Cahaya lampu meja kerja yang temaram memantulkan bayangan Arfan yang tengah terpaku menatap layar laptop, jemarinya berhenti mengetik di atas papan tik. Di seberang meja, berkas-berkas laporan keuangan berhamburan tak beraturan, mencerminkan kekacauan pikiran yang sedang melanda batinnya sejak sore tadi. Suasana malam di ruang kerja apartemen itu terasa begitu pengap, meski penyejuk udara mendengung pelan di sudut ruangan. Pikirannya tidak lagi tertuju pada angka-angka atau target perusahaan yang harus diselesaikan, melainkan pada pemandangan sore tadi di lobi kantor—ketika Shasmira, istrinya, tersenyum lepas sambil menerima setangkai mawar merah dari seorang pria asing yang merupakan klien baru dari divisi pemasaran.
Arfan menarik napas panjang, berusaha meredupkan gemuruh di dadanya yang terasa menyesakkan. Sebagai seorang pria yang terbiasa bersikap rasional dan tenang dalam menghadapi krisis bisnis, ia merasa asing dengan gejolak emosi yang kini menguasainya. Rasa cemburu itu datang diam-diam, merayap pelan tanpa diundang, menggerogoti pertahanan logikanya hingga ke akar-akarnya. Ia tahu betul bahwa Shasmira adalah wanita mandiri yang ramah dan supel terhadap siapa saja, namun melihat gelak tawa istrinya saat bersama pria lain sore tadi membuat Arfan merasa tersisih dari dunianya sendiri.
Pintu ruang kerja berderit pelan, terbuka sedikit. Shasmira melangkah masuk membawa secangkir teh chamomile hangat yang mengepulkan uap tipis. Wanita itu mengenakan blus kerja berwarna soft blue dengan rambut tergerai rapi, tampak begitu anggun dan memesona di mata Arfan, bahkan setelah hari yang melelahkan.
"Belum tidur, Fan? Ini sudah jam sebelas malam," suara Shasmira terdengar lembut, memecah keheningan ruangan dengan nada penuh perhatian. Ia meletakkan cangkir keramik itu di atas meja kerja, tepat di sebelah tumpukan berkas.
Arfan mendongak, menatap wajah istrinya lekat-lekat selama beberapa detik sebelum akhirnya memalingkan pandangan ke arah cangkir teh tersebut. "Aku masih ada beberapa dokumen penting yang harus dirampungkan malam ini. Kamu duluan saja ke kamar, Shas. Nanti aku menyusul."
Shasmira mengerutkan keningnya, menyadari ada perubahan nada bicara yang kaku dari suaminya. Ia tidak langsung beranjak, melainkan menarik kursi kayu di dekat meja dan duduk menghadap Aris—eh, Arfan. "Ada yang mengganggu pikiranmu? Dari tadi sore kulihat kamu lebih pendiam dari biasanya. Apa pekerjaan di kantor bikin kamu stres berat?"
"Pekerjaanku baik-baik saja, tidak ada masalah," jawab Aris—Arfan singkat, nada suaranya datar dan dingin, berusaha menyembunyikan badai emosi di balik ekspresi tenaganya.
"Bohong," tukas Shasmira langsung, tersenyum tipis namun penuh selidik. Ia melipat kedua tangannya di atas meja. "Kalau cuma karena pekerjaan, wajahmu nggak bakal sekaku itu. Katakan padaku, ada apa sebenarnya, Arfan?"
Arfan menghela napas kasar, merasa terpojok oleh kepekaan istrinya. Ia menatap Shasmira dengan sorot mata yang menyiratkan kecemburuan mendalam yang selama ini ia pendam rapat-rapat. "Tadi sore... di lobi kantor, aku lihat kamu ngobrol akrab banget sama Dimas. Kelihatan senang sekali sampai ketawa lepas begitu. Apa pembicaraan kalian semenarik itu sampai suamimu yang duduk di dalam mobil tidak dihiraukan?"
Shasmira tertegun sejenak mendengar ucapan itu. Alisnya terangkat tinggi, sebelum akhirnya senyuman kecil tersungging di bibirnya. "Tunggu... apa kamu sedang cemburu pada Dimas, Arfan?"
"Cemburu? Siapa yang cemburu?" sanggah Arfan cepat, meski nada suaranya justru menunjukkan sebaliknya. Ia mengalihkan pandangan kembali ke layar laptop. "Aku hanya berpikir sebagai sesama rekan kerja, seharusnya kamu bisa menjaga profesionalisme di lingkungan kantor, bukan malah terlihat terlalu akrab dengan klien baru."
"Profesionalisme?" Shasmira mendengus pelan, nada suaranya sedikit meninggi namun tetap terkontrol. "Dimas cuma mengucapkan selamat atas suksesnya proyek galeri seni kita kemarin, dan dia kebetulan membawakan setangkai mawar sebagai ucapan apresiasi klien. Apakah bersikap ramah kepada orang lain sekarang sudah jadi kejahatan di matamu, Arfan?"
"Bukannya kejahatan, Shas! Tapi cara dia memandangmu... cara kalian tertawa bersama tadi sore... itu melebihi batas profesionalisme!" bentak Aris—Arfan tertahan, emosi yang sejak sore tertahan akhirnya meledak juga. Ia berdiri dari kursinya, menatap tajam sang istri. "Aku suamimu, Shas! Tapi rasanya kemarin sore kamu lebih menikmati waktu ngobrol sama pria lain daripada pulang bersamaku!"
Ruangan kerja itu mendadak sunyi mencekam. Shasmira terdiam, menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca namun memancarkan ketegasan. Kecemburuan yang selama ini diam-diam menggerogoti Arfan akhirnya terungkap sudah dalam bentuk kemarahan yang rapuh.
❖ ❖ ❖
Titik Jepit 1 mulai mencengkeram suasana malam itu ketika keheningan panjang menggantikan pertengkaran kecil mereka. Shasmira berdiri dari kursinya, melangkah mendekati meja kerja Arfan, lalu menatap suaminya lekat-lekat tanpa rasa gentar.
"Selama ini aku selalu berusaha ada buat kamu, Arfan," ucap Shasmira dengan suara parau yang bergetar menahan tangis. "Aku meredam mimpiku sendiri, aku mengalah pada kesibukan kantormu, dan aku selalu menempatkan dirimu sebagai prioritas utama dalam hidupku. Tapi begitu aku tertawa sebentar dengan orang lain karena sekadar basa-basi, kamu langsung merasa terancam dan menuduhku macam-macam?"
Arfan tertegun mendengarnya. Ia melihat air mata tipis mulai menggenang di pelupuk mata istrinya, dan saat itulah gelombang penyesalan mendadak menghantam dadanya dengan telak. Sifat egois dan rasa tidak amannya sendiri lah yang sebenarnya menciptakan jarak di antara mereka.