Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Malam di Bawah Bintang

Udara pegunungan Malabar pada malam hari memiliki karakteristik yang unik; dingin yang menggigit, namun murni hingga ke paru-paru. Di teras balkon kayu vila utama, Arfan telah menyiapkan dua cangkir kopi tubruk yang masih mengepulkan uap tipis ke udara malam yang kelam. Langit di atas mereka tidak lagi tertutup mendung seperti minggu-minggu sebelumnya. Malam ini, taburan bintang tampak begitu jelas, berserakan seperti butiran berlian di atas kanvas beludru hitam yang tak bertepi.

Arfan menyandarkan punggungnya pada pagar kayu balkon yang dingin, matanya menatap kejauhan ke arah barisan pohon teh yang tampak seperti bayangan hitam di bawah cahaya bulan. Ia mengenakan jaket tebal, namun pikirannya terasa begitu ringan. Tidak ada lagi tumpukan laporan audit yang harus ia bedah, tidak ada lagi ancaman pemecatan dari direksi pusat yang menghantui tidurnya. Setidaknya, untuk malam ini, dunia terasa berhenti sejenak.

Pintu kaca geser terbuka perlahan, dan Shasmira melangkah keluar dengan balutan syal wol yang melingkar di lehernya. Ia membawa sebuah selimut tebal yang kemudian ia lingkarkan di bahunya. Saat ia mendekat, aroma samar melati dari sabun mandinya bercampur dengan aroma kopi dan udara malam, menciptakan sensasi yang sulit didefinisikan bagi Arfan.

"Langitnya luar biasa malam ini," bisik Shasmira, suaranya halus, nyaris tenggelam oleh desau angin yang melewati pucuk-pucuk pohon di kejauhan.

"Ya," jawab Arfan singkat, lalu ia menggeser posisi kursinya agar Shasmira bisa duduk di sampingnya. "Saya jarang sekali memperhatikan bintang. Selama bertahun-tahun, saya lebih sering menghabiskan malam di depan monitor atau memeriksa buku besar operasional. Saya lupa bahwa ada hal-hal besar di atas sana yang tidak bisa dikalkulasikan dengan angka."

Shasmira duduk di kursi yang sudah disiapkan, lalu menyesap kopinya dengan perlahan. "Kamu tahu, Arfan, bagi sebagian orang, bintang-bintang ini hanyalah objek fisik di ruang hampa. Tapi bagi saya, mereka selalu mengingatkan bahwa setiap masalah yang kita alami di bumi ini hanyalah debu kecil di tengah alam semesta yang luas. Itu membuat segalanya terasa lebih bisa dikelola."

Arfan tertawa kecil, suara yang terdengar lebih rileks dibandingkan malam-malam sebelumnya. "Logika itu cukup menenangkan, sebenarnya. Tapi saya rasa, keberadaanmu di sini malam ini jauh lebih menenangkan daripada teori astronomi apa pun yang pernah saya baca."

Shasmira menoleh, menatap Arfan di bawah sinar rembulan yang lembut. Wajah pria itu kini tampak lebih teduh, gurat-gurat kekakuan yang selama ini menempel di keningnya telah memudar. "Apakah kamu sudah merasa nyaman dengan tempat ini? Dengan situasi kita yang... tidak menentu?"

Arfan terdiam sejenak. Ia memandang cangkir kopinya, lalu menatap Shasmira kembali dengan kesungguhan yang telanjang. "Jujur saja, Shasmira, saya tidak pernah merasa senyaman ini sebelumnya. Padahal secara teknis, kita berada di bawah pengawasan ketat, posisi saya terancam, dan proyek ini bisa ditutup kapan saja. Tapi entah kenapa, saat saya duduk di sini bersamamu, ketakutan itu rasanya tidak nyata."

"Mungkin itu karena kita tidak lagi berjuang sendirian," sahut Shasmira lembut. Ia menggeser duduknya, menyamankan posisi. "Kita sudah melewati banyak hal. Mulai dari ketidakcocokan awal kita, badai di perbukitan, sampai ancaman audit dari ayahku. Kita sudah sampai di titik di mana kita tidak perlu lagi memakai topeng profesionalisme."

"Kamu benar," jawab Arfan, menatap bintang-bintang yang berkedip di atas mereka. "Topeng itu berat sekali, Shasmira. Ternyata, menjadi manusia yang jujur dengan perasaannya sendiri jauh lebih melelahkan di awal, namun jauh lebih membebaskan di akhir."

