Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Kehadiran Bunga-Bunga

Kabut pagi di kawasan Perkebunan Malabar biasanya disambut oleh Arfan dengan tumpukan laporan logistik dan deru mesin kendaraan operasional yang membelah keheningan. Namun, dua minggu terakhir, rutinitas itu telah mengalami perubahan yang cukup drastis, perubahan yang membuat Pak Haryanto dan para pekerja lapangan seringkali menghentikan langkah mereka untuk sekadar mencuri pandang. Setiap pukul enam pagi, alih-alih langsung menuju gudang atau area pemetikan, Arfan akan berjalan menyusuri jalur setapak di balik perbukitan kecil yang ditumbuhi liar oleh bunga-bunga endemik pegunungan.

Di tangannya, sebuah buket sederhana yang ia ikat dengan tali rami dari batang tanaman merambat, berisi paduan bunga lili putih liar dan beberapa kuntum mawar gunung yang aromanya begitu lembut namun memabukkan. Arfan, pria yang dulunya hanya mengenal bahasa angka, jadwal, dan disiplin besi, kini tampak sangat teliti saat memilah kuntum bunga mana yang masih segar dan mana yang harus ia tinggalkan. Baginya, bunga-bunga ini bukan lagi sekadar elemen estetika yang tidak berguna; mereka adalah cara baru untuk mengomunikasikan rasa yang selama ini terkubur dalam dirinya.

Setibanya di teras vila kayu, Arfan menemukan Shasmira sudah duduk di sana, menyesap teh hangat sambil menatap lembah yang masih tertutup selimut kabut putih tipis. Saat Shasmira menoleh dan menyadari kehadiran Arfan, senyum tipis yang tulus segera mengembang di wajahnya.

"Kamu terlalu pagi hari ini," sapa Shasmira dengan suara yang lembut, menyambut Arfan yang mendekat dengan tangan yang disembunyikan di balik punggungnya.

"Pagi adalah saat di mana bunga-bunga ini memiliki embun yang paling jernih," jawab Arfan, suaranya kini tidak lagi terdengar kaku seperti dulu, melainkan memiliki ritme yang lebih tenang. Ia membawa tangannya ke depan, menyodorkan buket bunga tersebut kepada Shasmira. "Untukmu. Mawar gunung hari ini tampak lebih cerah, mungkin karena matahari sedikit lebih hangat daripada kemarin."

Shasmira menerima buket itu dengan tangan yang sedikit bergetar karena rasa haru yang halus. Ia mencium aroma kelopak bunga tersebut, menutup matanya sejenak untuk menikmati kelembutan yang diberikan Arfan. "Ini indah sekali, Arfan. Setiap hari kamu membawakan bunga-bunga ini, dan setiap hari pula aku merasa tidak pantas menerima dedikasi sebesar ini dari pria yang harusnya mengurus ribuan hektar perkebunan."

"Aku tidak bisa membayangkan memulai hari tanpa melihatmu tersenyum karena bunga-bunga ini," sahut Arfan, lalu duduk di kursi rotan di samping Shasmira. "Dulu, aku berpikir bunga-bunga ini hanya tanaman liar yang tidak memberikan kontribusi pada tonase teh. Tapi sekarang, aku melihatnya sebagai bagian dari hidupmu di sini. Dan kalau itu membuatmu merasa tenang, maka itu sudah jadi tugasku."

Shasmira meletakkan bunga-bunga itu di dalam vas keramik di meja, kemudian menatap Arfan dengan pandangan yang dalam. "Kamu benar-benar sudah berubah, Arfan. Pria yang dulu hanya bicara soal efisiensi sekarang berubah menjadi pria yang mengenal nama setiap bunga di bukit ini. Apa sebenarnya yang kamu cari di balik semua ini?"

Arfan terdiam sejenak, menatap hamparan kabut yang mulai tersingkap oleh sinar matahari. "Mungkin aku sedang mencari cara untuk menebus waktu yang terbuang saat aku tidak melihat keindahan di sekitarku. Atau mungkin, aku hanya ingin memastikan bahwa setiap detik yang kita habiskan di sini, kamu merasa dihargai dengan cara yang paling sederhana namun jujur."

Dialog pagi itu selalu menjadi pusat dari hari-hari mereka. Kebiasaan baru ini bukan hanya sekadar rutinitas membawakan bunga, tetapi sebuah simbol dari jembatan yang sedang mereka bangun. Arfan yang dulunya melihat Shasmira sebagai 'bunga hias' yang merepotkan, kini justru menjadi tukang kebun yang paling setia, yang setiap hari mencari kuntum terbaik hanya untuk memastikan bahwa hari Shasmira dimulai dengan sesuatu yang hidup dan bermakna.

❖ ❖ ❖

Namun, kehadiran bunga-bunga di atas meja ruang tamu tidak selamanya membawa ketenangan. Bagi beberapa orang di perkebunan, terutama di kalangan staf administratif yang terbiasa dengan gaya kepemimpinan Arfan yang kaku, perubahan perilaku sang manajer ini menimbulkan pertanyaan. Di ruang rapat utama, suasana terasa lebih dingin daripada suhu di luar vila. Beberapa map berisi laporan evaluasi kinerja tampak menumpuk tanpa ditandatangani.

