Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #35

Menghitung Hari Kebahagiaan

Waktu merayap dengan kecepatan yang sama sekali berbeda dibandingkan minggu-minggu pertama kedatangan mereka di villa tua lereng bukit itu. Dulu, setiap detik terasa seperti jarum jam yang menancap lambat di kulit, menyiksa batin dengan keheningan yang menyesakkan dada. Namun kini, hari-hari berlalu bagaikan hembusan angin pagi yang berarak cepat. Cahaya matahari menembus celah jendela kamar utama dengan hangat, menyinari lantai kayu jati yang kini tampak bersih dan terawat.

Arfan duduk di tepi tempat tidur sambil merapikan jam tangan kulit kesayangannya, sementara Shasmira berdiri di depan meja rias, merapikan ikatan rambutnya dengan senyuman kecil tersungging di bibirnya. Suasana pagi itu dipenuhi oleh ketenangan batin yang sudah lama tidak mereka rasakan. Tidak ada lagi kecurigaan, tidak ada lagi bayangan masa lalu yang menghantui, dan yang paling penting, tidak ada lagi rasa waktu yang berhenti karena tersiksa oleh penyesalan.

"Kamu sadar nggak, Fan? Rasanya baru kemarin kita debat soal remeh-temeh di dapur, tahu-tahu sekarang kita sudah hampir sebulan tinggal di sini," kata Shasmira sambil membalikkan badan, menatap suaminya lewat pantulan cermin meja rias dengan binar mata yang jernih.

Arfan mendongak, tersenyum hangat menyambut pandangan istrinya. Ia bangkit berdiri dan melangkah mendekat, lalu merangkul pinggang Shasmira dari belakang dengan penuh kelembutan. "Iya, benar sekali, Shas. Waktu memang terasa cepat berlalu kalau kita menjalaninya dengan hati yang ikhlas dan damai. Dulu aku pengen banget cepat-cepat kabur balik ke kota, tapi sekarang... jujur saja, aku malah merasa betah."

"Aku juga," bisik Shasmira lembut, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang ayah—eh, suaminya. "Tempat ini yang tadinya kita anggap sebagai kuburan hidup atau tempat pelarian mengerikan, sekarang justru jadi saksi bisu bagaimana kita menemukan kembali arti pernikahan kita yang sempat hilang."

"Karena kita menjalaninya bersama-sama, tanpa topeng dan tanpa rahasia lagi," tambah Arfan tulus, mengecup puncak kepala istrinya penuh kasih sayang. Perubahan drastis persepsi waktu ini menjadi bukti nyata bahwa luka batin mereka telah benar-benar sembuh. Hari demi hari kini dihitung bukan lagi sebagai beban penderitaan, melainkan sebagai hitungan hari kebahagiaan menuju lembaran baru hidup mereka.

Mereka berjalan berdampingan keluar kamar menuju dapur mungil untuk menyiapkan sarapan pagi. Tidak ada kecanggungan, tidak ada ketergesaan. Setiap gerakan terasa begitu sinkron dan alami, mencerminkan keharmonisan rumah tangga yang telah teruji oleh badai terberat sekalipun.

❖ ❖ ❖

Namun, di balik kebahagiaan dan cepatnya waktu berlalu, Titik Jepit 1 datang menguji kesiapan mental mereka saat siang menjelang. Arfan dan Shasmira memutuskan untuk merapikan gudang belakang yang sempat tertunda sejak minggu lalu. Saat membuka kotak kardus tua di sudut ruangan, Shasmira menemukan sebuah kalender dinding usang dari tahun-tahun sebelumnya yang penuh dengan coretan tangan sang kakek.

"Fan, lihat ini," panggil Shasmira dengan suara agak tertahan, menunjukkan lembaran kalender yang penuh dengan tanda silang merah pekat di setiap tanggalnya.

Arfan mendekat, mengernyitkan dahi memperhatikan coretan tersebut. "Kenapa kalender ini dicoret-coret penuh begini?"

"Kalau dihitung dari catatan tanggal ini, kakekmu dulu ternyata menghitung mundur hari-hari akhir hidupnya di rumah ini," ucap Shasmira lirih, bulu kuduknya sedikit meremang merasakan atmosfer gudang yang tiba-tiba mendadak hening. "Beliau menuliskan setiap hari dengan rasa penantian yang sama seperti kita... tapi tujuannya berbeda. Beliau menunggu akhir, sementara kita menunggu awal yang baru."

Arfan terdiam sejenak, meresapi kata-kata istrinya. Ia mengambil kalender itu dari tangan Shasmira dan meletakkannya kembali ke dalam kardus, lalu menggenggam erat jemari istrinya yang terasa sedikit dingin.

"Jangan dipikirkan, Shas," ucap Arfan tegas namun lembut. "Kakek punya takdir dan bebannya sendiri. Kita punya jalan kita sendiri. Waktu kita di sini bukan untuk menghitung akhir, tapi merayakan setiap detik kebahagiaan yang kita bangun."

Angin lembah tiba-tiba berembus kencang melintasi jendela gudang yang terbuka, mengguncang tumpukan kertas tua dan menciptakan suara gemerisik yang menyerupai bisikan halus. Sesaat, bayangan masa lalu seolah hendak menarik mereka kembali ke dalam cengkeraman ketakutan. Namun, keteguhan hati yang mereka miliki saat ini jauh lebih kuat daripada bayangan apa pun.

Lihat selengkapnya