Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Titik Jenuh Pertama

Angin sore berhembus malas, membawa debu jalanan kota yang menempel tipis pada kaca jendela besar ruang keluarga kediaman Arfan. Shasmira berdiri terpaku di balik tirai transparan, menatap kosong ke arah halaman luar yang sepi. Sudah berbulan-bulan ia hidup di dalam sangkar megah ini, terjebak dalam siklus hari-hari yang berjalan tanpa gairah, tanpa warna, dan tanpa kebebasan.

"Nyonya, teh hangatnya sudah saya siapkan di meja," suara Bi Inah memecah kesunyian ruangan, datar dan tanpa ekspresi, seolah-olah wanita paruh baya itu adalah bagian dari furnitur mahal rumah tersebut.

Shasmira menoleh pelan, menatap punggung Bi Inah yang mulai berbalik meninggalkan ruangan. "Bi... tunggu sebentar," panggilnya dengan suara parau.

Bi Inah menghentikan langkahnya, namun tidak membalikkan badan sepenuhnya. "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"

"Apakah Tuan Arfan sudah mengabarkan kapan ia akan pulang malam ini?" tanya Shasmira, nada suaranya menyiratkan lelah yang amat sangat.

"Tuan besar tidak meninggalkan pesan khusus, Nyonya. Seperti biasa, beliau mungkin akan pulang larut malam karena urusan pekerjaan di kantor," jawab Bi Inah monoton.

Shasmira menghela napas panjang, tatapannya kembali menerawang keluar jendela. "Urusan pekerjaan... selalu itu alasannya. Rumah ini begitu luas, Bi Inah. Tapi mengapa rasanya semakin hari semakin sempit, seolah-olah dinding-dindingnya merapat untuk mencekikku?"

Bi Inah terdiam sejenak, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Rumah ini adalah tempat perlindungan yang aman, Nyonya. Tuan Arfan hanya ingin memastikan Anda terlindungi dari dunia luar yang keras."

"Terlindungi atau dikurung, Bi?" cecar Shasmira tajam, menatap lurus ke arah punggung pelayan setianya itu. "Kalian semua memperlakukanku seperti pajangan berharga yang tidak boleh disentuh angin. Sampai kapan pernikahan ini harus bertahan dalam kepura-puraan seperti ini?"

Bi Inah tidak menjawab. Wanita tua itu hanya membungkuk hormat sekilas, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan tanpa suara, membiarkan Shasmira kembali tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan dada.

Shasmira berjalan gontai menuju sofa panjang berlapis kain beludru di tengah ruangan. Ia menjatuhkan tubuhnya dengan lemah, membiarkan pikirannya melayang pada hari-hari awal kedatangannya ke rumah itu—hari-hari di mana ia masih memiliki harapan bahwa Arfan akan membimbingnya dengan cinta. Namun, harapan itu kini telah terkikis habis, menyisakan rongga kosong di dalam dadanya.

Sampai kapan pernikahan ini bertahan? Pertanyaan itu berputar-putar tanpa henti di dalam kepalanya, menjadi momok menakutkan yang setiap hari menggerogoti kewarasannya. Ia bukan lagi sekadar seorang istri yang merasa kesepian; ia adalah seorang tawanan yang perlahan-lahan kehilangan jati dirinya sendiri di balik dinding kokoh kediaman Arfan.

❖ ❖ ❖

Malam merangkak turun dengan cepat, membawa serta bayangan-bayangan gelap yang merayap di setiap sudut ruangan. Pintu utama akhirnya terbuka, disusul oleh derap langkah kaki tegas yang sudah sangat dihafal oleh Shasmira. Arfan melangkah masuk ke ruang tamu, melonggarkan ikatan dasinya dengan gerakan lambat yang mencerminkan kelelahan fisik yang mendalam.

Shasmira tidak beranjak dari sofa tempat ia duduk sejak sore tadi. Ia menatap suaminya dengan sorot mata yang tajam, dingin, dan penuh dengan tuntutan yang selama ini tertahan.

"Kamu baru pulang," ucap Shasmira datar, suaranya memecah keheningan malam.

Arfan menghentikan langkahnya, menoleh sekilas ke arah istrinya dengan senyuman tipis yang terasa begitu hambar. "Ya. Pekerjaan di kantor sangat melelahkan hari ini, Shas. Maafkan aku jika terlambat."

"Selalu alasan yang sama, Arfan," balas Shasmira, suaranya mulai meninggi seiring emosi yang membuncah di dadanya. Ia berdiri dari sofa, menghadapi suaminya secara langsung. "Apakah kantor itu jauh lebih penting daripada kewajibanmu sebagai seorang suami? Atau sebenarnya kamu sengaja menghindari rumah ini karena kamu tidak tahu bagaimana cara menghadapiku?"

Arfan mengernyitkan dahi, rahangnya mengeras mendengar nada bicara istrinya. "Jangan mulai mencari keributan di malam hari, Shas. Aku sedang tidak ingin berdebat."

"Aku tidak sedang mencari keributan, Arfan! Aku sedang menuntut kejelasan!" teriak Shasmira, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata namun ditahannya kuat-kuat agar tidak tumpah di hadapan pria itu. "Katakan padaku, sampai kapan pernikahan ini harus bertahan dalam sandiwara busuk seperti ini? Kita hidup di bawah satu atap, tetapi kita adalah dua orang asing yang terasing di dunia masing-masing!"

Arfan melangkah maju mendekati istrinya, sorot matanya menyiratkan ketegasan yang dingin. "Pernikahan kita sah di mata hukum dan agama, Shas. Kamu mendapatkan semua fasilitas, perlindungan, dan kenyamanan yang diinginkan oleh wanita mana pun di luar sana. Apa lagi yang kamu kurangi?"

"Kasih sayang! Kejujuran! Kehidupan yang nyata, Arfan!" seru Shasmira sambil menatap tajam ke dalam mata suaminya. "Aku bukan barang antik di ruang tamu yang bisa kamu pamerkan lalu kamuabaikan ketika kamu bosan! Aku manusia! Aku butuh diajak bicara, butuh didengar, bukan sekadar dikurung dan diberi makan!"

Lihat selengkapnya