Pagi di rumah susun sederhana itu biasanya dimulai dengan aroma teh hijau hangat dan suara langkah kaki yang tenang di atas lantai keramik. Namun, ketenangan yang telah dibangun selama berminggu-minggu itu tiba-tiba terusik oleh ketukan pintu yang terdengar keras dan bertubi-tubi dari luar. Maya, yang sedang menyiram tanaman hias di ambang jendela kecil dapur, menghentikan gerakannya. Ia melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul delapan pagi. Aris, yang tengah merapikan dasinya di depan cermin kecil ruang tengah, mengernyitkan dahi kebingungan.
"Siapa yang datang sepagi ini?" tanya Aris setengah berbisik, melangkah mendekati pintu utama dengan langkah waspada.
"Entahlah. Tidak biasanya ada tamu bertamu tanpa memberi kabar terlebih dahulu," jawab Maya, meletakkan botol penyiram air di atas meja dapur.
Aris membuka pintu lebar-lebar. Udara koridor yang lembap langsung berhembus masuk, memperlihatkan sesosok pria tinggi berjas rapi dengan tas kerja kulit di tangan kanannya. Senyum lebar tersungging di wajah tamu tak diundang itu, namun senyuman tersebut langsung membeku saat melihat Aris berdiri di hadapannya.
"Aris? Astaga, benar ini kau?" suara bariton pria itu memecah keheningan koridor.
Wajah Aris berubah pucat dalam hitungan detik. Buku-buku jarinya mencengkeram daun pintu lebih erat. "Dimas... apa yang kau lakukan di sini?"
Maya yang penasaran melangkah mendekat dari balik punggung suaminya. Matanya menatap tajam ke arah pria bernama Dimas itu, merasakan gelombang ketidaknyamanan yang tiba-tiba merayap di dadanya. Dimas adalah salah satu rekan kerja masa lalu Aris di perusahaan lama—nama yang tidak pernah disebut lagi sejak Aris memilih keluar dan memulai lembaran baru di rumah susun ini.
"Aku kebetulan sedang ada urusan di sekitar sini, dan kudengar dari beberapa teman lama kalau kau tinggal di kawasan ini," kata Dimas, matanya melirik sekilas melewati pundak Aris ke dalam ruangan. "Wah, rumah yang mungil. Tidak menyangka kau memilih hidup sesederhana ini sekarang, Aris."
"Ada perlu apa kau mencariku, Dimas?" tanya Aris dingin, tanpa ada niat sedikit pun untuk mempersilakan tamu itu masuk ke dalam rumah.
"Santai saja, kawan. Aku tidak bermaksud buruk," jawab Dimas sambil tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepada Maya yang berdiri di samping Aris. "Dan ini pasti... Maya, kan? Istrimu yang sering dibicarakan dulu."
Maya mengangguk kaku, berusaha mempertahankan ekspresi datarnya. "Ya, benar. Ada yang bisa kami bantu?"
Dimas merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat yang langsung diletakkan di atas meja kecil dekat pintu. "Aku hanya ingin menyampaikan titipan dari beberapa orang di kantor lama. Ada beberapa dokumen penting masa lalu yang menyangkut proyek terakhir kita dulu, dan kurasa Aris harus segera menyelesaikannya sebelum masalah itu melebar."
Suasana di ambang pintu mendadak menegang. Udara di sekitar mereka seolah membeku, membawa kembali bayang-bayang masa lalu yang selama ini telah dikubur rapat-rapat oleh Aris.
❖ ❖ ❖
Setelah Dimas berpamitan pergi dengan alasan ada urusan lain, pintu rumah susun ditutup rapat kembali oleh Aris. Suara kunci berputar terdengar begitu berat di telinga. Di atas meja dekat pintu, amplop cokelat tebal itu tergeletak bisu, memancarkan aura ancaman yang tak kasat mata.
Maya berjalan perlahan mendekati meja tersebut, menatap amplop cokelat itu dengan sorot mata penuh tanya dan sedikit keraguan yang mulai merayap di benaknya. "Dokumen apa itu, Aris? Kenapa rekan masa lalumu tiba-tiba datang mencarimu dan membawa berkas seperti itu?"
Aris mengusap wajahnya dengan kedua tangan, helaan napas lelah terdengar jelas dari mulutnya. "Itu hanya masalah administrasi lama, Maya. Tidak ada apa-apa."
"Administrasi lama?" Maya menoleh, menatap suaminya dengan tatapan tajam dan tidak percaya. "Kalau itu hanya masalah sepele, wajahmu tidak akan pucat pasi seperti tadi saat melihat Dimas berdiri di depan pintu kita."
"Maya, kumohon, jangan mulai curiga," jawab Aris dengan nada suara yang mulai meninggi, mencerminkan kepanikan yang berusaha ia sembunyikan. "Aku tidak ingin masa lalu mengganggu kehidupan kita yang sekarang."