Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Langkah dari Kamar Sebelah

Malam merayap lambat di atas megahnya atap kediaman keluarga besar Wiratama. Di luar jendela, angin malam berembus kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon oak tua di halaman samping dan menciptakan bayang-bayang panjang yang menari di dinding kamar tidur utama. Pukul dua belas lewat empat puluh lima menit. Rumah besar itu seharusnya larut dalam keheningan yang sempurna, diselimuti oleh kepenatan setelah hari yang melelahkan di kantor pusat. Namun, ketenangan semu itu pecah oleh sebuah suara tipis yang lolos menembus sekat dinding pemisah antara sayap timur dan sayap barat.

Arfan Baskoro duduk termenung di tepi ranjangnya, mengenakan celana piyama gelap tanpa kaus. Di hadapannya, laptop masih menyala menampilkan laporan audit keuangan yang belum terselesaikan. Namun, fokus pria itu sama sekali tidak lagi tertuju pada deretan angka atau grafik laba rugi perusahaan. Telinganya terpasang tajam ke arah pintu penghubung yang tertutup rapat—pintu yang selama ini menjadi batas tidak kasat mata antara dunianya dan dunia Shasmira.

"Hah..." sebuah helaan napas berat terdengar samar dari balik dinding. Disusul oleh suara isak tangis tertahan yang sangat lirih, seolah pemiliknya sedang berusaha keras menelan rasa sakit seorang diri agar tidak terdengar oleh siapapun.

Arfan mengerutkan keningnya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Shasmira bukan tipe wanita yang mudah menumpahkan air mata di hadapan orang lain, bahkan di hadapannya sekalipun. Selama ini, gadis itu selalu menunjukkan ketegaran, keberanian, dan perlawanan sengit setiap kali mereka berdebat. Mendengar isak tangis yang begitu rapuh dan menyayat hati dari kamar sebelahnya membuat dada Arfan mendadak terasa sesak.

Ia bangkit dari tepi ranjang, berjalan perlahan mendekati pintu penghubung. Tangannya terulur hendak mengetuk, namun ia ragu. Apakah ia memiliki hak untuk masuk ke ruang pribadi Shasmira di tengah malam seperti ini? Bukankah mereka baru saja melewati hari-hari penuh ketegangan korporat, dan Shasmira mungkin membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan diri?

Namun, isak tangis itu kembali terdengar—kali ini disertai suara gemeretak gigi dan napas tersengal yang menandakan bahwa Shasmira sedang mengalami serangan kecemasan atau mimpi buruk yang hebat. Tanpa pikir panjang lagi, Arfan menepis segala keraguannya. Ia memutar kenop pintu penghubung yang tidak terkunci, lalu mendorongnya pelan-pelan hingga terbuka.

Cahaya temaram dari lampu tidur di kamar Shasmira menyambut penglihatannya. Ruangan itu tampak sunyi, tetapi di sudut ranjang besar, sosok Shasmira tampak meringkuk dengan kedua lutut ditarik ke dada. Wajah gadis itu dibenamkan di antara lipatan tangannya, sementara tubuhnya bergetar hebat di balik selimut wol tipis yang melilit tubuhnya.

"Shasmira?" panggil Arfan dengan suara berat nan lembut, melangkah masuk ke dalam kamar yang dipenuhi aroma cat minyak dan lavender itu.

Shasmira terperanjat mendengar suara itu. Ia mendongak cepat, memperlihatkan wajahnya yang basah oleh air mata, mata indahnya memerah, dan bibirnya bergetar hebat.

"Kau... sedang apa di sini?" suara Shasmira parau, nyaris tak terdengar di antara napasnya yang tersengal-sengal. "Kembali ke kamarmu, Arfan. Aku baik-baik saja."

"Kau tidak terlihat baik-baik saja," balas Arfan tegas namun penuh kelembutan, berjalan mendekati ranjang dan duduk perlahan di tepi matras yang melesak ke bawah akibat berat tubuhnya.