Pak Haryanto berdiri di depan meja kerja Arfan, menunggu instruksi dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kebingungannya. "Arfan, delegasi dari pusat akan datang besok pagi untuk audit proyek agrowisata. Laporan anggaran tahunan kita belum diverifikasi sepenuhnya. Saya khawatir kalau kita tidak menyelesaikannya hari ini, tim investigasi akan punya celah untuk membatalkan proyek ini."

Arfan mengalihkan pandangannya dari vas bunga di meja kerjanya—yang kini berisi rangkaian bunga terbaru—menuju dokumen-dokumen yang berserakan. Ia menghela napas, menyadari bahwa ia telah membiarkan fokusnya terbagi. "Saya tahu, Pak. Saya akan segera menyelesaikannya setelah jam makan siang."

"Arfan," Pak Haryanto memanggil dengan nada yang lebih serius, "perubahanmu adalah hal yang baik bagi semua orang di sini, termasuk saya. Tapi jangan sampai 'kehadiran bunga-bunga' ini membuatmu lupa bahwa kamu adalah manajer yang memegang tanggung jawab atas kelangsungan hidup ratusan pekerja."

Arfan tertegun. Kata-kata itu menghantamnya tepat di ulu hati. Ia menatap ke arah bunga lili putih yang mekar di sudut meja. Apakah ia telah kehilangan profesionalismenya? "Saya mengerti, Pak Haryanto. Ini tidak akan terjadi lagi."

Setelah Pak Haryanto keluar, Shasmira masuk ke ruangan tersebut dengan membawa nampan berisi kopi. Ia melihat Arfan sedang menatap dokumen dengan raut wajah yang kembali keras. Shasmira meletakkan nampan tersebut, namun tatapannya tertuju pada bunga yang diletakkan Arfan tadi pagi. Ia tahu ada sesuatu yang mengganjal.

"Ada masalah lagi dengan kantor pusat?" tanya Shasmira pelan, duduk di kursi di hadapan Arfan.

"Mereka mempertanyakan dedikasiku," jawab Arfan dingin, kembali ke mode bicara yang formal. "Mereka merasa bahwa keterlibatanku dalam proyek ini sudah tidak sefokus dulu. Mereka menyinggung tentang perubahan gaya hidup dan prioritas yang 'tidak relevan dengan fungsi operasional perkebunan'."

Shasmira merasakan dadanya sakit. Ia merasa bersalah karena kehadirannya mungkin telah menjadi beban, atau bahkan alasan bagi orang-orang untuk meragukan Arfan. "Arfan, kalau keberadaanku dan kebiasaanmu membawakan bunga itu justru menjadi senjata bagi mereka untuk menjatuhkanmu, mungkin aku harus berhenti."

Arfan menghentikan gerakan penanya, menatap Shasmira dengan pandangan yang tajam namun penuh ketulusan. "Jangan pernah berpikir begitu. Bunga-bunga itu bukan alasan kegagalanku. Justru sebaliknya, itu adalah alasan kenapa aku harus berhasil. Aku tidak ingin membangun masa depan yang kaku lagi. Aku ingin masa depan yang memiliki ruang untuk keindahan, dan kamu adalah bagian dari keindahan itu."

Ketegangan itu terasa nyata. Mereka berada di persimpangan jalan; antara mempertahankan idealisme baru yang lebih manusiawi, atau kembali pada sistem dingin yang menuntut segalanya diukur dengan keuntungan finansial.

❖ ❖ ❖

Malam harinya, angin pegunungan bertiup jauh lebih kencang dari biasanya, seolah-olah alam sedang merespons ketidakpastian yang menggantung di udara. Arfan tidak bisa tidur. Ia mondar-mandir di ruang tamu, memperhatikan vas bunga di atas meja kopi yang sudah mulai melayu kelopaknya. Ia merasa gelisah, seolah-olah ada sesuatu yang akan segera terjadi. Shasmira keluar dari kamar, melihat Arfan yang tampak begitu terbebani.

"Arfan, kamu tidak perlu memikul beban ini sendirian," ujar Shasmira sambil mendekat, menyentuh lengan Arfan. "Besok pagi, saat tim audit itu datang, kita akan hadapi bersama. Aku akan menjelaskan semua konsep agrowisata secara detail, dan kamu akan memberikan angka-angka keberhasilannya. Kita akan tunjukkan pada mereka bahwa kombinasi antara 'bunga' dan 'logistik' itu mungkin terjadi."

Arfan tersenyum getir, menatap Shasmira. "Ayahmu adalah orang yang sangat pragmatis, Shasmira. Dia tidak akan peduli pada konsep keindahan. Dia hanya peduli pada margin laba yang dihasilkan dalam tiga tahun terakhir. Dia akan menggunakan ketidakfokusan yang dituduhkan padaku sebagai alasan utama untuk menutup proyek ini."

"Kalau begitu, mari kita buat dia terkesan dengan angka," Shasmira bersikeras. "Aku sudah meninjau laporan efisiensi yang kamu buat minggu lalu. Dengan sedikit penyesuaian pada bagian pemasaran agrowisata, kita bisa menekan biaya hingga delapan persen. Itu akan cukup untuk meyakinkan mereka bahwa proyek ini layak dilanjutkan."

Arfan menatap Shasmira dengan rasa kagum. Wanita ini bukan hanya memiliki jiwa seni, tapi ia juga sangat cerdas dalam membaca peluang. "Kamu sudah membaca laporan itu?"

Lihat selengkapnya