Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #36

Hadiah Sederhana

Matahari sore menyemburkan bias jingga kemerahan di atas cakrawala barat ibu kota, memantulkan cahaya hangat yang menembus tirai tipis jendela kamar tidur utama kediaman Wiratama. Di atas meja rias kayu mahoni yang tertata rapi, sebotol parfum kecil berhias pita satin tampak bersanding manis di samping bingkai foto pernikahan mereka. Suasana di dalam kamar itu terasa jauh lebih tenang dari biasanya, lepas dari deru kesibukan korporasi maupun ancaman siber yang beberapa waktu lalu sempat mengguncang ketenangan keluarga besar Wiratama.

Hari ini menandai tepat satu tahun sejak hari pertama pernikahan kontrak mereka yang diikat oleh surat wasiat sang kakek—sebuah perjanjian dingin yang pada mulanya dipenuhi oleh rasa curiga, jarak, dan pertentangan batin. Namun, waktu telah memutar roda takdir dengan cara yang paling menakjubkan. Perjanjian di atas kertas itu kini telah lebur menjadi ikatan emosional yang murni, berakar dari cinta tulus, kepercayaan mutlak, dan air mata yang telah mereka lalui bersama.

Shasmira berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun rumah santai berwarna hijau pastel yang lembut. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai natural menutupi bahunya. Tangannya merapikan sedikit lipatan kerah gaunnya, sementara matanya memandang bayangannya sendiri dengan senyuman kecil yang tersungging di bibir. Tanggal hari ini memiliki arti tersendiri bagi mereka—bukan sekadar tanggal di kalender kantor, melainkan peringatan bulanan perjalanan cinta yang berhasil mereka rawat di tengah badai kehidupan.

Pintu kamar terbuka pelan tanpa suara, dan sosok Arfan Baskoro melangkah masuk ke dalam ruangan. Pria itu sudah melepaskan jas formal dan dasinya; kemeja putihnya tampak sedikit longgar dengan tiga kancing teratas yang sengaja dibuka, sementara lengan bajunya digulung rapi sebatas siku. Di tangan kanannya, Arfan menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya dengan ekspresi wajah yang tampak sedikit kaku namun menyiratkan senyuman geli di sudut matanya.

"Kau sudah selesai berdandan, Nyonya Wiratama?" suara bariton Arfan memecah keheningan kamar, bernada rendah namun hangat.

Shasmira berbalik perlahan, menatap suaminya melalui pantulan cermin sebelum memutar tubuhnya menghadap Arfan sepenuhnya. Sebelah alisnya terangkat menggoda. "Sejak kapan seorang CEO Grup Wiratama pulang tepat pukul lima sore tanpa ada agenda rapat darurat atau gangguan dari dewan komisaris luar negeri?"

Arfan tertawa kecil, melangkah mendekat dengan langkah mantap. "Sejak CEO tersebut menyadari bahwa ada satu hal yang jauh lebih penting daripada laporan laba rugi triwulan perusahaan."

Shasmira tersenyum lebar, menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap suaminya penuh selidik. "Oh ya? Dan apa hal penting itu, Tuan Kusuma? Jangan bilang kau mau membahas rencana renovasi galeri seniku lagi."

"Bukan galeri seni, dan bukan pula laporan perusahaan," jawab Arfan tenang. Ia berhenti tepat di hadapan Shasmira, lalu mengeluarkan tangan kanannya dari balik punggung.

Di telapak tangan besar pria itu, tergeletak sebuah kotak kecil berbentuk kubus yang dibungkus kertas kado sederhana bermotif bintang kecil, diikat dengan seutas tali rami cokelat yang diikat pita rapi. Tidak ada kemasan mewah berlapis emas atau merek perhiasan internasional berharga fantastis seperti yang biasa dibeli oleh para sosialita elit ibu kota. Kotak itu tampak begitu sederhana, hampir mirip dengan kado buatan tangan anak sekolah.

Shasmira terpaku sejenak menatap kotak kecil itu. Matanya berkedip pelan, merasakan debaran aneh yang merayap di dalam dadanya.

