Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Secangkir Susu Cokelat Hangat

Malam merayap lambat di balik kaca jendela besar kediaman Arfan, membawa serta hawa dingin sisa hujan sore yang baru saja reda. Di dalam kamar utama yang luas, Shasmira duduk memeluk kedua lututnya di sudut ranjang berseprai putih bersih. Tatapannya kosong menerawang ke arah lantai marmer yang mengkilap, sementara sisa-sisa air mata masih mengering di pipinya yang pucat. Hari-hari yang ia lewati di rumah itu telah merenggut seluruh energinya, meninggalkan kehampaan yang begitu dalam di dalam dadanya.

Pintu kamar terbuka perlahan dengan deritan engsel yang nyaris tak bersuara. Shasmira bahkan tidak mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang datang; ia sudah tahu persis siapa satu-satunya orang yang memiliki akses ke ruangan itu selain Bi Inah.

Langkah kaki tenang terdengar mendekat, berhenti tepat di sisi ranjang. Aroma manis cokelat hangat perlahan menguar, memecah udara dingin yang menyelimuti kamar tersebut.

"Kamu belum tidur, Shas?" suara Arfan terdengar lembut, jauh lebih tenang dari biasanya.

Shasmira perlahan mendongakkan wajahnya, menatap pria yang berdiri di samping tempat tidur. Arfan tidak mengenakan jas kerjanya; ia hanya memakai kemeja putih berlengan yang digulung sampai siku, memperlihatkan lengannya yang kokoh. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah cangkir keramik besar yang mengepulkan uap tipis.

"Untuk apa aku tidur?" jawab Shasmira dengan suara serak dan parau. "Di dalam ruangan ini, tidur pun tidak memberikan ketenangan. Apa lagi yang kamu inginkan dariku, Arfan? Apakah belum cukup penderitaan yang kau berikan?"

Arfan tidak langsung menjawab. Ia menatap istrinya lekat-lekat dengan sorot mata yang sulit diartikan—menyimpan kelelahan, ketegasan, namun juga secercah kelembutan yang janggal. Tanpa mengatakan apa pun, pria itu duduk perlahan di tepi ranjang, membuat kasur empuk itu sedikit berderit.

"Aku membawakan ini untukmu," kata Arfan sambil menyodorkan cangkir keramik tersebut ke hadapan Shasmira. "Secangkir susu cokelat hangat. Minumlah, ini akan membantu menenangkan sarafmu."

Shasmira melirik cangkir itu sekilas, lalu tertawa hambar, sebuah tawa getir yang penuh dengan kepedihan. "Susu cokelat hangat? Apakah kamu pikir secangkir minuman manis bisa menghapus semua siksaan mental yang telah kau lakukan padaku? Apakah kamu pikir gestur kecil seperti ini bisa mengubah kenyataan bahwa aku adalah tahanan di rumahmu sendiri?"

"Ini bukan racun, Shas," ucap Arfan tenang, berusaha meredam ketegangan di antara mereka. "Aku hanya ingin kamu merasa sedikit lebih baik. Malam ini sangat dingin, dan kamu gemetar."

"Aku gemetar bukan karena cuaca, Arfan!" seru Shasmira, suaranya sedikit bergetar menahan emosi yang kembali membuncah. "Aku gemetar karena aku terjebak bersama seorang pria yang memperlakukanku seperti benda pameran, lalu datang membawa secangkir susu seolah-olah semuanya baik-baik saja!"

Arfan menarik napas panjang, meletakkan cangkir tersebut di atas nakas sebelah ranjang dengan hati-hati. Ia menoleh kembali menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh penekanan.

"Aku tahu kamu membenciku saat ini," ujar Arfan dengan nada rendah yang menusuk. "Tetapi cobalah untuk sedikit melunak, Shas. Tidak semua hal di rumah ini diciptakan untuk menyakitimu."

"Lalu untuk apa aku dikurung di sini?" tantang Shasmira, air matanya kembali menggenang di pelupuk mata. "Kenapa kamu tidak membiarkanku pergi jika kehadiran di sini hanya membuatku merasa mati perlahan?"

"Karena kamu adalah istriku," jawab Arfan singkat, sebuah kalimat mutlak yang selalu ia jadikan perisai untuk mengunci setiap perdebatan.

Shasmira menggelengkan kepalanya perlahan, merasa putus asa menghadapi tembok tebal yang mengelilingi suaminya. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, menolak untuk terus menatap pria yang telah merenggut kebebasannya itu.

❖ ❖ ❖

Keheningan yang pekat kembali merajut ruang di antara mereka berdua di dalam kamar yang temaram itu. Arfan masih duduk di tepi ranjang, memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya yang tampak begitu rapuh namun tetap keras kepala mempertahankan harga dirinya.

"Kamu tidak menyentuh makananmu sejak sore tadi, Shas," kata Arfan memecah sunyi, suaranya terdengar lebih melunak dari sebelumnya. "Kesehatanmu akan menurun jika kamu terus menyiksa diri seperti ini."

Shasmira menoleh sekilas, menatap suaminya dengan sorot mata penuh ketus. "Peduli apa kamu tentang kesehatanku? Jika aku sakit atau mati di rumah ini, itu justru akan membuatmu lebih mudah mencari pengganti yang baru, bukan? Seperti perempuan-perempuan sebelum aku!"

Mendengar ucapan itu, rahang Arfan mengeras seketika. Suasana di dalam kamar berubah menjadi dingin dalam hitungan detik.

"Jangan pernah membicarakan hal itu lagi, Shas," tegur Arfan dengan suara berat yang penuh ancaman terselubung.

"Kenapa? Karena itu adalah kenyataan yang ingin kau sembunyikan rapat-rapat?" balas Shasmira tajam, menantang kemarahan suaminya tanpa rasa takut. "Aku tahu aku bukan perempuan pertama yang duduk di tempat ini, mengenakan gaun ini, dan mendengarkan janji-janji palsu tentang masa depan! Rumah ini penuh dengan bayang-bayang mereka yang telah kau hancurkan!"

Arfan berdiri dari tempat tidurnya secara perlahan, menatap istrinya dengan sorot mata yang menyala tajam. "Kamu sama sekali tidak tahu apa pun tentang masa lalu, Shasmira. Jangan mencoba mencocokkan takdirmu dengan orang lain."

"Lalu jelaskan padaku!" seru Shasmira sambil bangkit berdiri menghadap suaminya, menaikkan suaranya hingga menggema di sudut-sudut kamar. "Jelaskan kenapa aku harus dikurung di sini jika bukan untuk tujuan yang sama! Apa salahku sehingga aku harus menjalani hidup sebagai tawanan di rumah suamiku sendiri?"

Arfan mengepalkan kedua tangannya erat-erat di sisi tubuhnya, menahan amarah yang hampir meledak. "Aku tidak akan menjelaskan apa pun pada seseorang yang menutup matanya dari ketulusan!"

"Ketulusan?" Shasmira tertawa sinis, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipinya. "Apakah mengurung seseorang, membatasi gerakannya, dan memperlakukannya seperti boneka adalah bentuk ketulusan menurut versimu? Jika iya, maka definisi cintamu adalah sebuah penyakit!"

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Shasmira seperti bilah pisau tajam yang menghujam langsung ke jantung pertahanan Arfan. Pria itu tertegun sejenak, menatap istrinya dengan napas memburu, sebelum akhirnya ia memutar tubuhnya dan melangkah cepat menuju pintu keluar.

Lihat selengkapnya