Suara gemuruh langit malam itu bergemetar hebat, mengguncang dinding-dinding rumah kayu tua yang berdiri rapuh di tengah perkebunan teh. Di dalam kamar tidur yang temaram, diterangi hanya oleh nyala lampu minyak yang berkedip-kedip tertiup angin celah jendela, Shasmira meringkuk di sudut ranjang. Ia menarik selimut tebal wol hingga menutupi seluruh tubuhnya, membiarkan tubuh kecilnya bergetar hebat setiap kali kilatan petir menyambar garang, memancarkan cahaya putih kebiruan yang menembus tirai tipis kamar. Hujan lebat turun bagaikan air yang ditumpahkan dari langit tanpa ampun, menghantam atap seng dengan suara gemerincing yang memekakkan telinga.
Di sisi lain ruangan, di dekat meja tulis tua yang dipenuhi tumpukan buku catatan kedokteran milik sang ayah, Dr. Bagas berdiri termenung menghadap jendela kaca yang berembun. Ia baru saja merapikan stetoskop dan beberapa botol obat cair ketika kilatan petir berikutnya melintas lebih dekat, disusul oleh suara dentuman menggelegar yang begitu keras hingga kaca jendela bergetar hebat.
"Ayah... kumohon, jangan jauh-jauh," suara Shasmira terdengar parau dari balik selimut, gemetar ketakutan setengah mati hingga suaranya nyaris tenggelam di antara deru angin malam.
Dr. Bagas menoleh pelan, menghela napas panjang melihat bagaimana putri bungsunya yang berusia sepuluh tahun itu kehilangan seluruh pertahanan dirinya setiap kali badai datang. Ia melangkah mendekati tempat tidur, lalu duduk di tepi ranjang yang berderit pelan. Tangannya yang hangat mengusap tonjolan selimut yang membungkus tubuh Shasmira dengan penuh kelembutan.
"Shas, Ayah di sini, Nak. Buka selimutnya sebentar, udara di dalam sana terlalu panas untukmu bernapas," bujuk Dr. Bagas dengan nada suara yang tenang, berusaha menularkan ketenangan yang saat ini sangat sulit ia rasakan sendiri.
Perlahan-lahan, ujung selimut itu tersingkap. Sepasang mata Shasmira yang basah oleh air mata menatap ayahnya dengan pandangan memohon penuh keputusasaan. Wajahnya pucat pasi, bibirnya sedikit membiru karena dingin dan rasa takut yang teramat sangat.
"Petirnya mengerikan sekali, Ayah... suaranya seperti mau meruntuhkan rumah ini. Aku takut kalau atapnya ambruk dan kita terkubur di dalam gelap," isak Shasmira kecil, air matanya tumpah membasahi pipinya yang tembam.
"Rumah ini sudah berdiri kokoh selama puluhan tahun, Shas. Badai sehebat apa pun tidak akan bisa meruntuhkannya semudah itu," jawab Dr. Bagas sambil menarik putrinya kedalam dekapan hangatnya. Ia memeluk tubuh kecil itu erat-erat, membiarkan Shasmira membenamkan wajahnya di dada bidang sang ayah. "Ayah tidak akan membiarkan sesuatu pun terjadi padamu. Ada Ayah di sini."
"Tapi... tapi di luar gelap sekali, Ayah. Rasanya seperti ada sesuatu di luar jendela yang sedang mengawasi kita dari kegelapan," bisik Shasmira di sela-sela isakannya, jemarinya mencengkeram kuat kain kemeja yang dikenakan ayahnya.
Dr. Bagas terdiam sejenak. Ia tahu betul trauma masa lalu yang disembunyikan putrinya sejak kecelakaan tragis di kota beberapa bulan lalu—kecelakaan yang merenggut nyawa sang ibu dan meninggalkan luka psikologis mendalam pada diri Shasmira. Setiap kali cuaca buruk datang, ketakutan itu tidak hanya sekadar fobia terhadap petir, melainkan ketakutan akan kehilangan satu-satunya orang tua yang tersisa di dunia ini.
"Itu cuma bayangan ranting pohon teh yang tertiup angin, Shas. Percaya sama Ayah, tidak ada apa-apa di luar sana," ucap Dr. Bagas lembut, meski jauh di lubuk hatinya, ia pun merasa gelisah dengan kesunyian malam di tengah perkebunan terpencil ini.
Percintaan dan kehangatan keluarga yang dulu mereka miliki kini terasa begitu rapuh, terkikis oleh rasa bersalah dan kesedihan yang tak berkesudahan. Shasmira terus merintih pelan dalam pelukan ayahnya, sementara badai di luar semakin mengamuk, membawa malam semakin larut dalam ketegangan yang menyesakkan.
❖ ❖ ❖
Malam semakin merambat naik menuju pukul dua belas malam, namun intensitas hujan di luar justru semakin menjadi-jadi. Titik jepit pertama mulai mencengkeram suasana kamar ketika tiba-tiba seluruh lampu minyak di rumah itu padam seketika akibat tiupan angin kencang yang masuk melalui celah ventilasi.
"Ayah! Lampunya mati!" seru Shasmira histeris, cengkeramannya di lengan Dr. Bagas semakin erat hingga menyakitkan.
"Tenang, Shas. Jangan panik. Ayah punya senter di laci meja," kata Dr. Bagas sambil meraba-raba meja dalam kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh sambaran kilat sesaat.
Namun, sebelum senter itu berhasil ditemukan, sebuah suara aneh terdengar dari arah loteng tepat di atas kepala mereka. Kriet... brugh... Suara langkah kaki tanpa alas berjalan perlahan di atas plafon kayu, mondar-mandir dengan ritme yang konstan dan mengerikan.
Shasmira membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, air matanya kembali mengalir deras. "Ayah... dengar itu? Ada seseorang di loteng... siapa yang jalan di atas sana?"
Dr. Bagas menegang. Ia menghentikan gerakannya, mendengarkan seksama suara di atas plafon yang kini berhenti tepat di atas tempat tidur mereka. Bulu kuduknya meremang seketika. Rumah ini hanya dihuni oleh mereka berdua, dan pintu loteng telah digembok rapat sejak mereka pindah ke tempat ini.
"Itu... itu pasti tikus besar atau kucing liar yang terjebak di atas, Shas," suara Dr. Bagas terdengar bergetar, gagal menyembunyikan kepanikan yang mulai merayap di dadanya sendiri.
"Mana ada kucing suaranya seberat itu, Ayah!" rintih Shasmira dengan suara parau penuh teror. "Itu suara langkah kaki orang dewasa... atau anak kecil yang menyeret kakinya!"