Sore hari di rumah susun sederhana itu terasa begitu lapang, seolah dinding-dinding yang dulunya terasa menekan kini meluas memberi ruang bagi napas yang lega. Cahaya matahari pukul empat sore menyusup lembut melalui kaca jendela kamar utama yang baru, memantulkan garis-garis keemasan di atas lantai keramik yang bersih. Di ruang keluarga yang kini tidak lagi dipadati tumpukan berkas kantor atau sekat-sekat imajiner, sebuah karpet bulu tipis berwarna abu-abu terang terbentang rapi di tengah ruangan. Di atas karpet itulah Maya duduk bersila, dikelilingi oleh beberapa lembar majalah interior dan buku catatan kecil bersampul cokelat.
Aris melangkah keluar dari dapur sambil membawa dua cangkir teh chamomile hangat yang mengepulkan uap tipis beraroma bunga menenangkan. Langkah kakinya terasa ringan, jauh berbeda dengan beberapa minggu lalu saat setiap gerakannya di dalam rumah ini selalu diiringi ketegangan yang tertahan. Pria itu berlutut perlahan di samping Maya, lalu meletakkan cangkir tersebut di atas meja kecil di dekat mereka.
"Teh hangat untuk seniman dadakan yang sedang sibuk merencanakan masa depan," kata Aris dengan senyuman kecil di bibirnya, menyerahkan salah satu cangkir kepada istrinya.
Maya mendongak, menerima cangkir itu dengan kedua tangan dan menyesapnya pelan. Kehangatan langsung menjalar di tenggorokannya. "Terima kasih, Aris. Aku sedang melihat-lihat beberapa ide penataan ulang rak buku di sudut ruangan. Menurutmu, apakah warna kayu jati tua masih cocok dengan suasana baru rumah kita?"
Aris ikut duduk bersila di samping Maya, mendekatkan tubuhnya hingga bahu mereka bersentuhan. Ia melirik lembaran majalah yang sedang dibaca istrinya. "Kenapa tidak kita coba ganti dengan warna putih gading atau kayu terang? Ruangan ini akan terlihat jauh lebih luas dan cerah."
"Ide bagus," jawab Maya sambil tersenyum, mencatat usulan suaminya di buku kecil. "Aku tidak menyangka kita bisa duduk santai seperti ini tanpa ada rasa canggung atau beban pikiran yang mengganjal di kepala."
"Karena kita akhirnya berhenti berlari dari kenyataan," balas Aris lembut, merapikan beberapa helai rambut Maya yang jatuh menutupi dahi. "Dan mulai menikmati hal-hal kecil yang selama ini kita lewatkan begitu saja."
Obrolan ringan itu mengalir begitu natural, mengisi kesunyian sore dengan kehangatan yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tidak ada lagi kalimat-kalimat tajam yang dilontarkan untuk saling menyakiti, tidak ada lagi kecurigaan di balik laci terkunci, dan tidak ada lagi bayang-bayang tuntutan luar yang membebani. Di dalam ruang keluarga yang sederhana itu, waktu seolah berjalan lebih lambat, memberikan kesempatan bagi keduanya untuk benar-benar mengenal satu sama lain sebagai sepasang sahabat hidup yang sejati.
❖ ❖ ❖
Hari mulai beranjak petang ketika suara rintikan hujan gerimis mulai terdengar mengetuk atap seng rumah susun. Suasana di dalam ruangan semakin terasa intim dengan temaram lampu gantung kuning hangat yang dinyalakan Maya. Di sudut ruangan, radio tua pinjaman dari tetangga lantai bawah mengalunkan musik instrumental jazz pelan, menciptakan latar suara yang menenangkan.
Aris bangkit sejenak untuk mengambil sebuah kotak kayu berisi permainan papan scrabble yang sudah lama tersimpan di dalam lemari gudang. Ia kembali duduk di atas karpet, membuka kotak tersebut dan menyusun huruf-huruf kecil berbahan kayu di hadapan mereka.
"Kau menantangku bermain scrabble?" tanya Maya dengan sebelah alis terangkat, tantangan bersaing yang sehat terpancar jelas dari tatapan matanya. "Jangan menyesal kalau nanti kau kalah telak seperti minggu lalu."
"Minggu lalu itu hanya bentuk latihan bagiku untuk membaca strategi bermainmu," jawab Aris tertawa kecil, menyusun beberapa huruf pertama di papan permainan. "Kali ini aku tidak akan mengalah, Maya."