Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Aroma Dapur Shasmira

Matahari sore menyusup lembut lewat jendela kaca besar dapur utama, memantulkan pendar keemasan di atas meja marmer putih yang bersih tanpa noda. Shasmira berdiri di hadapan kompor tanam modern, mengenakan apron katun berwarna krem yang melilit pas di tubuhnya. Rambut panjangnya dicepol rapi ke belakang, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah tirusnya. Di atas meja tersusun rapi berbagai bumbu dapur: bawang merah, bawang putih, cabai merah keriting, lengkuas, serai, serta sepotong daging sapi segar yang baru saja dikeluarkan dari lemari pendingin.

Langkah kaki tegap yang sudah sangat ia hafal terdengar mendekat dari arah koridor belakang. Bi Inah muncul di ambang pintu dapur, membawa sekeranjang sayuran segar tambahan, namun wanita paruh baya itu langsung menghentikan langkahnya begitu melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Shasmira.

"Nyonya Shasmira... apa yang sedang Anda lakukan di sini?" tanya Bi Inah dengan nada kaget yang tertahan, matanya membelalak menatap wajan dan spatula di tangan sang nyonya rumah.

Shasmira menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tampak dipaksakan namun menyiratkan tekad bulat. "Aku ingin belajar memasak, Bi. Aku ingin mencoba membuat hidangan kesukaan Arfan."

Bi Inah meletakkan keranjang sayur di atas meja kerja, lalu melangkah mendekat dengan gestur ragu-ragu. "Tapi Nyonya, dapur ini bukan tempat Anda. Tuan Arfan tidak pernah mengizinkan nyonya rumah mengotori tangan dengan urusan dapur seperti ini. Biar saya dan para pelayan saja yang menyiapkan semuanya."

"Aku bukan lagi boneka porselen yang hanya bisa duduk manis di kamar, Bi," balas Shasmira lembut namun tegas, menghentikan tangan Bi Inah yang hendak mengambil pisau darinya. "Sudah berbulan-bulan aku hidup di rumah ini tanpa melakukan apa pun selain meratapi nasibku. Hari ini, aku ingin berguna. Aku ingin memasak gulai daging sapi dan sambal balado kesukaan Arfan."

Bi Inah menghela napas panjang, sorot matanya menyiratkan rasa khawatir yang mendalam. "Tuan Arfan memiliki standar yang sangat tinggi, Nyonya. Beliau terbiasa dengan masakan koki profesional atau makanan yang rasanya pas di lidahnya. Saya takut jika masakan ini tidak sesuai selera, Tuan akan—”

"Arfan tidak akan memarahiku hanya karena masakan pertamaku kurang asin atau keasinan," potong Shasmira sambil memotong bawang merah dengan gerakan hati-hati di atas talenan kayu. "Aku hanya ingin mencoba, Bi. Tolong jangan halangi aku."

Melihat keteguhan di pancaran mata Shasmira, Bi Inah akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah, Nyonya. Jika itu keinginan Anda, saya akan membantu menyiapkan bumbu-bumbu halusnya agar tidak salah takaran."

"Terima kasih, Bi," ucap Shasmira tulus.

Aroma harum bawang yang mulai ditumis dengan minyak panas perlahan memenuhi seluruh sudut dapur, mengusir bau dingin dan steril yang selama ini melekat di rumah mewah tersebut. Untuk pertama kalinya dalam sekian lama, Shasmira merasakan secercah kendali atas hidupnya sendiri—meskipun itu dimulai dari balik kepulan asap kompor dan dentingan spatula di atas wajan.

❖ ❖ ❖

Waktu merangkak menuju pukul tujuh malam. Aroma rempah-rempah yang pekat dan menggugah selera kini mendominasi udara lantai bawah kediaman Arfan. Shasmira berdiri di depan meja makan panjang berbalut taplak linen putih, merapikan mangkuk-mangkuk porselen berisi gulai daging, tumis buncis, dan sambal merah terang yang baru saja ia masak bersama bantuan Bi Inah.

Pintu utama terbuka dengan suara khasnya, disusul oleh derap langkah kaki tegas yang memasuki ruang tengah. Arfan melangkah masuk sambil melonggarkan dasi di lehernya. Pria itu menghentikan langkahnya seketika begitu hidungnya menangkap aroma masakan rumahan yang sangat khas—sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia cium di rumah itu selama bertahun-tahun.

Arfan berbelok menuju ruang makan, mendapati meja telah tertata rapi dan Shasmira berdiri di sisi meja dengan apron yang masih melekat di tubuhnya, menanti kedatangannya dengan debaran jantung yang tidak karuan.

"Bau apa ini?" tanya Arfan datar, alisnya berkerut tipis menatap deretan mangkuk makanan di atas meja.

"Aku yang memasaknya, Fan," jawab Shasmira, suaranya terdengar sedikit bergetar menahan gugup. "Duduklah. Aku ingin kamu mencobanya."

Arfan menatap istrinya lekat-lekat, lalu beralih memandang mangkuk gulai daging di hadapannya. Ekspresi wajah pria itu sulit dibaca—antara terkejut, curiga, dan dingin. "Kamu yang memasak? Sejak kapan kamu bisa memasak hidangan seperti ini?"

"Sejak hari ini," balas Shasmira, mencoba menegakkan punggungnya agar terlihat tegar. "Aku bosan hanya duduk diam menunggu makanan disajikan. Aku ingin melakukan sesuatu sebagai seorang istri di rumah ini."

Arfan menarik kursi utama, lalu duduk perlahan tanpa melepaskan pandangannya dari Shasmira. "Rumah ini punya koki pribadi, Shas. Kamu tidak perlu membuang tenaga untuk hal-hal semacam ini."

"Ini bukan soal membuang tenaga, Arfan," sangkal Shasmira, tatapannya menantang lurus ke mata suaminya. "Ini soal mencoba bertahan hidup dengan caraku sendiri. Cicipilah. Ini menu kesukaanmu, kan? Gulai daging buatan rumah."

Arfan mengambil sendok dan garpu, lalu menyendok sedikit kuah gulai dan potongan daging ke piringnya. Shasmira menahan napasnya, mengawasi setiap gerak-gerik suaminya dengan rasa cemas yang mencengkeram dada.

Saat Arfan menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya, keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruang makan. Bi Inah yang berdiri di sudut ruangan bahkan ikut menundukkan kepala, menanti reaksi sang tuan besar.

Lihat selengkapnya