Mereka berdua terdiam, membiarkan kesunyian malam mengambil alih pembicaraan. Tidak ada lagi kebutuhan untuk mengisi kekosongan dengan kata-kata. Kenyamanan yang hadir di antara mereka bukanlah sebuah ledakan emosi yang intens, melainkan sebuah aliran tenang yang menyejukkan, layaknya air yang mengalir di sungai pegunungan yang jernih.

❖ ❖ ❖

Keheningan itu perlahan mulai diisi oleh suara-suara malam. Jangkrik bersahutan di balik semak-semak, dan dari kejauhan, sesekali terdengar suara burung hantu yang menjaga hutan. Arfan mengambil napas dalam, merasakan kesejukan itu meresap ke dalam jiwanya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa ia akan bisa mencapai titik ini—titik di mana ia bisa duduk di balkon sebuah vila tua dengan seseorang yang dulunya ia benci, dan merasa bahwa dunia adalah tempat yang baik.

"Shasmira," panggil Arfan setelah sekian lama, "kalau seandainya satu bulan ini berakhir dan ternyata pusat tetap memutuskan untuk menghentikan semuanya... apa yang akan kamu lakukan?"

Shasmira menatap ke depan, ke arah lembah yang gelap. "Aku tidak tahu pasti. Mungkin aku akan kembali ke Jakarta, kembali ke rutinitas lamaku. Tapi aku tahu satu hal, aku tidak akan pernah bisa melihat perkebunan teh dengan cara yang sama lagi. Kamu telah menunjukkan padaku bahwa ada denyut kehidupan di sini yang jauh lebih berarti daripada sekadar target penjualan."

"Dan saya," Arfan menyambung, "mungkin akan mencari pekerjaan baru. Tapi saya tidak akan bisa melupakan bagaimana rasanya memiliki seseorang yang menantang pikiran saya, seseorang yang membuat saya sadar bahwa saya punya hati."

"Kamu bicara seolah-olah semuanya sudah berakhir," protes Shasmira dengan nada bercanda, meskipun ada kilatan sedih di matanya. "Kita masih punya waktu satu bulan, Arfan. Kita masih punya kesempatan untuk membuktikan bahwa angka-angka kita benar. Jangan menyerah sebelum kita mencoba."

Arfan tersenyum, kali ini dengan sedikit kegetiran. "Saya tidak menyerah, Shasmira. Saya hanya sedang mencoba realistis. Hidup tidak selalu berakhir dengan kesimpulan yang bahagia seperti di dalam buku novel. Terkadang, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menikmati momen di mana kita masih bisa bersama."

"Realistis adalah kata yang dulu sering kamu gunakan untuk membatasi dirimu sendiri," sindir Shasmira dengan nada halus namun tajam. "Sekarang, kamu menggunakannya untuk menutupi ketakutanmu akan kehilangan sesuatu yang berharga. Tidakkah itu ironis?"

Arfan menatap Shasmira dengan pandangan yang dalam. Kata-kata wanita itu menghantamnya dengan telak, sebuah kebenaran yang tidak bisa ia bantah. "Mungkin. Mungkin aku memang takut. Takut kehilangan sesuatu yang baru saja membuat hidup saya terasa nyata."

"Jangan takut, Arfan," bisik Shasmira sambil mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Arfan yang terletak di atas meja kecil di balkon. "Malam ini saja, biarkan bintang-bintang ini yang melihat kita. Lupakan direksi, lupakan audit, lupakan masa depan yang belum terjadi. Hanya malam ini, di sini, kita cukup menjadi manusia."

Sentuhan itu terasa seperti listrik yang mengalir di bawah kulit Arfan. Ia tidak menarik tangannya; ia justru membalikkan telapak tangannya untuk menggenggam tangan Shasmira. Genggaman mereka tidak terlalu erat, namun terasa begitu kokoh. Di bawah sinar bulan, tangan mereka tampak pucat, bersatu di tengah dinginnya malam. Kenyamanan yang mereka rasakan bukanlah tentang kepastian masa depan, melainkan tentang penerimaan penuh atas ketidakpastian yang kini mereka hadapi bersama.

❖ ❖ ❖

"Apakah menurutmu," Shasmira memulai lagi, suaranya kini sedikit lebih berat, "bahwa kenyamanan yang kita rasakan ini adalah bentuk pelarian?"

Arfan memperhatikan jemari mereka yang bertautan. "Maksudmu pelarian dari kenyataan?"

"Ya. Mungkin kita merasa nyaman hanya karena kita sedang berada di lingkungan yang terisolasi. Mungkin perasaan ini akan menguap saat kita kembali ke dunia nyata, saat tuntutan pekerjaan dan tekanan sosial kembali menghantam kita," jawab Shasmira dengan keraguan yang tampak jelas di raut wajahnya.

Lihat selengkapnya