Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

Tatapan yang Berbeda

Sinar matahari sore menyusup melalui jendela kaca besar perpustakaan utama, memantulkan bias keemasan di atas lantai kayu jati yang mengilap. Di ruangan yang dulu terasa begitu dingin dan kaku itu, kini atmosfernya telah berubah secara drastis. Tidak ada lagi ketegangan mencekam atau jarak yang dibatasi oleh aturan pranikah yang kaku. Yang ada hanyalah keheningan yang menenangkan, diselingi oleh suara lembaran kertas yang dibalik pelan-pelan.

Arfan Baskoro duduk di balik meja mahoni besar, mengenakan kemeja putih berlengan digulung sebatas siku. Di hadapannya, setumpuk dokumen audit pasca-penangkapan paman mereka berserakan rapi. Namun, pandangan pria itu tidak lagi terpaku pada deretan angka atau klausul hukum yang rumit. Sesekali, matanya terangkat melirik ke arah sudut ruangan, tempat Shasmira sedang berdiri di dekat rak buku tinggi.

Istrinya itu mengenakan gaun midi berwarna hijau zaitun, dengan rambut digelung longgar dan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajahnya yang tenang. Shasmira tengah merapikan beberapa jilid album foto lama keluarga Wiratama yang baru saja diturunkan dari loteng.

"Kau sudah membaca laporan audit cabang Surabaya halaman empat puluh dua?" tanya Arfan memecah keheningan, suaranya berat namun lembut, memecah udara sore yang hangat.

Shasmira menghentikan gerakannya, menoleh ke belakang sambil memegang sebuah album foto berdebu di kedua tangannya. Ia tersenyum tipis. "Belum sempat kuperiksa. Aku terlalu sibuk melihat foto-foto masa kecilmu di album ini, Tuan Kusuma."

Arfan mengangkat sebelah alisnya, menghentikan goresan pulpen di tangannya. "Foto masa kecilku? Jangan bilang Kakek menyimpan foto-fotoku yang memalukan di sana."

"Oh, tentu saja menyimpan!" Shasmira tertawa kecil, melangkah mendekati meja kerja Arfan dengan membawa album tebal tersebut. Ia meletakkannya tepat di hadapan suaminya, lalu membuka salah satu halaman yang memperlihatkan potret Arfan kecil berwajah cemberut mengenakan setelan jas mini. "Lihat ini. Bahkan sejak usia lima tahun, ekspresimu sudah mirip CEO korporasi yang siap memecat siapapun yang mendekati mainannya."

Arfan mendengus pelan, menatap foto masa lalunya sendiri sebelum pandangannya beralih naik, menatap wajah Shasmira yang kini berdiri sangat dekat di samping kursinya. "Itu bukan ekspresi siap memecat orang. Itu ekspresi kesal karena Kakek memaksaku mengenakan jas formal padahal aku hanya ingin bermain sepeda di halaman."

Shasmira tersenyum, jemarinya bergerak merapikan kerah kemeja Arfan secara refleks. Gerakan itu begitu natural, tanpa keraguan, dan dipenuhi oleh keintiman yang tumbuh seiring berjalannya waktu. "Tapi sekarang, wajah cemberut itu sudah berubah total. Meskipun kau masih hobi memasang ekspresi datar di hadapan para direktur kantor."

Arfan meraih tangan Shasmira yang masih berada di kerah kemejanya, menggenggamnya lembut, lalu menarik gadis itu agar berdiri lebih dekat di antara kedua kakinya. Shasmira tidak melawan; ia membiarkan dirinya ditarik hingga berdiri tepat di hadapan Arfan, menatap lurus ke dalam sepasang mata hitam suaminya.

Dulu, tatapan itu terasa begitu mengintimidasi, dingin, dan penuh permusuhan. Arfan adalah pria arogan yang mewakili segala hal yang dibenci Shasmira dalam dunia bisnis. Namun waktu, badai, dan air mata telah mengubah segalanya. Ketika mereka saling menatap sekarang, tidak ada lagi topeng, tidak ada lagi rasa curiga, dan tidak ada lagi kepura-puraan. Yang tersisa hanyalah kedalaman perasaan yang teramat tulus.

