Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Menghapus Salah Paham

"Kalau kamu terus-terusan mengupas kentang seperti mengiris musuh bebuyutan, yang ada kulitnya habis tersisa setengah, Maya."

Tawa kecil Aris berderai renyah di dalam dapur mungil villa tua itu, memecah kesunyian pagi yang biasanya diisi dengan ketegangan. Sinar matahari keemasan menerobos masuk lewat jendela kecil berbingkai kayu, menyinari uap tipis yang mengepul dari panci sup mendidih di atas kompor. Maya mengerutkan keningnya, mendengus pelan sambil menghentikan gerakan pisau di tangannya. Ia menatap potongan kentang yang memang tampak compang-camping di atas talenan kayu sebelum melirik suaminya dengan sorot mata setengah kesal, setengah geli.

"Ini bukan mau mengiris musuh, Aris. Ini bentuk protes karena aku dipaksa jadi koki dadakan di tempat antah berantah ini," tukas Maya membela diri, meski ujung bibirnya sendiri bergetar menahan senyum. "Di kota, aku biasa memesan makanan lewat aplikasi atau makan di restoran bintang lima. Mana pernah jariku memegang pisau dapur sebesar golok jagal begini?"

Aris meletakkan cangkir kopinya di atas meja counter, lalu melangkah mendekat. Pria itu berdiri tepat di belakang Maya, merangkapkan tangannya di atas tangan sang istri untuk membimbing posisi pegangan pisau yang benar. Sentuhan hangat itu mengalirkan getaran lembut yang langsung meredupkan sisa-sisa kekakuan di antara mereka. Selama berminggu-minggu tinggal di tempat terpencil ini, sifat manja Maya yang selalu bergantung pada fasilitas kota dan kebiasaan kaku Aris dalam memendam emosi perlahan-lahan terpangkas habis oleh fakta keseharian yang sederhana namun jujur.

"Begini caranya, Nyonya Besar," bisik Aris tepat di dekat telinganya, suaranya rendah dan menenangkan. "Pelan-pelan, ikuti kontur kentangnya. Jangan dilawan."

Maya membiarkan suaminya membimbing tangannya. Bau sabun mandi herbal dan aroma kopi dari tubuh Aris berpadu dengan wangi kaldu hangat, menciptakan kenyamanan asing yang justru terasa sangat pas di dada. "Baiklah, Tuan Guru. Aku akan coba," balas Maya lembut, membiarkan pisau itu mengiris kentang dengan rapi.

Dulu, di kota besar, kesibukan dan ambisi karir membuat mereka seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama. Maya dengan dunianya yang menuntut kesempurnaan visual di galeri seni, sementara Aris dengan setelan jas ketat dan meja kerjanya yang penuh dokumen korporat. Sifat manja Maya adalah cara dirinya menuntut perhatian di tengah dinginnya perhatian Aris, sementara kekakuan Aris adalah topeng pertahanan diri. Di villa tua ini, di hadapan realitas hidup tanpa pelayan, tanpa sinyal internet, dan tanpa kepalsuan sosial, sifat-sifat itu rontok satu per satu. Mereka belajar memasak bersama, membersihkan lantai kayu yang berderit, dan mencuci pakaian dengan tangan.

"Kamu tahu, Ris?" kata Maya pelan, meletakkan pisau setelah kentang terakhir selesai diiris sempurna. Ia membalikkan badan menghadap suaminya yang masih berdiri sangat dekat. "Dulu aku sempat mikir kalau pindah ke sini adalah hukuman mati buat pernikahan kita."

Aris merapikan sehelai rambut Maya yang keluar dari ikatannya, menyelipkannya dengan sabar ke belakang telinga wanita itu. "Dan sekarang?"

"Sekarang... aku justru bersyukur kita terdampar di sini," jawab Maya jujur, matanya berbinar tulus menatap lurus ke dalam mata suaminya. "Ternyata aku nggak butuh kemewahan kota buat ngerasa hidup. Yang aku butuhin cuma kamu yang benar-benar ada di sampingku, tanpa topeng dan tanpa kepura-puraan."

Aris tersenyum hangat, merengkuh pinggang Maya dan menariknya rapat ke dalam dekapan. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi salah paham yang tertutup ego. Keseharian di tempat sunyi ini telah mengajarkan mereka arti kebersamaan yang sesungguhnya—bahwa cinta tidak diukur dari seberapa mahal restoran tempat mereka makan, melainkan dari seberapa ikhlas mereka memotong kentang bersama di dapur yang sederhana.

❖ ❖ ❖

Namun, kedamaian pagi itu mendadak diuji ketika mereka melangkah ke luar rumah untuk menjemur pakaian di halaman belakang. Titik jepit pertama datang tanpa diundang saat angin lembah berembus kencang, membawa serta suara gemerisik aneh dari arah batas hutan pinus yang mengelilingi pekarangan belakang.

Maya yang sedang memegang keranjang pakaian tiba-tiba menghentikan langkahnya. Bulu kuduknya meremang seketika. Di ujung halaman, dekat pagar kayu tua yang ditumbuhi lumut, tampak bayangan kecil melintas cepat di balik semak-semak pakis.

"Aris... kamu lihat itu?" bisik Maya tegang, mencengkeram lengan suaminya erat-erat hingga keranjang pakaian di tangannya hampir terjatuh ke tanah.

Aris langsung menempatkan dirinya di depan sang istri, matanya menatap tajam ke arah semak-semak yang bergerak pelan. "Tetap di belakangku, Maya."

Meskipun hari sudah siang dan matahari bersinar terang, udara di sudut halaman itu mendadak terasa dingin menusuk tulang. Bau tanah basah dan aroma melati busuk yang dulu selalu menyertai teror malam hari kini tercium samar terbawa angin. Dulu, penampakan seperti ini akan membuat Maya menjerit histeris dan Aris panik setengah mati. Namun, hari ini, reaksi mereka jauh berbeda. Sifat kaku dan kepanikan berlebihan itu telah melebur digantikan oleh ketenangan batin yang mereka bangun selama beberapa pekan terakhir.

Lihat selengkapnya