"Apa ini?" bisik Shasmira lirih, suaranya sedikit bergetar karena rasa penasaran bercampur haru yang mulai membuncah.

"Buka saja sendiri," balas Arfan lembut, menyodorkan kotak kecil itu tepat ke hadapan telapak tangan istrinya. "Maaf kalau bungkusnya tidak sebagus kotak perhiasan di toko langgananmu. Aku membuatnya sendiri tadi malam di ruang kerja saat kau sudah tidur."

❖ ❖ ❖

Shasmira menerima kotak kecil itu dengan kedua tangannya yang terasa sedikit gemetar. Sentuhan tali rami kasar di permukaan kotak tersebut terasa begitu nyata dan personal. Ia mengangkat pandangannya, menatap lurus ke dalam sepasang mata hitam Arfan yang memancarkan ketulusan luar biasa—tatapan mata yang dulunya begitu dingin dan mengintimidasi, namun kini dipenuhi oleh kehangatan cinta yang hanya diberikan kepada dirinya seorang.

"Kau... yang membungkus ini sendiri?" tanya Shasmira memastikan, seolah masih tidak percaya bahwa seorang pria sesibuk dan sekaku Arfan Baskoro mau menghabiskan waktu malam-malam untuk membungkus sebuah kado kecil.

Arfan mengangguk pelan, tersenyum tipis. "Ya. Buka kadonya, Shas. Jangan biarkan aku penasaran apakah kau akan menyukainya atau justru menertawakan hasil karya tanganku."

Dengan hati-hati, Shasmira menarik simpul tali rami cokelat tersebut, membuka lipatan kertas kado sederhana, lalu mengangkat tutup kotak kayu kecil di dalamnya. Di dalam kotak itu, tidak ada cincin berlian raksasa atau kalung emas bertatahkan permata mahal. Yang ada hanyalah sebuah benda mungil berwarna perak kusam berbentuk kuas lukis kecil yang dirangkai menjadi sebuah liontin kalung sederhana. Di samping liontin itu, terdapat secarik kertas kecil bertuliskan tangan rapi:

Segera setelah membaca tulisan tangan itu, pertahanan emosional Shasmira runtuh seketika. Air mata kehangatan tumpah membasahi pipinya. Ia tidak bisa menahan rasa haru yang meluap-luap di dalam dadanya. Liontin berbentuk kuas lukis itu melambangkan dunianya, sementara tulisan tangan itu adalah bukti nyata bahwa Arfan benar-benar menghargai setiap inci keberadaannya di dalam hidup sang CEO.

Arfan yang melihat air mata istrinya seketika berubah panik. Ia langsung mendekat, mengangkat tangannya untuk menghapus air mata di pipi Shasmira menggunakan ibu jarinya dengan sangat lembut.

"Hei... kenapa menangis?" tanya Arfan cemas, suaranya melembut. "Apakah model kalung itu jelek? Atau kau tidak suka kadonya? Kalau kau mau, aku bisa memesankan perhiasan berlian yang..."

"Bukan!" potong Shasmira cepat di sela isak tangis bahagianya. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat, lalu merengkuh leher Arfan erat-erat, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. "Kalung ini... ini adalah hadiah terindah yang pernah kudapatkan seumur hidupku, Arfan. Bodoh sekali kalau aku tidak menyukainya."

Arfan menghela napas lega. Ia balas merengkuh pinggang Shasmira erat-erat, mendekap tubuh istrinya seolah ingin menyatukan jiwa mereka tanpa jarak. Tangannya mengelus lembut rambut panjang Shasmira yang tergerai.

"Aku takut kau kecewa," bisik Arfan di dekat telinga istrinya. "Aku tahu aku bukan tipe pria romantis yang pandai merangkai kata-kata manis atau membelikan hadiah mewah setiap minggu."

"Kau tidak perlu menjadi pria romantis manapun, Arfan," jawab Shasmira parau, mendongakkan kepalanya sedikit untuk menatap mata suaminya. "Cukup jadi dirimu sendiri, dan cukup mencintaiku seperti ini saja, itu sudah lebih dari segalanya bagiku."

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya