecurigaan? Seolah-olah kedatangan kita berdua ke acara tadi hanyalah panggung sandiwara untuk memperebutkan warisan."

"Karena memang itulah kenyataannya," sahut Arfan dingin, matanya tetap fokus menatap jalanan basah akibat gerimis sore yang baru saja reda. "Bagi mereka, pernikahan kita bukanlah ikatan suci, melainkan ancaman bagi posisi mereka di dalam dewan direksi Grup Wiratama. Semakin mesra kita tampil di depan publik, semakin panik pula mereka."

"Mesra?" Shasmira tertawa sinis, meski terdengar getir. "Kau menyebut senyuman kaku dan genggaman tangan kita tadi malam sebagai kemesraan? Tanganku bahkan mati rasa karena kau genggam begitu erat setiap kali ada kamera wartawan yang mendekat."

Arfan melirik Shasmira sekilas dari sudut matanya, lalu kembali fokus ke jalan. "Itu bagian dari aturan main kita, Shasmira. Dunia bisnis tidak peduli apakah kita bahagia atau tidak di balik pintu tertutup. Yang mereka lihat adalah solidnya trah Kusuma dan Wiratama."

"Ya, dan itulah yang membuat perjalanan pulang ini terasa begitu panjang," desah Shasmira pelan, membuang muka kembali ke arah jendela luar. "Kita hidup dalam kebohongan yang dirancang rapi, Arfan. Terkadang aku bertanya-tanya, sampai kapan kita sanggup bertahan dalam sandiwara melelahkan ini?"

Arfan tidak segera menjawab. Mobil melambat saat mendekati lampu merah perempatan jalan utama. Pria itu menginjak rem secara perlahan, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Shasmira. Sorot mata hitamnya menatap tajam namun sarat akan kelelahan batin yang mendalam.

"Selama dibutuhkan untuk melindungi apa yang telah kakekwariskan kepada kita, Shasmira," jawab Arfan dengan suara rendah yang menusuk langsung ke relung hati istrinya. "Atau... apakah kau sudah mulai menyerah?"

❖ ❖ ❖

Pertanyaan Arfan menggantung di udara kabin yang dingin, menuntut jawaban yang tidak mudah bagi Shasmira. Menyerah? Jika ia menyerah enam bulan lalu, mungkin ia sudah kabur membawa koper dan kanvas lukisnya ke Bali. Namun, kenyataannya ia tidak melakukannya. Ada sesuatu yang menahannya di sisi pria arogan ini—sesuatu yang tumbuh secara perlahan di balik pertengkaran-pertengkaran tajam dan malam-malam panjang di rumah besar Wiratama.

"Bukan menyerah, Arfan," jawab Shasmira lirih, memalingkan wajahnya kembali untuk menatap lurus mata suaminya. "Aku hanya lelah menjadi boneka pajangan. Kau tahu betul betapa aku membenci dunia sosialita yang penuh kepalsuan itu. Tadi malam, saat sepupu-sepupumu menanyai kapan kami akan punya anak, rasanya ingin sekali aku berteriak di muka mereka bahwa pernikahan kita ini hanyalah kontrak hukum berbasis surat wasiat!"

Arfan terdiam sejenak. Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, namun mobil belum beranjak. Klakson dari kendaraan di belakang berbunyi nyaring, membuat Arfan kembali menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan tenang menyusuri jalan tol dalam kota yang mulai lengang.

"Maaf," ucap Arfan tiba-tiba, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin malam dari luar jendela.

Shasmira terperanjat kecil, mengerjap tidak percaya. "Kau... meminta maaf? Seorang Arfan Baskoro yang selalu benar dan tidak pernah salah baru saja mengucapkan kata maaf?"

Arfan mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyuman tipis yang langka. "Jangan sombong dulu, Shasmira. Aku minta maaf bukan karena aku salah, tapi karena aku tahu betapa tersiksanya kau harus beradaptasi dengan dunia kelam keluargaku. Aku tahu galeri seni dan duniamu yang tenang adalah tempat yang jauh lebih baik daripada ruang dansa penuh intrik tadi."

"Kalau kau tahu itu menyiksaku, mengapa kau tetap memaksaku ikut semalam?" cerca Shasmira, nada suaranya sedikit meninggi namun tidak lagi menyiratkan kemarahan yang membara, melainkan kekecewaan yang lelah.

"Karena tanpa kehadiranmu di sisiku, para parat pengkhianat di dewan direksi itu akan menganggapku lemah," terang Arfan tegas, jemarinya mengetum-ngetum kemudi mobil. "Mereka mencari celah sekecil apa pun untuk meruntuhkan kredibilitas kepemimpinanku. Kehadiranmu, genggaman tangan kita, senyuman yang kau berikan di depan kamera—itu adalah perisai pelindung kita berdua."

Shasmira menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya kembali ke jok. "Perisai yang terbuat dari kaca tipis, Arfan. Sewaktu-waktu bisa pecah dan melukai kita berdua."

"Kalau kaca itu pecah, kita hadapi bersama," sahut Arfan cepat, sebuah kalimat penuh keyakinan yang membuat jantung Shasmira berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.

Suasana di dalam kabin kembali sunyi, namun kali ini keheningan itu tidak lagi terasa menyesakkan. Ada beban batin yang perlahan terangkat dari pundak masing-masing, digantikan oleh keheningan yang dipenuhi oleh perenungan atas hubungan rumit yang tengah mereka jalani. Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul sebelas lewat seperempat malam. Gedung-gedung tinggi pencakar langit berganti dengan pepohonan rindang di pinggiran kawasan perumahan elite tempat kediaman Wiratama berdiri megah.

❖ ❖ ❖

Mobil hitam itu akhirnya memasuki gerbang utama kediaman Wiratama yang terbuka otomatis. Ban mobil berdecit pelan di atas jalanan paving block sebelum berhenti dengan sempurna di depan pintu utama lobi rumah. Bibi Retno tampak menunggu di dekat pintu masuk dengan membawa secangkir teh hangat di atas nampan, menyambut kepulauan tuan dan nyonya mudanya dengan senyuman ramah.

Lihat selengkapnya