Jarum pendek di jam dinding marmer berukuran besar di ruang utama lantai empat puluh lima kantor pusat Grup Wiratama menunjuk tepat ke angka lima sore. Cahaya keemasan matahari senja memantul indah di atas permukaan kaca gedung-gedung pencakar langit ibu kota, menyapu meja kerja kayu mahoni tempat Arfan Baskoro sedang memusatkan perhatiannya pada layar monitor komputer jinjing. Di hadapannya, berkas-berkas laporan keuangan triwulan ketiga menumpuk rapi, menunggu untuk ditandatangani. Biasanya, jam-jam seperti ini adalah awal dari rutinitas malam panjangnya—waktu di mana ia akan memesan kopi hitam pekat, menyalakan lampu meja, dan menghabiskan waktu hingga pukul sepuluh atau sebelas malam berkutat dengan angka-angka korporasi.
Namun, sore ini ada yang berbeda dari kebiasaan sang CEO muda.
Arfan menghentikan gerakan jemarinya di atas papan tik. Ia menyandarkan punggungnya yang tegap pada kursi kulit hitam yang empuk, lalu memijat pelipisnya perlahan. Matanya melirik sekilas ke arah sudut meja, tempat sebuah bingkai foto kecil berukuran paspor berdiri manis. Foto itu memperlihatkan dirinya dan Shasmira, diambil secara spontan di galeri seni beberapa bulan lalu saat mereka merayakan keberhasilan pameran tunggal sang istri. Di sana, Shasmira tersenyum lebar dengan noda cat biru di pipinya, sementara ia berdiri di sampingnya dengan ekspresi kaku namun sorot mata yang dipenuhi kehangatan rahasia.
Sejak badai pengkhianatan paman mereka berhasil ditumpas tuntas dan hubungan kontrak hukum mereka berubah menjadi ikatan emosional yang nyata, sesuatu di dalam diri Arfan bergeser secara fundamental. Rumah besar Wiratama yang tadinya terasa bagaikan benteng dingin dan sunyi kini telah berubah arti. Tempat itu bukan lagi sekadar tempat singgah untuk memejamkan mata di malam hari, melainkan sebuah rumah yang benar-benar ia rindukan setiap kali ia berada di luar.
Pintu ruang kerja diketuk dua kali, lalu Rian, sekretaris pribadinya, melangkah masuk dengan membawa map biru berisi agenda esok hari.
"Pak Arfan, ini jadwal rapat koordinasi dengan direksi cabang Surabaya untuk besok pagi," lapor Rian profesional, meletakkan map tersebut di atas meja. "Oh ya, apakah Anda ingin saya memesan makan malam seperti biasa? Jadwal rapat evaluasi malam ini dengan manajer operasional baru akan dimulai pukul tujuh."
Arfan mendongak, menatap Rian sejenak sebelum merapikan laptop di hadapannya dan memasukkannya ke dalam tas kulit kerjanya. "Batalkan rapat evaluasi malam ini, Rian. Pindahkan agendanya ke lusa pagi."
Rian mengerjap kaget, sebelah alisnya terangkat karena keheranan. "Batalkan, Pak? Tapi rapat itu sangat penting untuk meninjau logistik gudang baru..."
"Pekerjaan logistik bisa menunggu delapan belas jam lagi, Rian," potong Arfan tenang namun mutlak, berdiri dari kursinya dan mengenakan jas abu-abunya yang tersampir di sandaran kursi. "Aku harus pulang lebih cepat hari ini."
"Pulang... lebih cepat?" Rian mengulang dengan nada tidak percaya. Selama lima tahun ia bekerja di bawah kepemimpinan Arfan Baskoro, bos mudanya itu tidak pernah meninggalkan kantor sebelum pukul delapan malam, apalagi membatalkan rapat penting demi pulang cepat.
"Ya. Ada masalah?" tanya Arfan datar, menatap sekretaris setianya dengan sorot mata yang menyiratkan ketegasan sekaligus senyuman tipis di sudut bibirnya.
"Tidak, Pak. Tentu saja tidak," jawab Rian cepat, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. "Kalau begitu, saya akan atur ulang jadwalnya untuk lusa pagi. Hati-hati di jalan, Pak."
Arfan mengangguk singkat. Ia menyambar tas kerjanya, melangkah keluar dari ruang kerja megah itu, dan memasuki lift pribadi yang langsung membawanya turun ke lantai dasar tempat mobil sedan mewahnya terparkir. Udara senja ibu kota menyambutnya saat ia keluar dari lobi utama. Biasanya, perjalanan pulang ditempuh dalam keheningan panjang di tengah kemacetan kota. Namun kali ini, ada debaran antusiasme yang aneh di dalam dadanya—sebuah perasaan tidak sabar untuk segera melihat sosok Shasmira menyambutnya di pintu rumah.