❖ ❖ ❖

Shasmira menggeleng cepat, mencoba memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan kerapuhannya. "Aku hanya... kelelahan. Ini hanya mimpi buruk masa lalu. Jangan pedulikan aku, Arfan. Pergilah kembali ke kamarmu dan selesaikan pekerjaanmu."

Arfan tidak bergeming. Ia mengamati setiap inci wajah Shasmira yang pucat pasi, melihat bagaimana jemari gadis itu mencengkeram erat selimut hingga buku-buku jarinya memutih. Ingatannya melayang kembali pada malam badai beberapa minggu lalu, ketika Shasmira mengalami ketakutan serupa di dapur akibat trauma masa kecilnya terhadap kegelapan dan kebakaran studio lamanya.

"Bagaimana bisa aku kembali ke kamarmu—maksudku, ke kamarku—sementara wanita yang sah menjadi istriku sedang gemetar ketakutan di sebelah kamarku?" ucap Arfan dengan suara rendah yang menusuk langsung ke relung hati Shasmira.

"Aku bukan istrimu yang sebenarnya, Arfan," desis Shasmira getir, air matanya kembali tumpah membasahi pipinya. "Kita berdua tahu pernikahan ini hanyalah ikatan kontrak hukum yang dipaksakan oleh surat wasiat kakekmu. Kita tidak lebih dari dua orang asing yang terperangkap dalam sangkar yang sama!"

Arfan terdiam sejenak. Kata-kata itu meluncur tajam seperti belati, namun ia tahu itu diucapkan bukan karena kebencian, melainkan karena rasa frustrasi dan beban mental yang luar biasa menumpuk di pundak Shasmira setelah ancaman para pengkhianat korporasi siang tadi.

"Mungkin dulunya memang begitu," kata Arfan pelan, suaranya sarat akan ketulusan yang jarang sekali ia tunjukkan. Ia mengulurkan tangan kanannya perlahan, mendekatkan telapak tangannya ke pipi Shasmira yang basah. "Tapi, Shasmira... apakah selama berminggu-minggu kita hidup di bawah atap yang sama, berbagi malam, berbagi kekhawatiran, dan berjuang bersama melawan musuh perusahaan... kau masih menganggap kita adalah orang asing?"

Shasmira menatap mata hitam Arfan yang memantulkan cahaya lampu tidur. Sorot mata itu begitu hangat, begitu dalam, hingga mampu meruntuhkan benteng pertahanan terakhir di dalam dada Shasmira. Ia membuka bibirnya hendak membantah, namun tidak ada satupun suara yang keluar. Tenggorokannya terasa tercekat oleh gelombang emosi yang begitu kuat.

"Aku tidak bisa berpura-pura lagi, Shasmira," aku Arfan jujur, ibu jarinya bergerak perlahan menghapus air mata di pipi gadis itu. "Setiap kali aku melihatmu menangis atau terluka, rasanya jauh lebih menyiksa daripada menghadapi seluruh dewan komisaris yang berkhianat di kantor."

Shasmira tertegun. Napasnya tertahan. Jantungnya berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya dengan ritme yang tidak beraturan. "Arfan... jangan katakan itu... kita tidak boleh..."

"Kenapa tidak?" potong Arfan lembut namun tegas. "Kenapa kita harus terus bersembunyi di balik aturan pranikah dan batasan konyol itu, sementara hatimu dan hatiku sudah tahu jawabannya?"

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam kamar itu mendadak menjadi begitu hening, menyisakan suara deru angin malam di luar jendela dan detak jantung dua insan yang kini saling terpaku dalam jarak yang begitu dekat. Shasmira menatap wajah tegas suaminya, mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanya kejujuran yang telanjang dan tekad bulat yang menenangkan.

"Aku takut, Arfan," bisik Shasmira lirih, suaranya bergetar hebat saat ia akhirnya menyerahkan pertahanan dirinya. "Aku takut semua ini hanya sementara. Aku takut ketika masalah perusahaan ini selesai, kita akan kembali menjadi orang asing yang terikat kontrak."

Lihat selengkapnya