Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Langit yang Mulai Gelap

Sore hari di kawasan perkebunan teh Malabar merambat turun dengan lambat, membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang hingga dibalik jaket tebal. Langit di atas lembah yang tadinya berwarna biru cerah perlahan-lahan tertutup oleh gumpalan awan hitam pekat yang menggantung rendah, seolah menekan perbukitan hijau di bawahnya dalam cengkeraman kelam. Angin pegunungan bertiup kencang, menggoyangkan pucuk-pucuk daun teh dan menimbulkan suara desau yang menyerupai bisikan tajam. Di beranda samping vila kayu bergaya kolonial, suasana hati yang tercipta di antara Arfan dan Shasmira terasa sama kelamnya dengan langit di atas kepala mereka.

Arfan berdiri tegak bersandar pada pagar kayu berpelitur gelap, menatap lurus ke arah lereng bukit tempat para pekerja perkebunan sedang membereskan keranjang panen mereka dengan tergesa-gesa sebelum badai benar-benar pecah. Wajahnya tampak kaku, terbingkai oleh garis-garis ketegasan yang selama ini menjadi ciri khasnya. Kemeja flanel berlengan panjang yang ia kenakan tampak pas di tubuh atletisnya, namun tidak mampu menyembunyikan kekakuan mental yang sedang melanda pikirannya. Di tangan kanannya, sebuah cangkir teh hitam yang mengepulkan uap tipis dibiarkan mendingin begitu saja tanpa pernah disentuh sejak sepuluh menit lalu.

"Arfan, kamu tidak berniat menyuruh para pemetik teh di sektor barat untuk berhenti lebih awal? Angin di atas sana sudah terlalu berbahaya, apalagi dengan kondisi jalan setapak yang licin akibat sisa gerimis tadi siang," suara Shasmira memecah keheningan sore itu dengan nada penuh kekhawatiran yang tertahan.

Arfan menoleh perlahan, matanya di balik kacamata menatap Shasmira dengan pandangan dingin yang biasa ia tunjukkan saat sedang mempertahankan prinsip operasionalnya. "Pak Haryanto sudah memegang kendali penuh di lapangan, Shasmira. Kalau kita menghentikan aktivitas pemetikan setiap kali langit mendung, target tonase bulanan perkebunan ini tidak akan pernah tercapai. Disiplin waktu adalah segalanya."

Shasmira mendengus kesal, melangkah mendekati Arfan dengan kedua tangan bersidekap di dada. Ia mengenakan sweater rajut longgar berwarna krem dan celana lapangan yang ujungnya sedikit kotor oleh cipratan lumpur. "Disiplin tidak ada gunanya kalau mengorbankan keselamatan manusia, Arfan! Coba kamu lihat ke atas sana, awan itu sudah berwarna abu-abu gelap kehitaman. Itu bukan sekadar mendung biasa, itu tanda badai besar yang akan segera turun."

"Kamu selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang emosional yang berlebihan," balas Arfan dengan nada datar, suaranya terdengar dingin dan meremehkan. "Sedikit angin ribut di pegunungan adalah hal biasa bagi para pekerja lokal. Mereka lebih tahu cara melindungi diri daripada yang kamu khawatirkan."

"Kamu benar-benar keras kepala dan tidak punya empati!" sergah Shasmira, suaranya sedikit meninggi menyaingi deru angin yang mulai menderu kencang di antara tiang-tiang beranda. "Kamu selalu mengukur segala hal dengan angka efisiensi, tanpa pernah mau melihat kondisi psikologis dan fisik orang-orang yang bekerja di bawah perintahmu!"

"Dan kamu selalu bertindak impulsif berdasarkan kepanikan sesaat tanpa dasar perhitungan yang matang," timpal Arfan tajam, menegakkan tubuhnya hingga jarak di antara mereka berdua menjadi begitu dekat. Tatapan mata mereka saling mengunci dalam ketegangan yang membara, mencerminkan dua kutub kepribadian yang kembali membentur setelah sempat mencair beberapa hari sebelumnya.

Shasmira menggigit bibirnya, menahan amarah yang bergemuruh di dadanya. Perubahan suasana hati yang tidak menentu sejak pagi tadi—dipicu oleh ketidakpastian masa depan proyek agrowisata dan sikap Arfan yang kembali memasang benteng dingin—membuat emosinya berada di ambang ledakan. Ia membuka mulutnya untuk membalas ucapan Arfan, namun suara gemuruh petir yang menggelegar keras di balik awan hitam seketika memotong kata-katanya, mengguncang udara lembah dan menandakan bahwa langit yang mulai gelap itu telah siap menumpahkan amarahnya ke bumi.

❖ ❖ ❖

Suara petir yang menyambar tidak jauh dari bukit perkebunan membuat bulu kuduk merinding. Kilatan cahaya putih terang menerangi wajah Arfan dan Shasmira secara bersamaan, memperlihatkan ekspresi ketegangan yang kian memuncak. Hujan deras dengan butiran air berukuran besar tiba-tiba turun mengguyur kawasan Malabar, menghantam atap seng vila dan dedaunan teh dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga.

