Malam merayap perlahan di atas kota metropolitan yang masih menyisakan sela-sela kemacetan di jalanan raya utama. Di dalam ruang keluarga lantai dua kediaman Wiratama yang luas dan temaram, lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut ke atas permukaan lantai marmer putih. Suasana di dalam ruangan tersebut terasa jauh lebih senyap dari biasanya, terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar yang bising. Namun, di balik keheningan itu, tersimpan sebuah ketegangan tak kasat mata yang menggantung di udara—sebuah beban emosional yang selama berbulan-bulan tertahan di balik senyuman dan kesibukan harian mereka.
Arfan Baskoro duduk di atas sofa panjang berlapis velvet abu-abu gelap. Kemeja kerja putihnya sudah dilepas, menyisakan kaus hitam polos yang melekat pas di tubuh atletisnya, sementara lengannya terlipat di dada dengan pandangan lurus menatap ke arah luar jendela kaca besar yang memperlihatkan kerlip lampu kota di kejauhan. Di sisi seberang meja kopi marmer, Shasmira duduk memeluk bantal sofa kecil. Gadis itu mengenakan piyama tidur berwarna biru muda, rambut panjangnya dibiarkan tergerai natural, namun sorot matanya tampak menyembunyikan gelisah yang sulit disembunyikan.
Hari-hari belakangan ini, setelah badai pengambilalihan perusahaan dan konflik internal keluarga berhasil diredam, ritme hidup mereka kembali normal di atas kertas. Namun, di balik lembar-lembar kesibukan korporasi dan pameran seni yang sukses, ada riak-riak kecil yang mulai mengusik ketenangan batin keduanya.
"Kau melamun lagi, Arfan," suara Shasmira memecah keheningan malam itu, bernada lembut namun menyiratkan ketegasan yang menuntut kejujuran.
Arfan menoleh perlahan. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab, "Aku tidak melamun. Aku hanya sedang memikirkan jadwal rapat koordinasi dengan delegasi investor luar negeri besok pagi."
Shasmira mendengus pelan, sebuah senyuman getir terukir di bibirnya. "Selalu tentang pekerjaan, rapat koordinasi, atau urusan kantor. Apakah hanya itu yang ada di dalam pikiranmu ketika kau sedang duduk diam di rumah ini?"
Mendengar nada bicara istrinya yang sedikit berbeda dari biasanya, Arfan mengerutkan kening. Ia menurunkan tangannya yang terlipat, menegakkan posisi duduknya, lalu menatap lurus ke arah Shasmira. "Apa maksudmu? Bukankah kita sudah membahas ini? Aku melakukan semua itu demi mengamankan masa depan perusahaan dan posisi kita."
"Mengamankan perusahaan atau menghindari percakapan kita yang sebenarnya?" potong Shasmira cepat, suaranya sedikit bergetar namun tajam menusuk relung hati suaminya. "Arfan, kita sudah menikah berbulan-bulan. Kita telah melewati ancaman pembunuhan, pengkhianatan pamanmu, hingga serangan investor asing. Tapi kenapa rasanya... belakangan ini aku merasa kau semakin jauh?"
Arfan tertegun. Matanya menatap Shasmira dengan sorot ketidakpahaman yang bercampur rasa bersalah. "Jauh? Shasmira, aku pulang tepat waktu setiap malam, aku tidur di kamar yang sama denganmu, dan aku tidak pernah sedetik pun mengalihkan perhatianku dari keselamatanmu."
"Kehadiran fisik tidak sama dengan kehadiran emosional, Arfan!" seru Shasmira, akhirnya melepaskan bantal yang dipeluknya dan meletakkannya di atas sofa. Matanya mulai berkaca-kaca, memendam rasa tidak aman yang selama ini ia pendam sendirian. "Kau pikir aku tidak melihat bagaimana sekretaris barumu—Clara—memandangmu saat rapat direksi kemarin? Kau pikir aku buta ketika wanita-wanita dari kalangan elit sosialita itu terus mendekatimu di acara amal minggu lalu dengan dalih kerja sama bisnis?"
Arfan terdiam kaku. Napasnya terasa tertahan di tenggorokan. Ia tidak menyangka bahwa di balik sikap tenang istrinya selama ini, Shasmira menyimpan gejolak rasa cemburu dan rasa tidak aman (insecure) yang begitu mendalam terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.
"Shasmira, kau salah paham..." sangkal Arfan lirih, mencoba mendekatkan tubuhnya.