❖ ❖ ❖
Perjalanan dari kawasan Sudirman menuju kawasan perumahan elite tempat kediaman Wiratama biasanya memakan waktu sekitar empat puluh lima menit pada jam kepulangan kantor. Namun malam ini, entah karena arus lalu lintas yang sedikit lebih bersahabat atau karena dorongan kuat dari dalam diri Arfan, mobilnya sudah memasuki gerbang utama kediaman Wiratama tepat pukul enam lewat sepuluh menit sore.
Ketika mobil hitam itu berhenti dengan sempurna di depan lobi utama rumah besar tersebut, Bibi Retno tampak sedang menyiram tanaman hias di teras samping. Wanita paruh baya itu terperanjat kaget melihat mobil sang tuan muda datang sepagi ini. Ia segera meletakkan selang air dan bergegas menghampiri pintu utama saat Arfan melangkah turun dari mobil.
"Selamat malam, Tuan Arfan," sapa Bibi Retno dengan senyuman lebar penuh keheranan. "Anda... pulang sepagi ini? Apakah ada urusan mendadak yang membuat Anda harus meninggalkan kantor?"
Arfan menyerahkan tas kerjanya kepada Bibi Retno sambil tersenyum tipis. "Tidak ada urusan mendadak, Bi. Aku hanya ingin pulang lebih awal. Di mana Shasmira?"
Bibi Retno mengambil tas tersebut, sorot matanya memancarkan kebahagiaan yang tulus. "Nona Shasmira ada di studio lukisnya di lantai atas, Tuan. Beliau sedang menyelesaikan pesanan kanvas besar untuk pameran amal minggu depan. Beliau bahkan sempat berpesan agar tidak diganggu sampai jam makan malam karena sedang fokus mencampur warna."
Arfan mengangguk pelan. "Baiklah, Bi. Jangan siapkan makan malam terlalu cepat. Biar aku yang mengeceknya ke atas."
"Baik, Tuan," jawab Bibi Retno sambil tersenyum penuh arti.
Arfan melangkah masuk ke dalam rumah yang megah dan hangat. Alih-alih langsung menuju sayap timur tempat ruang kerjanya berada, ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga kayu menuju lantai dua, menyusuri koridor panjang yang menghubungkan ke sayap barat. Semenjak malam di mana mereka saling membuka diri dan meruntuhkan seluruh sekat pertahanan, hubungan mereka telah berubah drastis. Tidak ada lagi jarak canggung, tidak ada lagi aturan pranikah yang dibicarakan, dan yang paling penting, pintu penghubung di antara kamar tidur mereka kini selalu terbuka lebar setiap malam.
Namun, sore ini Shasmira berada di studio lukisnya. Arfan berhenti tepat di depan pintu studio tersebut. Pintu kayu berukuran sedang itu tertutup rapat, namun celah tipis di bagian bawahnya memancarkan pendar cahaya kuning hangat dari dalam ruangan.
Arfan mengangkat tangan kanannya, hendak mengetuk pintu. Namun, ia mengurungkan niatnya sesaat ketika mendengar suara senandung kecil yang dilantunkan Shasmira dari dalam—sebuah melodi lembut yang terdengar begitu merdu dan menenangkan. Senyuman tipis terukir di bibir Arfan. Ia memutuskan untuk tidak mengetuk, melainkan mendorong gagang pintu perlahan-lahan agar tidak mengejutkan istrinya.
Pintu terbuka tanpa suara. Di dalam studio yang beraroma cat minyak, terpenting, dan kanvas putih itu, Shasmira tampak berdiri membelakangi pintu. Gadis itu mengenakan kaus longgar putih bernoda cipratan cat warna-warni, rambut hitam panjangnya diikat tinggi ekor kuda, dan di tangan kanannya tergenggam kuas besar yang sedang menari-nari di atas kanvas raksasa.
❖ ❖ ❖
Arfan bersandar sejenak di ambang pintu, menikmati pemandangan sederhana namun sangat berharga itu. Selama bertahun-tahun, hidupnya hanya diisi oleh deretan target perusahaan, rapat direksi yang melelahkan, dan strategi pertahanan aset keluarga. Ia tidak pernah tahu bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya bisa sesederhana berdiri di ambang pintu dan melihat seorang wanita mencurahkan jiwanya di atas kanvas.