Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #39

Aku Sedang Memperjuangkan Cintamu

Sore hari di ruang tamu rumah susun sederhana itu mendadak terasa begitu sunyi, seolah dunia di luar jendela sengaja meredam segala bising kendaraannya demi memberi ruang bagi debar dua dada yang saling berkejaran. Maya berdiri di dekat meja kayu jati, memegang sehelai kain lap yang sudah tidak bergerak sejak semenit lalu. Di hadapannya, Arfan berdiri tegak dengan tatapan mata yang memancarkan ketulusan luar biasa—tatapan yang belum pernah dilihat Maya sebelumnya selama sekian bulan mereka hidup berdampingan di bawah atap yang sama.

"Apa maksudmu berkata seperti itu, Arfan?" suara Maya terdengar bergetar tipis, berusaha mempertahankan sisa-sisa pertahanan rasionalnya di tengah badai emosi yang tiba-tiba menghempas batinnya.

Arfan melangkah mendekat perlahan, tanpa keraguan, tanpa topeng profesional yang biasa ia kenakan di hadapan publik atau keluarga besar. "Aku berbicara sejujurnya, Maya. Apa yang kulakukan selama ini, bertahan di rumah kecil ini, menghadapi segala cemoohan dan tekanan luar, bukan lagi sekadar menjalankan kewajiban perjodohan yang diatur orang tua kita."

Maya menelan ludah susah payah, merasakan tenggorokannya tercekat. "Lalu... apa?" bisiknya nyaris tak terdengar.

"Aku sedang memperjuangkan cintamu," ucap Arfan tegas, setiap suku kata terucap penuh penekanan yang menghujam langsung ke lubuk hati Maya. "Di awal, pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak tak bernyawa di atas kertas. Tapi hari demi hari, badai demi badai yang kita lewati bersama, aku sadar bahwa aku tidak lagi ingin hidup sebagai orang asing di sampingmu. Aku ingin menjadi suamimu yang sesungguhnya—pria yang mendapatkan cintamu bukan karena perjodohan, melainkan karena kau memilihku dengan kesadaran penuh."

Pernyataan itu meluncur begitu telak, menggetarkan sekujur tubuh Maya. Air mata yang sejak tadi ia tahan di pelupuk mata akhirnya tumpah begitu saja, mengalir hangat di pipinya. Kalimat itu mengubah segalanya dalam sekejap; mengubah status perjodohan yang kaku menjadi ikatan cinta tulus yang tumbuh dari abu kepedihan masa lalu.

❖ ❖ ❖

Keheningan melingkupi ruangan kecil itu selama beberapa detik sebelum Maya akhirnya mampu menarik napas dalam-dalam. Titik jepit pertama dari sore itu menghantam kesadarannya dalam wujud ketakutan lama yang bangkit kembali—ketakutan akan kerentanan diri setelah sekian lama membangun tembok pertahanan yang tinggi.

"Arfan... kau tidak sedang merayuku hanya karena kasihan melihat betapa kacaunya kita di awal pernikahan ini, kan?" tanya Maya lirih, matanya menatap tajam mencari keraguan di wajah suaminya.

Arfan menggeleng pelan, senyuman tipis namun penuh kepastian terukir di bibirnya. Ia meraih kedua tangan Maya yang terasa dingin, menggenggamnya erat-erat di antara telapak tangannya yang hangat. "Kalau aku merasa kasihan, Maya, aku sudah kabur sejak malam pertama kita bertengkar hebat soal cangkir kopi di atas meja itu. Aku tidak akan bertahan di ruangan sempit ini, tidak akan ikut membersihkan pecahan kaca saat badai melanda, dan tidak akan merasa separuh jiwaku kosong saat kau terluka."

Jantung Maya berdegup semakin kencang. Sentuhan tangan Arfan menyalurkan gelombang ketenangan yang melunturkan sisa-sisa keraguan di kepalanya. "Aku takut, Arfan," bisik Maya jujur, menyerahkan kelemahannya untuk pertama kali secara utuh. "Aku takut mencintaimu terlalu dalam, lalu takdir merenggutnya kembali seperti yang biasa terjadi dalam hidupku."

Lihat selengkapnya