"Aku tidak salah paham!" potong Shasmira, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipinya. "Aku melihatnya sendiri, Arfan! Aku merasa... aku merasa tidak pantas berdiri di samping seorang CEO Grup Wiratama yang begitu dipuja banyak wanita. Aku hanya seorang pelukis galeri kecil, sementara dunia yang kau hadapi adalah dunia penuh intrik kelas atas. Aku takut... aku takut suatu hari nanti kau sadar bahwa aku tidak cukup baik untukmu."
❖ ❖ ❖
Pengakuan jujur itu meluncur begitu saja, menghantam pertahanan diri Arfan seketika. Selama ini, pria itu mengira bahwa Shasmira adalah wanita bermental baja yang kebal terhadap tekanan dunia korporasi tempatnya hidup. Ia tidak pernah membayangkan bahwa di balik ketegaran istrinya saat menghadapi musuh-musuh keluarga, Shasmira justru merasa begitu rapuh dan kecil di hadapan standar sosial yang mengelilingi kehidupan Arfan sebagai seorang miliarder muda.
Arfan beranjak dari sofa tempat duduknya, melangkah cepat menghampiri Shasmira, lalu berlutut di lantai tepat di hadapan istrinya. Ia meraih kedua tangan Shasmira yang terasa dingin, menggenggamnya erat-erat dengan penuh kelembutan.
"Dengar aku, Shasmira," ucap Arfan tegas, suaranya parau namun sarat akan ketulusan mutlak yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun di luar sana. Ia menatap lurus ke dalam mata basah istrinya. "Jangan pernah... sekali pun berpikir bahwa kau tidak cukup baik untukku."
Shasmira menunduk, menggigit bibir bawahnya untuk menahan Isak tangis yang kian menjadi. "Tapi kenyataannya dunia kita berbeda, Arfan. Clara dan wanita-wanita sosialita itu memiliki segalanya—latar belakang keluarga terpandang, pendidikan bisnis internasional, dan penampilan yang sempurna untuk mendampingimu di hadapan publik. Sedangkan aku? Aku hanya gadis biasa yang terjebak dalam surat wasiat kakekmu."
"Kau bukan gadis biasa, Shasmira!" potong Arfan cepat, suaranya meninggi namun penuh penekanan emosional yang dalam. "Kau adalah satu-satunya alasan mengapa rumah ini terasa seperti rumah bagiku! Tanpa dirimu, seluruh kekayaan, jabatan CEO, dan aset Grup Wiratama tidak ada artinya sama sekali!"
Shasmira mengangkat wajahnya, menatap sepasang mata hitam suaminya yang memancarkan kejujuran yang telanjang. Tidak ada kepura-puraan di sana; yang ada hanyalah ketulusan seorang pria yang selama ini kesulitan merangkai kata-kata manis namun kini mempertaruhkan seluruh egonya demi meyakinkan sang istri.
"Lalu bagaimana dengan rasa cemburuku ini, Arfan?" bisik Shasmira lirih, air matanya masih mengalir pelan. "Setiap kali melihat wanita lain mencoba mendekatimu di kantor atau di acara formal, dadaku terasa sesak. Aku benci merasa seperti ini. Aku benci merasa lemah dan tidak berdaya hanya karena aku takut kehilanganmu."
Arfan mengulurkan tangan kanannya, mengusap air mata di pipi Shasmira dengan ibu jarinya secara perlahan. "Rasa cemburu itu wajar, Shasmira. Itu buktinya kau peduli. Itu buktinya kau mencintaiku sebesar aku mencintaimu."
"Mencintaimu...?" Shasmira tertegun sejenak mendengarkan kata-kata itu keluar langsung dari mulut suaminya. Meskipun mereka sudah hidup bersama dan saling melindungi, Arfan jarang sekali mengucapkan kata-kata cinta secara terang-terangan karena sifatnya yang tertutup.
"Ya, Shasmira," ulang Arfan lembut, menatap lekat mata istrinya. "Aku mencintaimu. Sejak pertama kali kau menolak tunduk padaku di ruang kerja ini saat malam pembacaan surat wasiat, hatiku sudah terpikat padamu. Hanya saja, aku terlalu bodoh dan arogan untuk menyadarinya lebih cepat."
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam ruang keluarga itu mendadak melunak, larut dalam kehangatan pengakuan yang telah lama tertahan di antara dinding-dinding keraguan. Shasmira menarik napas panjang, meresapi setiap kata yang diucapkan suaminya. Beban berat yang selama ini menghimpit dadanya seolah terangkat perlahan-lahan, digantikan oleh kelegaan yang luar biasa.