"Waktu benar-benar mengubah segalanya, ya?" bisik Arfan lirih, ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Shasmira. "Ingatkah kau saat pertama kali kita duduk di meja ini dan membaca surat wasiat Kakek?"

"Aku ingat dengan jelas," jawab Shasmira tersenyum getir. "Aku berpikir saat itu bahwa menikah denganmu adalah hukuman terberat di dunia, dan aku ingin segera kabur sejauh mungkin."

"Dan sekarang?" tanya Arfan, tatapannya semakin lekat dan intens mengunci mata istrinya. "Apakah kau masih ingin kabur?"

Shasmira menggeleng pelan, senyuman manis terukir di bibirnya. "Tidak. Perjalanan pulang yang panjang dan melelahkan itu justru menuntunku ke tempat di mana aku seharusnya berada."

❖ ❖ ❖

Suasana hangat di perpustakaan itu mendadak terusik oleh ketukan pintu utama yang terdengar dari arah lantai bawah, disusul oleh suara langkah kaki Bibi Retno yang tergesa-gesa menaiki tangga. Arfan melepaskan genggaman tangannya perlahan, berdiri dari kursinya, sementara Shasmira merapikan gaunnya dan menutup album foto keluarga di atas meja.

Pintu perpustakaan diketuk tiga kali, lalu kepala Bibi Retno menyembul dari balik pintu dengan ekspresi sedikit cemas.

"Maaf mengganggu sore Anda, Tuan Arfan, Nyonya Shasmira," sapa Bibi Retno sopan. "Ada kurir pengiriman khusus yang datang membawa sebuah paket atas nama mendiang Eyang Prabu dari kantor notaris keluarga. Paket ini harus diserahkan langsung kepada kalian berdua."

Arfan mengerutkan keningnya. "Paket dari kantor notaris? Bukannya seluruh surat wasiat dan aset warisan Eyang sudah beres dibagikan sejak berbulan-bulan lalu?"

"Kurirnya mengatakan ini adalah amanat khusus yang baru boleh dibuka setelah seluruh badai internal perusahaan benar-benar reda dan kedudukan kalian berdua stabil," jelas Bibi Retno sambil melangkah masuk menyerahkan sebuah kotak kayu berukir klasik yang disegel lak merah kepada Arfan.

Arfan menerima kotak kayu tersebut dengan hati-hati. Ia memperhatikan segel lilin berlogo resmi keluarga Wiratama yang masih utuh. "Terima kasih, Bi. Kau bisa kembali melanjutkan pekerjaanmu."

Setelah Bibi Retno mengundurkan diri dan menutup pintu kembali, Arfan membawa kotak kayu itu ke atas meja mahoni, meletakkannya di hadapan Shasmira yang berdiri di sampingnya dengan rasa penasaran yang besar.

"Kotak apa ini?" tanya Shasmira pelan, menatap ukiran rumit di permukaan kayu jati tua tersebut.

"Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya," jawab Arfan mengambil pisau kecil pemotong surat dari atas meja, lalu mengiris segel lak merah dengan gerakan mantap.

Tutup kotak kayu itu dibuka perlahan, mengeluarkan aroma khas kertas tua dan kayu manis. Di dalam kotak tersebut, tidak ada dokumen saham atau surat berharga korporasi seperti yang biasa ditinggalkan oleh Eyang Prabu. Yang ada hanyalah sebuah surat tulisan tangan berukuran folio dengan tinta hitam tebal, serta dua buah kunci perunggu kecil yang terikat rapi dengan pita merah.

Arfan mengambil surat tersebut, membuka lipatannya, dan mulai membaca tulisan tangan sang kakek yang sangat dikenalinya. Shasmira mendekatkan tubuhnya, ikut membaca bait demi bait surat itu bersama suaminya:

Arfan menghentikan bacaannya sejenak, menelan ludah yang terasa tercekat di tenggorokannya. Ia menoleh menatap Shasmira, mendapati mata istrinya sudah berkaca-kaca menahan haru.

Surat itu ditutup dengan tanda tangan tegas mendiang Raden Mas Soedjarwo Wiratama.

Lihat selengkapnya