Matahari sore menyusup lembut melalui celah jendela kaca besar di perpustakaan pribadi lantai dua, memantulkan bias cahaya keemasan di atas jajaran buku berbalut kulit antik. Shasmira berdiri di dekat rak kayu mahoni tinggi, memegang sebuah buku catatan tua bersampul kain beludru hitam yang baru saja ia temukan di balik tumpukan dokumen lama. Udara di dalam ruangan itu terasa sunyi dan pekat, menyimpan ribuan rahasia masa lalu yang belum sepenuhnya terkuak meskipun hubungan antara dirinya dan Arfan telah mencair pasca-kejadian di kampung halaman beberapa minggu lalu.
Langkah kaki tegap yang sudah sangat ia kenali terdengar mendekat dari ambang pintu perpustakaan. Arfan muncul dengan kemeja putih berlengan digulung sebatas siku, tanpa dasi, memperlihatkan aura seorang pria matang yang penuh wibawa namun kini tampak jauh lebih tenang dari hari-hari pertama pernikahan mereka.
"Kamu mencariku ke seluruh sudut rumah, Shas. Ada apa?" tanya Arfan lembut, menghentikan langkahnya beberapa langkah di belakang sang istri.
Shasmira menoleh perlahan, memegang buku catatan tua di tangannya dengan jemari yang sedikit gemetar. "Aku tidak sedang mencarimu, Fan. Aku hanya berniat merapikan koleksi buku di rak ini, lalu benda ini terjatuh dari sela-sela tumpukan arsip lama."
Arfan mengernyitkan dahi, melirik sekilas ke arah benda yang dipegang istrinya. Sorot matanya mendadak berubah seketika, menyiratkan kilasan ketegangan yang berhasil ia redam dengan cepat. "Itu... hanya buku catatan lama milik keluargaku. Tidak ada hal penting di dalamnya."
"Benarkah?" selidik Shasmira, tatapannya menatap lurus ke dalam mata suaminya dengan penuh rasa penasaran yang bercampur keraguan. "Karena dari sampulnya saja, benda ini tampak sengaja disembunyikan di tempat yang paling sulit dijangkau. Apakah buku ini milik perempuan yang dulu pernah tinggal di sini sebelum aku?"
Suasana di dalam perpustakaan mendadak menegang. Arfan menghela napas panjang, melangkah mendekat lalu mengambil buku catatan itu dari tangan Shasmira dengan gerakan halus namun tegas.
"Masa lalu adalah masa lalu, Shas," jawab Arfan dengan nada rendah yang berusaha terdengar tenang. "Kamu tidak perlu menggali hal-hal yang hanya akan melukai perasaanmu sendiri."
"Bagaimana aku bisa berhenti menggali, Arfan, jika aku merasa semua kehangatan dan perhatian yang kamu berikan padaku akhir-akhir ini hanyalah bayang-bayang dari apa yang pernah kamu berikan kepada perempuan lain?" seru Shasmira, suaranya bergetar menahan gejolak emosi yang selama ini ia pendam.
Arfan tertegun, menatap istrinya dengan ekspresi tidak percaya. "Apa maksudmu berbicara seperti itu? Apakah kamu meragukan ketulusanku setelah semua yang kita lewati bersama?"
"Bukan aku yang meragukan, Arfan, melainkan ketakutanku sendiri yang terus berbisik," aku Shasmira lirih, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Aku takut cinta ini... aku takut perhatianmu ini hanya sebatas angin lalu, sebuah pelarian sesaat karena kamu merasa bersalah telah mengurungku dalam sangkar emas ini."
❖ ❖ ❖
Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan perpustakaan yang luas itu. Arfan terpaku di tempatnya, menatap wajah Shasmira yang basah oleh air mata kekhawatiran mendalam. Buku catatan lama di tangannya terasa bagaikan beban berat yang mengingatkannya pada luka-luka masa lalu yang belum tuntas ia sembuhkan.
"Angin lalu?" ulang Arfan dengan suara parau, menatap tajam ke mata istrinya. "Apakah kamu benar-benar menganggap seluruh perasaanku padamu selama ini hanyalah angin lalu, Shas?"
"Aku tidak tahu, Arfan!" isak Shasmira, pertahanannya akhirnya runtuh. Ia melangkah mundur menyandarkan punggungnya pada rak buku kayu. "Setiap kali aku melihat caramu menatapku, caramu melindungiku, bayangan tentang mereka yang datang sebelum aku selalu menghantuiku. Apakah aku hanya pengganti? Apakah suatu saat nanti, ketika kamu bosan, aku akan bernasib sama seperti perempuan-perempuan itu?"
Arfan melangkah maju dengan cepat, mencengkeram kedua bahu Shasmira dengan lembut namun erat, memaksa wanita itu untuk menatap langsung ke dalam manik matanya.
"Dengarkan aku baik-baik, Shasmira," ucap Arfan tegas, setiap suku kata terucap penuh penekanan dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Mereka bukan siapa-siapa dibanding dirimu. Mereka adalah bagian dari masa laluku yang gagal, perempuan-perempuan yang datang dan pergi karena mereka tidak pernah benar-benar memahami isi hatiku. Tapi kamu... kamu adalah satu-satunya perempuan yang berhasil meruntuhkan seluruh benteng pertahananku."
"Tapi buku itu... rahasia-rahasia di rumah ini... semuanya membuatku merasa tidak aman," bisik Shasmira lemah, kepalanya tertunduk di dada suaminya.
Arfan merengkuh tubuh Shasmira erat-erat ke dalam dekapannya, mengelus rambut panjang istrinya dengan penuh kasih sayang. "Aku akui aku pria yang penuh rahasia dan memiliki cara yang salah di awal pernikahan kita. Tapi cintaku padamu bukan angin lalu, Shas. Itu adalah hal paling nyata yang pernah kumiliki seumur hidupku."
"Buktikkan padaku, Fan," pinta Shasmira di sela-sela tangisannya. "Buka semua rahasia itu di hadapanku. Jangan ada lagi dinding rahasia di antara kita, kalau kamu benar-benar ingin aku percaya sepenuhnya."
Arfan terdiam sejenak. Napas pria itu terdengar berat, menimbang-nimbang risiko besar dari membuka lembaran kelam masa lalunya yang selama ini ia kunci rapat-rapat dari dunia luar.
❖ ❖ ❖