Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Tawa Pertama yang Lepas

Matahari sore menyusup lembut lewat celah kaca jendela dapur utama, menghangatkan lantai marmer putih yang biasanya terasa dingin dan steril. Di balik meja pulau dapur berbahan granit hitam, Shasmira berdiri dengan apron abu-abu melilit tubuhnya. Rambutnya diikat sembarangan ke atas, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah tirusnya. Di hadapannya, sepiring mangkuk besar berisi adonan tepung terigu, mentega, dan telur tampak berantakan. Ia sedang mencoba membuat kue kering sederhana, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya di rumah itu.

Langkah kaki tegap yang sudah sangat ia hafal terdengar mendekat dari koridor luar. Pintu dapur terdorong perlahan, dan Arfan muncul dengan kemeja kerjanya yang lengan bajunya sudah dilipat sampai siku. Pria itu tampak lelah setelah seharian penuh menghadapi urusan perusahaan, namun langkahnya terhenti seketika begitu melihat kekacauan di sekitar meja dapur.

"Apa yang sedang kamu lakukan, Shas?" tanya Arfan datar, alisnya berkerut heran melihat noda tepung putih menempel di pipi kiri istrinya.

Shasmira menoleh dengan cengiran canggung, tangannya yang memegang spatula dipenuhi adonan lengket. "Aku sedang berusaha menjadi koki rumahan, Arfan. Jangan menatapku seolah-olah aku sedang meledakkan laboratorium kimia."

Arfan melangkah mendekat, melirik sekilas ke arah mangkuk adonan yang tampak kelebihan cairan. "Dari bentuknya, itu lebih terlihat seperti bencana alam daripada kue kering. Apa resep ini benar-benar kamu ikuti dengan benar?"

"Aku mengikuti instruksi di buku resep, tapi sepertinya tepung dan menteganya punya rencana lain," balas Shasmira, mendengkus kecil sembari mencoba membersihkan hidungnya yang terkena noda tepung dengan punggung tangan, yang justru membuat wajahnya semakin belepotan.

Arfan menatap istrinya lekat-lekat, ekspresi dingin yang biasanya melekat di wajah pria itu melunak sekian derajat. "Tepungmu berantakan di mana-mana, Shas. Biar kulihat buku resepnya."

"Tidak usah sok tahu, Tuan Besar," tantang Shasmira dengan nada bercanda yang ringan, sebuah nada yang belum pernah keluar dari bibirnya selama berbulan-bulan tinggal di rumah itu. "Koki amatir ini bisa mengatasinya sendiri."

"Amatir adalah kata yang terlalu halus untuk kekacauan ini," jawab Arfan dengan sudut bibirnya yang sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang hampir tidak pernah dilihat Shasmira sebelumnya.

Suasana di dapur yang biasanya dipenuhi ketegangan dan kebisuan kini terasa berbeda. Udara terasa lebih hangat, seolah-olah dinding-dinding kokoh rumah besar itu melunak demi menyaksikan interaksi langka di antara dua orang asing yang perlahan-lahan mulai mencairkan es kebekuan di antara mereka.

Shasmira mendengus pelan, lalu dengan sengaja mencolek sedikit adonan tepung di pinggir mangkuk dan mengarahkannya ke arah Arfan. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa handal kamu menilai bencana ini."

Arfan membelalakkan mata sesaat ketika cipratan kecil adonan tepung mendarat tepat di ujung hidungnya. Pria itu tertegun, menatap Shasmira dengan tatapan tidak percaya bahwa istrinya berani melakukan hal tersebut.

❖ ❖ ❖

Keheningan seketika mengambil alih dapur besar itu setelah insiden kecil cipratan tepung. Shasmira terpaku di tempatnya, baru sadar akan apa yang baru saja ia lakukan kepada suaminya—pria yang selama ini ditakuti, dipatuhi, dan dianggap sebagai sipir di penjara mewahnya. Jantungnya berdegup kencang, takut kalau Arfan akan murka dan kembali memasang topeng dinginnya.

"Maaf... aku tidak sengaja," cicit Shasmira pelan, menurunkan spatula di tangannya dengan gugup.

Arfan tidak langsung menjawab. Pria itu meraba ujung hidungnya yang terkena noda tepung putih, lalu melihat sisa adonan di jarinya. Alih-alih marah, dada Arfan tiba-tiba bergetar, dan dari bibirnya meluncur suara tawa kecil yang berat—tawa yang belum pernah didengar Shasmira selama mereka menikah.

"Berani sekali kamu mengerjai suamimu sendiri, Shasmira," ucap Arfan dengan nada rendah yang terdengar geli, bukan mengancam.

Shasmira menghembuskan napas lega, senyuman lebar langsung merekah di wajahnya. "Kamu terlihat lebih manusiawi dengan tepung di hidungmu, Fan. Selalu terlihat kaku dan serius membuatmu cepat tua."

"Cepat tua?" Arfan mengangkat sebelah alisnya, lalu mengambil sejumput kecil tepung dari mangkuk di dekatnya. "Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang akan terlihat lebih berantakan."

Sebelum Shasmira sempat menghindar, Arfan mengusapkan jarinya yang bertepung ke pipi Shasmira, menambah noda putih di wajah wanita itu.

"Arfan! Curang!" seru Shasmira tertawa lepas, mencoba membalas dengan mengambil segenggam tepung, namun Arfan dengan sigap menangkap pergelangan tangan istrinya.

Tawa Shasmira semakin menjadi-jadi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya di rumah besar itu, ia tertawa dengan begitu bebas, tanpa beban, tanpa rasa takut akan bayang-bayang masa lalu atau ancaman sangkar emas. Suara tawa itu menggema di sudut-sudut dapur, memecah kesunyian abadi yang selama ini merajai bangunan megah tersebut.

Arfan memegang pergelangan tangan istrinya dengan lembut, menatap wajah Shasmira yang dipenuhi noda tepung dengan sorot mata yang dipenuhi kehangatan asing. Tidak ada lagi jarak emosional yang membentang di antara mereka pada detik itu; yang ada hanyalah dua jiwa yang lelah, menemukan setitik kebahagiaan sederhana di tengah puing-puing kesepian.

"Tertawamu terdengar bagus, Shas," bisik Arfan tulus, suaranya terdengar begitu dekat di telinga Shasmira.

Shasmira menghentikan tawanya perlahan, menatap ke dalam mata suaminya yang memancarkan ketulusan yang selama ini ia cari-cari. "Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku tertawa seperti ini, Fan. Rasanya... sudah lama sekali."

"Mulai sekarang, kamu boleh sering-sering melakukannya," balas Arfan pelan, ibu jarinya mengusap lembut sisa tepung di pipi Shasmira dengan gerakan yang sangat hati-hati.

Lihat selengkapnya