Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Hujan Deras dan Kilat Menyambar

Langit di atas kota mendadak berubah menjadi kelam pekat sejak pukul lima sore, menyelimuti deretan bangunan rumah susun dengan tirai abu-abu yang tebal. Udara terasa begitu lembap dan panas, seolah seluruh oksigen di bumi disedot naik ke angkutan awan kumulonimbus yang menggantung rendah. Di dalam ruang tamu yang sempit, Maya berdiri mematung di dekat jendela kaca yang mulai berembun. Ia memperhatikan tetesan air hujan pertama yang jatuh menimpa seng balkon, menciptakan bunyi ketukan ritmis yang lambat laun berubah menjadi deru konstan yang memekakkan telinga.

"Kau menutup semua jendela rapat-rapat?" suara Aris terdengar dari arah dapur, datar dan tanpa emosi, sementara tangannya sibuk merapikan sisa gelas kopi di atas meja makan kecil.

Maya tidak langsung menoleh. Jari telunjuknya menyentuh permukaan kaca yang dingin, membentuk garis-garis abstrak di atas embun. "Sudah. Semua rapat. Tapi anginnya sepertinya akan bertiup kencang malam ini, Aris. Rasanya badai besar sedang bersiap menerjang."

Aris melangkah mendekat, berdiri di samping istrinya namun menjaga jarak aman beberapa jengkal. Matanya ikut menatap keluar, ke arah jalanan aspal di bawah sana yang mulai tergenang air kecokelatan. Kendaraan bermotor melintas dengan lampu utama menyorot tajam di tengah remang petang yang datang lebih cepat.

"Biarin saja," jawab Aris singkat. "Setidaknya di luar sana tidak ada lagi suara-suara tuntutan keluarga besar yang membuat kepala mau pecah."

Maya melirik suaminya sekilas, menangkap guratan kelelahan yang teramat sangat di wajah pria itu. "Kau selalu mengalihkan pembicaraan ke arah sana setiap kali kita mulai merasa terpojok oleh kenyataan rumah tangga kita sendiri."

"Lalu apa yang ingin kaudengar, Maya?" Aris menoleh, menatap istrinya dengan sorot mata tajam yang memantulkan cahaya lampu neon ruangan. "Bahwa kita memang gagal? Bahwa pernikahan yang kita bangun di atas keterpaksaan ini tinggal menunggu waktu untuk roboh diterjang badai?"

"Kalau kau sudah tahu jawabannya, kenapa kita masih terus bertahan di sini?" balas Maya, suaranya mulai bergetar seiring dengan suara guntur pertama yang bergemuruh rendah di kejauhan.

"Karena aku tidak punya tempat lain untuk pergi, dan begitu juga denganmu!" suara Aris meninggi, menembus deru hujan yang semakin lebat.

Percakapan itu terpotong seketika ketika kilatan petir putih kebiruan menyambar tajam di langit malam, memancarkan cahaya silau yang menerangi seluruh ruangan selama sedetik penuh, disusul suara menggelegar yang membuat kaca jendela berderak keras. Keduanya terdiam, terpaku dalam ketegangan yang mendadak mencengkeram dada masing-masing.

❖ ❖ ❖

Badai di luar semakin mengamuk menjelang pukul delapan malam. Angin kencang bertiup beringas, menghantam dinding luar rumah susun dan mendesak masuk melalui celah-celah ventilasi udara yang kurang rapat. Lampu neon di langit-langit ruang tamu tiba-tiba berkedip beberapa kali sebelum akhirnya padam sepenuhnya, meninggalkan ruangan dalam kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh kilatan cahaya petir yang terus bersahut-sahutan di luar sana.

"Sial, listriknya padam," cibir Aris pelan sambil meraba-raba saku celananya untuk mencari ponsel.

"Di laci meja dekat televisi ada sentoloh dan lilin darurat," kata Maya dari arah sudut gelap ruangan, suaranya terdengar tenang namun penuh kewaspadaan.

Aris bergerak dalam remang cahaya kilat, menemukan kotak korek api dan sebatang lilin putih yang segera ia nyalakan. Cahaya kuning temaram langsung berpendar, memantulkan bayangan tinggi dan gemetar di dinding-dinding ruangan yang sempit. Di bawah temaram cahaya lilin itu, wajah Aris tampak pucat pasi.

"Kau ingat malam saat pertama kali kita memutuskan tinggal bersama di sini?" tanya Aris tiba-tiba, suaranya terdengar serak di antara deru hujan yang menghantam atap seng bagaikan ribuan kerikil jatuh.

Maya melangkah mendekat, duduk di kursi kayu di seberang meja makan. Ia menatap nyala lilin yang berliuk-liuk tertiup angin kecil dari ventilasi. "Tentu saja aku ingat. Malam itu juga turun hujan deras, tapi tidak sehebat ini."

"Dan kita sama-sama naif," lanjut Aris sambil tersenyum pahit. "Berpikir bahwa dengan menyatukan dua nama di atas kertas, semua masalah masa lalu dan tekanan luar akan lenyap dengan sendirinya."

"Kita tidak naif, Aris. Kita hanya putus asa," sanggah Maya tegas. "Kita mencari pelarian dari ekspektasi keluarga besar, dari rasa gagal, dari rasa kesepian yang membunuh perlahan di luar sana."

"Lalu sekarang apa?" Aris menatap Maya lekat-lekat, pantulan api lilin berbinar di dalam bola matanya. "Apakah kita masih merasa saling memiliki di tengah badai ini, atau kita hanyalah dua orang asing yang kebetulan berteduh di bawah atap yang sama?"

Lihat selengkapnya