"Lihat! Badai itu sudah turun!" teriak Shasmira di tengah kebisingan suara hujan, menunjuk ke arah jalan setapak menuju sektor barat yang kini mulai diselimuti kabut air tebal. "Bagaimana kalau para pekerja masih terjebak di sana?"

Arfan tidak segera menjawab. Untuk pertama kalinya, bayangan keraguan melintas di mata tajam pria itu. Ia melihat ke arah gerbang utama tempat mobil operasional terparkir, lalu kembali menatap Shasmira yang menatapnya dengan penuh tuntutan. Insting kepemimpinannya sebagai manajer lapangan mendadak berbenturan dengan kenyataan bahwa intensitas hujan kali ini jauh di luar perkiraan normal draf cuaca mingguan.

"Kita harus pastikan keadaan mereka," ucap Arfan akhirnya dengan nada tegas, mengabaikan kecurigaannya sendiri. Ia berbalik dan melangkah cepat menuju pintu samping vila untuk mengambil jas hujan dan senter besar.

Shasmira tidak tinggal diam. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menyambar jaket pelindung tahan air yang tergantung di dekat pintu dan menyusul langkah Arfan. "Saya ikut. Kamu tidak bisa melarang saya kali ini, Arfan!"

Arfan berhenti sejenak di ambang pintu, menatap Shasmira dengan kening berkerut dalam. "Jangan bodoh, Shasmira! Medan di sektor barat dalam cuaca seperti ini sangat berbahaya. Kamu hanya akan menjadi beban tambahan bagi saya."

"Beban?" Shasmira tertawa sinis, matanya menyala tajam menatap Arfan tanpa rasa takut sedikit pun. "Kamu masih meremehkan saya setelah apa yang kita lewati minggu lalu? Berhenti bersikap arogan, Arfan! Saya ikut atau saya akan menyusul sendirian ke sana!"

Arfan tertegun melihat kilatan tekad yang begitu kuat di mata wanita di hadapannya itu. Tidak ada lagi sisa-sisa kesan manja atau rapuh; yang ada hanyalah ketegasan baja yang sama kerasnya dengan prinsip yang iapegang sendiri. Arfan menghela napas panjang, menyerah pada perdebatan yang tidak akan ada habisnya di tengah situasi krisis yang kian mendesak.

"Baiklah. Kenakan jas hujanmu dengan benar dan jangan pernah lepas dari jangkauan pandangan saya," perintah Arfan dengan suara parau namun penuh wibawa.

Keduanya langsung menerobos hujan lebat yang mengguyur halaman vila, menaiki mobil jip operasional yang mesinnya langsung meraung membelah genangan lumpur di jalan perkebunan. Suasana di dalam kabin mobil terasa begitu sesak, dipenuhi oleh bau basah jas hujan dan keheningan yang hanya diisi oleh suara deru wiper kaca depan yang bekerja maksimal melawan derasnya air hujan. Hati Shasmira berdegup kencang, bukan hanya karena ancaman badai di luar sana, tetapi juga karena ketidakpastian emosional yang melanda hubungan mereka yang kian meruncing di bawah langit gelap gulita.

❖ ❖ ❖

Mobil jip berhenti dengan decitan pelan di dekat pondok pengawas sektor barat. Suasana di sekitar perkebunan tampak sangat mencekam; air hujan bercampur lumpur merah mengalir deras menuruni lereng bukit, membentuk alur-alur kecil yang mengancam akar tanaman teh muda di sekitarnya. Sorot lampu depan mobil menembus tirai air hujan yang lebat, memperlihatkan beberapa orang pekerja yang berlindung di bawah teras sempit pondok kayu dengan pakaian basah kuyup menggigil kedinginan.

Arfan membuka pintu jip dan langsung melompat keluar, menerjang genangan air sambil meneriakkan nama mandor lapangan. "Pak Haryanto! Apakah semua orang di sini aman?"

Pak Haryanto, yang mengenakan jas hujan plastik kuning penuh lumpur, berlari tergopoh-gopoh menghampiri Arfan, wajahnya menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Arfan! Syukurlah kalian datang! Sebagian besar pekerja sudah turun ke pos utama, tapi dua orang pemetik muda tertinggal di jalur lembah bagian bawah karena terjebak longsoran kecil di dekat jembatan kayu!"

Mendengar laporan itu, raut wajah Arfan seketika mengeras. Ia mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Longsor di jembatan kayu? Kenapa jalur itu belum ditutup sesuai instruksi saya kemarin sore?"

"Air bah datang terlalu cepat, Arfan! Tidak sempat memberi tanda peringatan!" jawab Pak Haryanto dengan napas terengah-engah.

Shasmira yang baru saja turun dari mobil dan mendekati mereka langsung merasakan hawa dingin merasuk ke balik jaket tebalnya. Ia menatap ke arah jalur lembah bawah yang gelap dan dipenuhi aliran air keruh yang mengamuk. Perubahan suasana hati yang tadinya dipenuhi amarah kini berubah menjadi rasa cemas yang mencengkeram dada.

Lihat selengkapnya