Matahari pagi menyusup lembut melalui celah jendela kamar utama, memantulkan pendar emas ke atas lantai marmer putih yang bersih. Shasmira duduk di tepi ranjang dengan jemari gemetar menggenggam erat ponsel pintarnya yang menyala terang. Layar kecil itu menampilkan deretan pesan teks serta panggilan tak terjawab dari nomor ibunya di kampung halaman. Udara di dalam kamar yang biasanya terasa hampa mendadak berubah menjadi sesak, seolah oksigen di sekitarnya tersedot habis oleh kabar buruk yang baru saja ia terima lewat pesan singkat tersebut.
Pintu kamar terbuka perlahan, dan Arfan melangkah masuk dengan setelan kemeja kerja rapi yang lengannya digulung sebatas siku. Pria itu baru saja selesai merapikan diri untuk bersiap berangkat ke kantor, namun langkahnya langsung terhenti begitu melihat bahu istrinya yang bergetar hebat di atas tempat tidur.
"Shas, ada apa?" tanya Arfan dengan suara berat yang dipenuhi nada kekhawatiran, langsung mempercepat langkahnya mendekati ranjang.
Shasmira mendongakkan wajahnya yang pucat pasi, air mata sudah tumpah membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan lagi. Ia menatap suaminya dengan pandangan nanar penuh kepedihan. "Ibu... di kampung, Fan. Rumah keluarga kami... disita oleh pihak bank karena hutang mendiang ayah yang belum lunas. Ibu dan adikku diusir keluar sore ini..."
Mendengar berita itu, sorot mata Arfan yang biasanya dingin seketika berubah tajam. Pria itu langsung duduk di sebelah Shasmira, merangkul bahu istrinya yang terasa kaku dan dingin. "Tenangkan dirimu, Shas. Tarik napas dalam-dalam. Jangan panik."
"Bagaimana aku bisa tenang, Arfan?!" seru Shasmira dengan suara parau bercampur isak tangis yang tertahan. "Ibu dan adikku tidak punya tempat tinggal lain! Mereka terlantar di luar sana dalam usia tua dan tanpa persiapan apa pun! Aku merasa begitu tidak berguna sebagai seorang anak!"
Arfan meraih tangan Shasmira yang menggenggam ponsel, lalu menggenggamnya erat-erat di dalam telapak tangannya yang hangat. Sentuhan itu memberikan kekuatan tersendiri yang mampu meredam sedikit kepanikan di dada wanita tersebut.
"Kamu tidak sendirian lagi, Shas," ucap Arfan tegas, menatap lurus ke dalam mata istrinya dengan penuh keyakinan. "Ingat posisimu sekarang. Kamu adalah istriku. Masalah keluargamu adalah masalahku juga. Kita akan selesaikan ini bersama-sama."
Shasmira tertegun sejenak, menatap wajah suaminya dengan rasa tidak percaya bercampur haru yang membuncah. Selama ini ia mengira pernikahannya hanyalah sebuah sangkar emas yang memenjarakannya dari dunia luar, namun di saat keluarganya mengalami titik nadir terendah, pria di hadapannya justru berdiri paling depan sebagai perisai pelindung.
"Apa yang harus kita lakukan, Fan?" tanya Shasmira lirih, suaranya masih bergetar hebat. "Rumah itu... rumah masa kecilku satu-satunya kenangan yang tersisa dari ayah."
Arfan berdiri dari ranjang, lalu merapikan letak jam tangannya dengan gerakan tenang namun penuh otoritas. "Jangan khawatirkan masalah finansialnya. Aku akan mengurus pelunasan seluruh hutang itu hari ini juga. Dan mengenai tempat tinggal ibumu, kita akan siapkan rumah yang layak di kota ini agar mereka bisa hidup dengan tenang."
"Benar... sungguh kamu mau melakukan itu untuk keluargaku?" tanya Shasmira tidak percaya, air matanya kembali meleleh namun kali ini karena secercah harapan yang begitu besar.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Shas," jawab Arfan mantap, lalu melangkah mengambil jas kerjanya yang tersampir di kursi. "Bersiaplah. Kita akan berangkat ke kampung halamanmu sekarang juga. Batalkan semua urusanku di kantor hari ini; tidak ada yang lebih penting daripada keluargamu saat ini."
❖ ❖ ❖
Perjalanan darat selama beberapa jam menuju kota kecil tempat asal Shasmira ditempuh dalam keheningan yang sarat akan ketegangan. Di dalam kabin mobil sedan hitam yang melaju kencang di jalan tol antarkota, Shasmira duduk di kursi penumpang depan, menatap pemandangan luar yang berlalu begitu cepat. Jemarinya saling meremas di atas pangkuan, menunjukkan betapa besar kecemasan yang masih menggelayut di dalam benaknya.
Arfan melirik sekilas ke arah istrinya, lalu meletakkan sebelah tangannya di atas tangan Shasmira yang gemetar, memberikan kehangatan yang menenangkan.
"Kita sudah hampir sampai, Shas. Tarik napas, serahkan semuanya padaku," ucap Arfan lembut, memecah kesunyian di dalam mobil.
"Aku takut, Fan," aku Shasmira jujur, menoleh menatap suaminya dengan mata sembab. "Bagaimana kalau pihak bank atau rentenir itu menolak pelunasan karena sudah terlanjur dieksekusi? Bagaimana kondisi ibuku sekarang?"
"Tidak ada kata terlambat selama aku ada di sini," jawab Arfan dengan nada penuh kepastian yang tidak terbantahkan. "Semua dokumen dan administrasi hukum akan beres begitu kita menginjakkan kaki di sana."
Begitu mobil memasuki kawasan perumahan sederhana di pinggir kota kecil tersebut, pemandangan yang menyedihkan langsung menyambut mata mereka. Di depan sebuah rumah bercat hijau pudar yang tampak kusam, beberapa kardus besar dan perabotan rumah tangga tertumpuk di pinggir jalan raya. Seorang wanita paruh baya berkerudung abu-abu—ibu Shasmira—duduk tertunduk di atas kursi plastik ditemani adiknya yang tampak kebingungan dan ketakutan.
Shasmira langsung membuka pintu mobil begitu kendaraan berhenti sempurna, lalu berlari menghampiri keluarganya dengan air mata yang kembali tumpah.
"Ibu!" panggil Shasmira histeris, langsung memeluk tubuh wanita paruh baya itu erat-erat.
Ibu Shasmira terperanjat kaget, lalu membalas pelukan putrinya dengan isak tangis yang pecah. "Shas... ya Allah, anakku... rumah kita sudah disita, Nak. Kami diusir begitu saja..."
Di belakang Shasmira, Arfan melangkah keluar dari mobil dengan wibawa yang begitu dominan. Pria itu mengenakan setelan jas formal lengkap dengan kacamata hitam, memancarkan aura seorang pengusaha sukses kelas kakap yang langsung menarik perhatian para tetangga yang mengerumuni tempat kejadian.
Beberapa orang petugas bank dan aparat kelurahan yang berdiri di dekat tumpukan barang langsung menoleh ke arah Arfan dengan ekspresi kikuk dan canggung.
"Siapa yang bertanggung jawab atas penindakan rumah ini?" suara Arfan menggema tegas, memecah kerumunan warga tanpa sedikit pun rasa gentar.