Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Perubahan Kecil Dimulai

Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai jendela kamar tidur utama yang menghadap langsung ke arah punggung bukit. Udara dingin pegunungan masih membekas di kulit, namun ada kehangatan yang berbeda hari itu—kehangatan yang sudah lama hilang dari rumah tua berlantai kayu jati tersebut. Di dapur kecil yang berdinding papan usang, Aris berdiri di depan kompor portabel, tangannya sibuk mengaduk isi panci kecil berisi air panas untuk menyeduh dua cangkir kopi tubruk hitam.

Suasana pagi itu terasa jauh lebih ringan dibandingkan hari-hari pertama kedatangan mereka di tempat terpencil ini. Tidak ada lagi keheningan yang mencekam atau tatapan penuh curiga yang saling menghujam. Yang terdengar hanya suara derik lantai kayu saat langkah kaki ringan mendekat dari arah koridor. Maya muncul dengan balutan sweter wol tebal berukuran kedodoran, rambut panjangnya diikat longgar ke belakang, menampakkan leherjenjangnya yang tampak lebih segar meski lingkaran hitam di bawah matanya belum sepenuhnya hilang.

Maya berdiri menyandar di ambang pintu dapur, memperhatikan punggung suaminya dengan tatapan yang melunak. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, rahang Aris tidak terlihat mengeras penuh beban.

"Wangi kopinya sampai ke kamar, Ris," suara Maya memecah kesunyian pagi, terdengar renyah dan tanpa beban berat yang biasanya selalu menyertai setiap kata yang diucapkannya.

Aris menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman kecil yang terukir tanpa sengaja di sudut bibirnya. "Sengaja kubuat lebih pekat hari ini. Biar mata kita benar-benar terbuka, bukan cuma karena terpaksa bangun tidur."

Maya balas tersenyum, sebuah senyuman tipis yang sungguh-sungguh, merambat naik ke matanya hingga kerutan halus di ujung matanya terlihat jelas. "Tampaknya udara gunung ini mulai bekerja dengan benar pada kepala kita. Atau mungkin... kita berdua mulai lelah untuk terus-menerus saling menyiksa diri dengan masa lalu."

Aris mematikan kompor, lalu menuangkan air panas ke dalam dua cangkir keramik putih. Ia menyerahkan salah satu cangkir kepada Maya dengan hati-hati. Jari-jemari mereka sempat bersentuhan sejenak; kulit yang dingin beradu dengan kehangatan cangkir, namun tidak ada yang menarik tangan atau menghindar seperti biasanya.

"Mungkin kita memang butuh waktu yang cukup panjang buat sadar kalau lari dari kenyataan itu melelahkan," ucap Aris pelan, meniup permukaan kopi yang mengepulkan uap tipis. Ia bersandar di tepi meja dapur, menatap istrinya lekat-lekat. "Semalam aku mimpi buruk lagi, Maya. Mimpi tentang malam di jalanan kota itu... tapi kali ini, di dalam mimpi, aku tidak lari."

Maya menyesap kopinya perlahan, merasakan pahit yang pekat namun menenangkan di lidahnya. Ia mendongak menatap Aris, mencari kejujuran di balik sorot mata suaminya. "Terus? Apa yang terjadi di dalam mimpimu?"

"Aku berhenti. Aku keluar dari mobil, dan aku menunggu polisi datang," jawab Aris jujur, suaranya tenang tanpa ada getar ketakutan seperti sebelumnya. "Dan anehnya, setelah bangun tadi, dadaku nggak sesak lagi. Rasanya... beban itu sedikit terangkat."

Maya terdiam sejenak, mencerna setiap kata yang diucapkan suaminya. Ia meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu melangkah lebih dekat, merapatkan jarak di antara mereka di dapur yang sempit itu. Tangannya terulur secara spontan, merapikan kerah sweter Aris yang sedikit terlipat ke dalam.

"Aku juga capek, Aris," bisik Maya tulus, matanya berkaca-kaca namun senyum di bibirnya tidak pudar. "Capek pura-pura kuat di depan keluarga besar, capek menyalahkan diri sendiri setiap detik, dan capek membenci takdir yang kita buat sendiri. Kalau kita harus menghadapi semuanya kembali suatu hari nanti... kita hadapi bersama. Mau?"

Aris menatap Maya dengan pandangan penuh kelegaan yang teramat sangat. Ia meletakkan cangkirnya, lalu merengkuh tubuh istrinya ke dalam dekapannya. Pelukan itu terasa begitu hangat, menghapus sisa-sisa hawa dingin pegunungan dan ketakutan malam-malam sebelumnya. Untuk kali pertama sejak kecelakaan itu merenggut kedamaian hidup mereka, perubahan kecil ini dimulai dari sebuah pengakuan dan ketulusan hati yang saling menerima.

❖ ❖ ❖

Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung selamanya. Menjelang siang hari, ketika matahari mulai meninggi dan kabut tipis tersapu bersih oleh angin lembah, titik jepit pertama mulai menguji kerapuhan damai yang baru saja mereka bangun. Aris dan Maya memutuskan untuk membereskan gudang kecil di belakang rumah yang selama ini dipenuhi kotak-kotak kardus tua peninggalan sang kakek.

Maya membuka salah satu kotak kayu berukuran sedang yang tertutup debu tebal. Di dalam kotak itu, tersimpan tumpukan foto-foto lama keluarga Wiryodiningrat dari masa lampau. Satu per satu foto itu ia amati, hingga perhatiannya terpaku pada sebuah foto polaroid usang yang terselip di balik sampul album tua.

"Aris, coba lihat ini," panggil Maya dengan suara tertahan, mengangkat foto tersebut ke hadapan suaminya.

Aris yang sedang menyapu lantai gudang mendekat, menatap lembar foto polaroid yang menunjukkan sudut halaman belakang villa ini beberapa tahun silam. Di atas tanah tempat mereka berdiri sekarang, tampak seorang anak kecil berdiri tersenyum menghadap kamera, mengenakan pakaian kusam yang persis sama dengan bayangan anak kecil yang kerap mereka lihat dalam teror malam-malam sebelumnya.

Lihat selengkapnya